بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Pujian Berlebihan
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Senin, 21 April 2025
🏢 Masjid Al Muhsinin, Wirokerten, Bantul
Melanjutkan pembahasan Kitab Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, pada bab Pujian Berlebihan, orang yang memuji melebihi batas tidaklah membuat orang yang dipuji bertambah kemuliaannya, berbeda dengan mendoakan maka akan lebih bermanfaat bagi orang yang didoakan.
أَDiriwayatkan dari Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
اَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوْا عَبْدَ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (Utusan Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ Maka seketika itu juga Nabi ﷺ bersabda,
ا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ، عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaithan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.”[5] [5] HR. Ahmad (III153, 241, 249), an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 2675). Sanadnya shahih dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.
Sebagian orang memuji Nabi ﷺ melebihi batas, mengganggap beliau memiliki sifat Rububiyah padahal beliau tidak memilikinya, sifat ghuluw bisa mengantarkan pada perbuatan syirik sebagaimana orang nashrani memuji Nabi Isa alaihissalam, hakikat memuji berlebihan tersebut bertentangan dengan prinsip ibadah kepada Allah سبحانه و تعالى
Sebagian orang beranggapan bahwa ketika Nabi ﷺ melarang dipuji berlebihan itu karena beliau ﷺ bersikap tawadhu, jika demikian maka ini bertentangan dengan firman Allah yang menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ itu berdasarkan wahyu bukan berdasarkan perasaan maupun hawa nafsu.
مَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ
Artinya Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.[Surat An-Najm Ayat 3]
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ
Artinya Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[Surat An-Najm Ayat 4]
Wallahu 'alam