Kind: captions Language: id menyampaikan tentang adab-adab di musim hujan ini. Penting sekali bagi kita semua. Kita masuk di bulan Syakban atau bulan ee Januari ya, Januari sekarang ya ee hujan sehari-hari Januari dan kita dengarkan apa sih adab-adab ee di musim hujan itu? kita dengarkan bersama nanti kalau ada pertanyaan silakan dilayangkan di 08156877677 kepada beliau Ustaz Yulian Purnama kami persilakan tafadul maskurah. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil alamin hamdan katsiron thiban mubarokan fih kama yuhibbu waardatu wasalam ala nabina muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba'du. Para umahat sekalian, para akhwat fillah rahimani warahimakunallah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala. Allah mudahkan langkah kaki kita untuk datang ke majelis ilmu di salah satu rumah Allah yang mulia ini.
Allah berikan taufik kepada kita untuk mau belajar agama yang mana menuntut ilmu agama adalah tanda Allah Subhanahu wa taala menginginkan kebaikan kepada seorang hamba. Dan al Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala mengatakan, "Semua kebaikan yang ada di atas muka bumi ini sumbernya adalah ilmu. Dan semua keburukan di atas muka bumi ini sumbernya adalah kejahilan. Maka orang yang punya banyak ilmu, dia punya banyak kesempatan untuk mendapatkan banyak kebaikan. Dan orang yang sedikit ilmunya, apalagi orang yang enggak mau nuntut ilmu, dia akan terhalangi dari banyak kebaikan dan dia akan jatuh kepada banyak keburukan.
Nauzubillah. Ya, maka hadirnya kita di sini, banyak-banyak kita bersyukur kepada Allah, banyak-banyak kita memuji nama Allah subhanahu wa taala. Selawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada nabi kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam beserta keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang setia mengikuti sunah, mengikuti tuntunan beliau sampai yaumul qiamah dan mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya. Amin ya rabbal alamin. Ya, para umahat, para akhwat fillah rahimani warahimakumullah.
Kita akan bahas tentang adab-adab di musim hujan yang mana alhamdulillah kita sekarang sedang berada di musim hujan. Hampir setiap hari Allah turunkan hujan. Maka kita perlu ilmu apa yang harusnya kita lakukan di musim ini agar kita mendapatkan tambahan pahala. Orang yang jahil, orang yang tidak punya ilmu, maka dia melewati musim hujan biasa-biasa saja. paling cuman dapat basahnya saja, enggak dapat pahala.
Ya, tapi orang yang punya ilmu selain dia dapat basahnya hujan ya, mudah-mudahan dia dapat tambahan pahala. Nah, adab yang paling utama, yang paling utama di musim hujan adalah kita wajib yakini Allah Subhanahu wa taala lah yang menurunkan hujan. Ini adab yang paling utama. Kita wajib yakini hujan itu Allah yang turunkan, bukan yang lain. Dan Allah yang turunkan satu-satunya.
Tidak ada selain Allah yang bisa menurunkan hujan. Allah Subhanahu wa taala mengatakan, "Wahualladzi yunazzilul ghaita mim ba'di ma qonatu." Dan dialah Allah yang menurunkan hujan setelah manusia hampir berputus asa. Wansyur rahmatahu wahual waliyul hamid. Dan dialah Allah yang menebarkan rahmahnya di atas muka bumi. Dan dialah Allah yang maha penolong lagi maha terpuji.
Dalam surat Asyura ayat 28 kata Allah, "Wahualladzi yunazzilul ghaita." Dialah Allah yang menurunkan hujan. Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa taala mengatakan, "Wanazzalna minasamaai maam am mubarok." Dan telah kami turunkan dari langit air yang penuh dengan keberkahan. Kata Allah, Allah turunkan bagi kami bagi manusia air dari langit. Maka Allah yang turunkan hujan. Dalam surah Qaf ayat yang ke-9 dalam hadis yang sahih riwayat albukhari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Mafatihul ghaibi khamsun." Kunci-kunci ilmu gaib ada lima.
