بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Prestasi Manusia yang Sesungguhnya
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Selasa, 17 Desember 2024
🏢 Masjid Nurul Ashri, Deresan, Sleman
Melanjutkan pembahasan Buku Kode Etik Pengusaha Muslim, pada bab prestasi manusia yang sesungguhnya, dimana parameter sukses itu bukan berdasarkan jabatan, status sosial, harta, ataupun kecerdasan namun parameternya adalah seberapa banyak seseorang itu bisa memberikan manfaat kepada orang lain.
Dalam kehidupan kita terkadang orang yang cerdas itu dikendalikan oleh orang kaya sekalipun orang kaya itu bodoh. Seseorang mampu mengendalikan orang lain itu di saat dia tidak butuh kepada orang lain, tidak butuh pejabat, orang kaya, orang pinter, maka orang yang hebat adalah ketika orang itu hanya bergantung kepada Allah سبحانه و تعالى
Dalam kitab Al-Mujalasah, Ad-Dinawari meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyan bin ‘Uyainah, bahwa Khalifah Hisyam bin Abdil Malik pernah masuk ke Ka’bah. Tiba-tiba, beliau mendapati Salim bin Abdillah bin Umar dalam Ka’bah.
“Hai Salim, sampaikan keinginanmu kepadaku”, kata Hisyam.“Aku malu kepada Allah untuk meminta di rumah-Nya kepada selain-Nya”, jawab Salim.
Tak lama berselang, Salim pun keluar dari Ka’bah, dan Hisyam kembali membuntutinya sambil mengingatkan,
“Nah, sekarang kamu sudah keluar, maka mintalah kebutuhanmu kepadaku” kata Hisyam.
“Hajat duniawi atau hajat ukhrawi” tanya Salim.
“Hajat duniawi tentunya” jawab Hisyam.
“Sungguh demi Allah, aku tidak pernah meminta dunia kepada yang menguasainya (Allah), lantas bagaimana aku hendak meminta kepada yang tidak menguasainya” jawab Salim.[4]
[4] Al Mujalasah wa Jawahirul ‘Ilm, oleh Ahmad bin Mirwan Ad Dinawari (no 80). Dengan sanad yang shahih.
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ
“Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708)
Manusia memiliki keunggulan masing-masing & tidak mungkin manusia menguasai seluruh bidang, namun manusia terbaik itu ibarat barang tambang
ن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال «النَّاسُ مَعَادِن كَمَعَادِن الذَّهَب وَالفِضَّة، خِيَارُهُم فِي الجَاهِلِيَّة خِيَارُهُم فِي الإِسْلاَم إِذَا فَقُهُوا، والأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَة، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ». وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم «تَجِدُون النَّاسَ مَعَادِن خِيَارُهُم فِي الجَاهِليَّة خِيَارُهُم فِي الإِسْلاَم إِذَا فَقِهُوا، وَتَجِدُون خِيَار النَّاس فِي هَذَا الشَّأْن أَشَدُّهُم كَرَاهِيَة لَه، وَتَجِدُون شَرَّ النَّاس ذَا الوَجْهَين، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَء بِوَجه، وَهَؤُلاَء بِوَجْه».
[صحيحان] - [الحديث الأول متفق عليه، ولفظه لمسلم؛ وروى البخاري أوله، وروى آخره عن عائشة -رضي الله عنها-. الحديث الثاني متفق عليه]
Dari Abu Hurariah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah - ﷺ-, beliau bersabda, Manusia ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak; orang-orang mulia pada masa jahiliah adalah orang-orang mulia pada masa Islam jika mereka memahami (agama). Ruh-ruh manusia bagaikan tentara yang berkumpul; jika saling kenal maka bersatu dan jika tidak saling kenal maka ia akan terpisah. Dari Abu Hurariah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,Kalian mendapati manusia itu seperti barang-barang tambang; orang-orang mulia pada masa jahiliah adalah orang-orang yang mulia pada masa Islam jika mereka memahami (agama). Kalian mendapati manusia pilihan dalam hal ini adalah orang yang paling benci agama ini (tadinya), dan kalian mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua; yang datang kepada satu kelompok dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah lain pula.[Sahih dengan dua riwayatnya] - [Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnya]
Wallahu 'alam