بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Bersikap Terhadap Ahlul Bait
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Kamis, 26 Juni 2025
🏢 Masjid Al Hidayah, Purwosari, Yogyakarta
Melanjutkan pembahasan Buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, bab tentang bersikap adil terhadap Ahlul Bait, dalam setiap perkara pasti ada sikap ekstrim kanan maupun kiri, yang terbaik adalah berada di tengah. Ada kaum yang memusuhi ahlul bait yakni Nashibah, namun ada yang berlebihan terhadap ahlul bait mereka adalah Syiah.
Kaum Nashibah mensyariatkan pada hari Asyura pada 10 Muharam untuk berpesta, sebaliknya bagi Syiah merupakan hari berkabung mengenang kematian Husein bin Ali.
Sikap ahlus sunnah senantiasa memuliakan & cinta kepada ahlul bait, sebagaimana hadits Zaid bin Arqam, dia berkata,
امَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فِينَا خَطِيبًا، بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَوَعَظَ وَذَكَّرَ، ثُمَّ قَالَ ” أَمَّا بَعْدُ، أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ، وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ ” فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ «وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي» فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ؟ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ؟ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ، قَالَ وَمَنْ هُمْ؟ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ، وَآلُ جَعْفَرٍ، وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ؟ قَالَ نَعَمْ
“Pada satu hari Rasulullah ﷺ pernah berdiri dan berkhutbah di sebuah mata air yang disebut Khumm. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan kepada kami “Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, bahwasannya aku hanyalah seorang manusia sama seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat maut) akan datang dan dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian dua hal yang berat, yaitu Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur’an itu dan berpegangteguhlah kepadanya – beliau mendorong dan menghimbau pengamalan Al-Qur’an-. ; 2) Dan ahli baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku (beliau mengucapkan tiga kali)”. Husain berkata kepada Zaid “Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah ﷺ Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ”. Zaid bin Arqam menjawab “Istri-istri beliau ﷺ memang ahli bait. Namun, ahli bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau”. Husain berkata “Siapakah mereka itu ”. Zaid menjawab “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas”. Hushain berkata “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ”. Zaid menjawab “Ya” [HR. Muslim no. 2408 dan Ibnu Khuzaimah no. 2357].
Makna ahli bait sebagai pengikut kebaikan atau keburukan dijelaskan dalam firman Allah سبحانه و تعالى
الَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيْرُ صَٰلِحٍ ۖ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۖ إِنِّىٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ
Artinya Allah berfirman Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.[Surat Hud Ayat 46]
Kemudian Allah tabaraka wa ta’laa menjawab (إنه ليس من أهلك) dia bukanlah dari keluargamu yang Aku janjikan dengan keselamatan, karena ia tidak berada di atas agamamu dan menyelisihi jalanmu.
Wallahu 'alam