La ya'lam illallah. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Yang pertama la yalamu maidu al arhamu illallah. Tidak ada yang mengetahui apa yang disembunyikan di dalam rahim ya berupa anak janin. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.
Yang kedua, wala y'lamu ma fi gillah. Ma fi ghaddin illallah. Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi besok tentang masa depan kecuali Allah. W yalamu mata yati alu ahadun illallah. Yang ketiga, tidak ada yang mengetahui kapan hujan akan turun kecuali Allah subhanahu wa taala.
Yang yang keempat, wadri nafsun biayardin tamutuallah. Tidak ada jiwa yang mengetahui, tidak ada orang yang mengetahui di mana dia akan mati kecuali Allah. Yang kelima, wal yalamu mata takumus sa'atu illallah. Tidak ada yang mengetahui kapan kiamat akan datang kecuali Allah subhanahu wa taala. Ini mafatihul ghaibi.
Lima kunci-kunci ilmu gaib. Yang pertama tentang rahim. Yang kedua tentang masa depan. Yang ketiga tentang hujan. Yang keempat tentang tempat seseorang akan mati.
Tentang ajal. Yang kelima tentang hari kiamat. Ini lima kunci ilmu gaib. Salah satunya tentang hujan. Ya, maka hujan Allah yang turunkan dan Allah satu-satunya yang tahu kapan akan hujan, kapan akan tidak hujan.
Dan Allah satu-satunya yang tahu di mana akan hujan, seberapa banyak akan hujan. Satu-satunya Allah Subhanahu wa taala yang tahu. Dan para jemaah sekalian rahim warahimakumullah. Kalau kita renungkan hujan, kita akan dapati banyak tanda-tanda kebesaran Allah, tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa taala. Hujan ya walaupun dari BMKG gitu ya sudah memberikan prediksi-prediksi ramalan cuaca bahwasanya hari ini akan hujan deras ya.
Tapi terkadang atau bahkan sering kita dapati ternyata enggak hujan sama sekali. Dari BMKG sudah kasih prediksi akan hujan seharian. Ternyata seharian enggak hujan. Terkadang BMKB, BMKG mengatakan hari ini berawan, terik, tidak hujan. Ternyata hujan.
Demikian juga kita dapati hujan tidak ada yang bisa memprediksikan seberapa derasnya. Ya, jadi BMKG saja enggak tahu akan hujan ee akan turun hujan sederas apa. Ya, kemarin hari apa nih? Hari Senin ya, hari Sabtu apa hujan besar banyak banjir di Jogja ya? banyak banjir di UNY, banjir di ring road, banjir di Bantul banjir ee ada talut yang ee hanyut yang longsor di kerecak ya. Tidak ada yang memprediksi itu semua. Enggak ada yang tahu itu akan terjadi.
Luar biasa. Dan bayangkan saya pernah bahkan sering ya hujan di gurun pasir di Makkah. Di mana itu gurun pasir yang terik? Turun hujan yang deras bahkan banjir. Banjir di Mekah ya. Ini pemandangan yang sangat langka.
Banjir di gurun pasir bukan di kota Makkahnya ya. Kalau kota Makkah sering banjir di gurun pasir banjir gimana itu? Kalau bukan kebesaran Allah Subhanahu wa taala enggak mungkin bisa bikin seperti itu. Ya. Maka kalau kita renungkan hujan ini tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa taala. Kalau jenengan lewat Jalan Magelang ya, kalau pas mendung terkadang turun dari flyover Jombor itu kemudian hujan nanti sudah sampai dengkung hujannya berhenti.
Karena itu daerah yang memang curah hujannya tinggi ya antara Jombor sampai dengkungan hujan. Setelah itu enggak hujan. Pernah saya ngisi pengajian dari rumah berangkat hujan deras. Sleman hujan deras sampai Bantul. dekat UMY terang benderang.
