بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Berinteraksi Dengan Khulafaur Rasyidin
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Kamis, 29 Mei 2025
🏢 Masjid Al Hidayah, Purwosari, Yogyakarta
Melanjutkan pembahasan Buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah, tentang sikap kita terhadap Khulafaur Rasyidin, bahwa Allah yang menciptakan & memilih diantara hambaNya sebagai manusia yang lebih istimewa, ada para Nabi, dan selain para Nabi seperti Maryam, Khulafaur Rasyidin. Keberadaan manusia yang dimuliakan oleh manusia yang lain terbagi menjadi ;
1. Berdasarkan dalil, contohnya para Nabi, Para Sahabat
2. Berdasarkan kriteria, contohnya orang bertakwa
3. Berdasarkan fanatisme, contohnya dianggap hebat oleh kelompok (terbatas)
Kemudian ada orang-orang yang menjadi titik sengketa, yakni dimuliakan ahlus sunnah tapi dimusuhi ahlul bid'ah, dimuliakan ahlul bid'ah namun dimusuhi ahlus sunnah. Dahulu manusia titik sengketa ini menjadi standar al wala' wal bara'.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa serombongan kaum yahudi telah datang menghadap kepada Nabi ﷺ dan mereka berkata: “Hai Abal Qasim! Kami akan menanyakan kepada tuan lima perkara. Apabila tuan dapat memberitahukannya, tahulah kami bahwa tuan seorang Nabi”. Selanjutnya hadist itu menyebutkan yang isinya antara lain mereka bertanya : (1) apa yang diharamkan oleh Bani Israil atas dirinya, (2) tentang tanda-tanda kenabian, (3) tentang petir dan suaranya, (4) tentang wanita dapat melahirkan laki-laki dan dapat juga wanita, dan (5) siapa sebenarnya yang memberi khabar dari langit. Dan dalam akhir Hadist itu dikatakan mereka berkata : “Siapa sahabat tuan itu?” yang dijawab oleh Rasulullah ﷺ : “Jibril”. Mereka berkata : “Apakah Jibril yang biasa menurunkan perang, pembunuhan dan siksaan? Itu musuh kami. Jika Tuan mengatakan Mikail yang menurunkan rahmat, tanam-tanaman dan hujan, tentu lebih baik”. Maka turunlah ayat ini (S. 2 : 97) berkenaan dengan peristiwa tersebut.
[Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Nasa`i dari Bakr bin Syihab, dari Sa`id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu Abbas.]
Allah سبحانه و تعالى berfirman,;
لْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُۥ نَزَّلَهُۥ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
"Katakanlah: "Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Alquran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman."[Albaqarah: 97]
Jawaban yang jujur dalam menyampaikan kebenaran kepada umat sangat diperlukan, sangat berbeda dengan sebagian da'i yang tidak jujur ketika berdakwah, karena mencari ridha jama'ahnya.
Kisah Imam Ahmad, ketika menghadapi fitnah tentang Al Quran itu Makhluk yang diserukan oleh tokoh sesat Ibnu abi Du'at, menunjukkan sikap perseteruan ahlus sunnah dengan ahlul bid'ah, sehingga titik sengketanya adalah tokoh yang menjadi panutan.
Ahlus sunnah menisbatkan dirinya kepada islam, bukan kepada tokoh, tidak sebagaimana ahlul bid'ah yang menisbatkan kepada tokoh mereka, seperti kullabiyah, maturidiyah, asyariyah, dsb.
Wallahu 'alam