Pengantar Surat At-Tahrim
Alhamdulillah, kita masuk pada surat At-Tahrim juz yang ke-28. Surat At-Tahrim tergolong surat Madaniyah, yaitu surat-surat yang turun setelah hijrahnya Rasulullah ﷺ. Para ulama juga menyebutnya dengan surat
Lima Tuharrimu yang terambil dari ayat pertamanya:
"Ya ayyuhan-nabiyyu lima tuharrimu ma ahallallahu lak", atau dikenal juga dengan surat
An-Nabi karena diawali dengan panggilan kepada Nabi. Surat At-Tahrim yang artinya pengharaman ini, memuat teguran Allah
Subhanahu wa Ta'ala kepada Rasulullah ﷺ atas sebuah kekeliruan, dan ini sekaligus menunjukkan kemaksuman beliau. Nabi terjaga dari kesalahan dalam risalah; ketika ada kekeliruan, Allah langsung menegurnya.
Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Asbabun nuzul dari surat At-Tahrim berkaitan dengan pengharaman terhadap madu dan pengharaman terhadap budak beliau, Mariah al-Qibtiyah. Kisah pertama menyebutkan bahwa saat Rasulullah ﷺ berada di rumah Zainab binti Jahsy, beliau disuguhi minuman madu. Hal ini memicu kecemburuan Aisyah dan Hafshah. Keduanya bersepakat, siapa pun yang didatangi Nabi, akan mengatakan bahwa mulut Nabi berbau tidak enak (bau
maghafir). Nabi sangat tidak suka jika mulutnya berbau, sehingga beliau bersumpah untuk tidak lagi meminum madu tersebut.
Kisah kedua berkaitan dengan saat giliran Hafshah, namun beliau sedang pergi ke rumah ayahnya, Umar bin Khattab. Saat rumah kosong, Nabi menggauli budaknya, Mariah al-Qibtiyah. Ketika Hafshah mengetahuinya dan cemburu, demi menyenangkan hati Hafshah, Nabi pun mengharamkan dirinya untuk menggauli Mariah. Dari kedua peristiwa inilah Allah menegur beliau: "Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, demi mencari kesenangan hati istri-istrimu?"
Dinamika dan Problematika Rumah Tangga
Peristiwa ini memberikan pelajaran berharga. Rumah tangga sehebat apa pun, bahkan rumah tangga Rasulullah ﷺ, pasti ada riak permasalahan dan kecemburuan. Cemburu adalah bentuk kecintaan. Di sinilah dibutuhkan kecermatan suami untuk menyikapi keadaan dengan tepat dan bijak.
Dalam berumah tangga, pondasi utamanya haruslah ketakwaan kepada Allah. Ibarat nakhoda di lautan, suami yang mengendalikan rumah tangga dengan ketakwaan akan mendapatkan janji Allah: jalan keluar (makhraj) dari masalah, rezeki yang tidak disangka-sangka, dan kemudahan dalam urusannya. Sebaliknya, masalah yang tak kunjung kelar boleh jadi karena kurangnya ketakwaan. Orang bertakwa bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang ketika tergelincir, imannya segera menggerakkan untuk bertaubat dan beristighfar.
Kewajiban dan Tanggung Jawab Suami Istri
Laki-laki adalah pemimpin (
qawwam) bagi rumah tangganya dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Suami yang tidak peduli dan membiarkan kemungkaran serta kemaksiatan terjadi di dalam rumahnya disebut
Dayyuth, suatu sifat yang sangat dicela. Setiap kebaikan dan pengorbanan sekecil apa pun dari suami maupun istri (termasuk kesibukan istri di dapur dan merawat anak) bernilai pahala besar di sisi Allah.
Bagi istri, ketaatan kepada suami menempati posisi yang sangat agung. Nabi ﷺ menyebutkan bahwa seorang istri yang shalat lima waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, akan dipersilakan masuk surga dari pintu mana saja. Ketaatan ini seringkali menjadi tantangan terberat, namun balasannya pun sangat besar demi terwujudnya keharmonisan dan kepuasan lahir batin.
Menjaga Penampilan dan Aib Keluarga
Islam sangat memperhatikan detail keharmonisan, termasuk dalam hal kebersihan dan wewangian. Nabi ﷺ sangat menjaga kebersihan mulut dengan rutin bersiwak, terutama saat hendak bertemu istri, agar tidak tercium bau yang tidak sedap. Beliau juga sangat menyukai wewangian. Ibnu Abbas pun menyatakan,
"Aku suka berhias untuk istriku, sebagaimana aku suka istriku berhias untukku." Ini menunjukkan pentingnya saling menyenangkan fisik dan batin pasangan.
Sebagai penutup, seni mengelola rumah tangga juga mencakup menjaga aib dan rahasia. Di zaman modern ini, jangan sekali-kali mengeluhkan masalah rumah tangga di media sosial. Curhat di medsos sama dengan membuka aib keluarga ke seluruh dunia, yang hanya akan mengundang komentar liar dan memperkeruh suasana. Selesaikanlah urusan rumah tangga di kamar sendiri. Selama masih bisa diselesaikan berdua, jangan pula gampang mengadu kepada orang tua. Pertahankanlah rumah tangga Anda agar tetap menjadi Baiti Jannati (Rumahku Surgaku).