بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Mereka Kaya untuk Memberi Manfaat
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Selasa, 21 Januari 2025
🏢 Masjid Nurul Ashri, Deresan, Sleman
Melanjutkan pembahasan buku kode etik pengusaha muslim, pada bab Mereka Kaya untuk Memberi Manfaat, terutama agar tidak hanya mengumpulkan harta untuk menumpuknya namun agar hartanya itu termanfaatkan dengan beramal. Menginginkan kekayaan bukan untuk kepentingan pribadi namun untuk kepentingan umat
انَ سَعْدُ بنُ عُبَادَةَ يَرْجِعُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى أَهْلِهِ بِثَمَانِيْنَ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ يُعَشِّيْهِم.
قَالَ عُرْوَةُ كَانَ سَعْدُ بنُ عُبَادَةَ يَقُوْلُ اللَّهُمَّ هَبْ لِي حَمْداً وَمَجْداً، اللَّهُمَّ لَا يُصْلِحُنِي القَلِيْلُ، وَلَا أَصْلُحُ عَلَيْهِ
Shahabat Nabi, Saad bin ‘Ubadah itu setiap malam pulang ke rumah sambil membawa 80 orang miskin ahli Shuffah untuk diberi makan malam. Menurut Urwah di antara doa yang menjadi kebiasaan Saad bin Ubadah adalah Ya Allah berilah kepadaku pujian dan kemuliaan. Ya Allah harta yang sedikit itu tidak cocok bagiku dan aku pun tidak cocok jika hanya memiliki sedikit harta”.[Siyār ‘A’lām an-Nubalā 1276, Muassasah ar-Risālah.]
Makanan di zaman itu termasuk hal yang berharga & bermanfaat sehingga sangat layak disedekahkan, sebagaimana hadits dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, Ada seorang wanita masuk ke tempatku bersama dua anak perempuannya. Wanita itu meminta sesuatu, tetapi aku tidak mempunyai apa pun selain satu butir kurma. Aku pun memberikan kurma itu kepadanya. Lantas wanita itu membaginya menjadi dua di antara kedua anak perempuannya. Sedangkan dia sendiri tidak memakannya sedikit pun. Kemudian wanita itu berdiri lalu keluar. Tiba-tiba Nabi ﷺ masuk menemui kami lalu aku memberitahu beliau mengenai hal itu. Beliau bersabda, Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan ini, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.[Hadis sahih] - [Muttafaq 'alaih, dan ini redaksi Bukhari]
Salah satu ulama besar di masa silam, yang Allah berikan kekayaan melimpah, namun beliau tidak pernah berzakat. Karena hartanya habis sebelum genap setahun. Beliau adalah al-Laits bin Sa’d rahimahullah.
Imam Syafi’i pernah memuji beliau,
لليث بْنُ سَعْدٍ أَفْقَهُ مِنْ مَالِكٍ، إِلَّا أَنَّ أَصْحَابَهُ لَمْ يَقُوْمُوْا بِهِ
“Al-Laits bin Sa’d lebih faqih dari pada Malik, hanya saja, murid-muridnya tidak mengangkat madzhab beliau.”
Imam Ahmad juga memberikan pujian untuk beliau,
يْثٌ كَثِيْرُ العِلْمِ، صَحِيْحُ الحَدِيْثِ
“Laits, Ilmunya banyak, hadisnya shahih.”
As-Shafadi menceritakan
وَكَانَ – أَيْ اللَّيْثُ – مِنَ الكُرَمَاءِ الأَجْوَادِ. وَيُقَالُ إِنَّ دَخْلَهُ كَانَ كُلُّ سَنَةٍ خَمْسَةُ آلَافِ دِيْنَارٍ، وَكَانَ يُفَرِّقُهَا فِي الصَّلَاتِ وَغَيْرِهَا
“Al-Laits termasuk ulama yang sangat dermawan. Diceritakan bahwa penghasilan al-Laits setiap tahun mencapai 5000 dinar. Dan beliau suka membagi-bagikannya dalam bentuk hadiah.”
Wallahu 'alam