Di atas gelap, hujan deras, di bawah terang benderang. Ini ajaib sekali gitu ya. Maka kalau kita renungkan dalam hujan ini banyak keajaiban, banyak tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa taala maka Allah satu-satunya yang menurunkan hujan. Oleh karena itu, para jemaah, wajib kita nisbatkan hujan kepada Allah. Ya, kita katakan ini hujan dari Allah, ini Allah yang turunkan.
Dan semisalnya jangan mengatakan, "Oh, ini hujan ya karena awan mendung. Ini hujan ya karena tanda ini, tanda itu." Jangan. Dan ini dilarang dalam hadis. Hadis dari Zaid bin Khalid Aljuhani radhiallahu taala anhu. Beliau mengatakan, "Qala shabina Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam shat subhi bil hudaibiyati firi samain." Suatu hari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengimami kami salat subuh di Hudaibiyah dan semalam baru terjadi hujan.
Falamanofa aqbala alanasi faqala hal tadruna maza qalbukum. Maka Nabi berkata kepada para sahabat setelah selesai salat, "Tahukah kalian apa yang baru difirmankan oleh Rabb kalian, oleh Allah Subhanahu wa taala?" Maka para sahabat mengatakan, "Allah Allah waasuluhu a'lam." Kami enggak tahu Rasulullah. Qala kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Asbaha min ibadi mukminun bi wa kafirun. Wa amma manq mna bifadlillahi warahmatihi fzalika mukminun bi kafirun bil kaukabi. Allah subhanahu wa taala baru saja berfirman kepadaku, kata Rasulullah bahwasanya di pagi hari ini ada hamba-hambaku yang beriman kepadaku dan ada yang kafir.
Adapun orang-orang yang mengatakan mutirna mtirna bifadlillahi warahmatih. Malam kami diturunkan hujan oleh Allah atas karunia Allah dan rahmat-Nya. Hujan ini dari Allah. Maka orang seperti ini kata Allah, "Mukminun bi." Beriman kepadaku. Wa kafirun bil kaukabi dan kufur kepada bintang-bintang.
W manq mna binui kad wa falika kafirun bi mukminun bil kaukabi. Adapun orang yang mengatakan, "Oh, hujan semalam turun ya karena ada tanda ini, tanda itu ya karena ada awan mendung, ada bintang ini, ada bintang itu." Maka orang seperti ini kata Allah, "Kafirun bi." Kufur kepadaku. Wa mukminun bil kaukabi dan beriman kepada bintang-bintang. Hadis sahih riwayat Muslim. Maka hadis ini menunjukkan enggak boleh kita nisbatkan hujan kepada selain Allah.
Kita katakan hujan itu dari Allah. Hujan ini dari Allah. Hujan Allah yang turunkan. Bukan awan mendung yang menurunkan, bukan bintang, bukan yang lain. Dan para ulama mengatakan menisbatkan hujan kepada benda-benda langit ini ada tiga keadaan.
Yang pertama, orang yang meyakini hujan itu benar-benar yang menurunkan itu adalah benda langit seperti bintang ya, seperti awan atau yang lainnya. Kalau tidak ada mereka enggak akan hujan gitu ya. Benar-benar merekalah yang menurunkan hujan, bukan Allah. Maka jelas ini adalah kufur akbar. Orang yang meyakini hujan itu murni dari benda langit, bukan dari Allah.
Maka jelas ini kufur akbar. Yang kedua, orang-orang yang meyakini bahwasanya Allah yang menurunkan hujan, namun bintang-bintang dan benda-benda langit punya pengaruh, punya andil. Maka ini juga termasuk syirik akbar. Termasuk syirik akbar karena menjadikan bagi Allah ada partner. Allah bisa menurunkan hujan, tapi Allah butuh bantuan dari makhluknya.
Ada yang selain Allah yang bisa menurunkan hujan. Maka ini syirik akbar. Yang ketiga, meyakini bahwasanya Allah yang turunkan hujan. Namun bintang-bintang menjadi salah satu sebab turunnya hujan. Padahal tidak ada korelasi antara bintang dengan hujan.
Maka ini termasuk syirik. Ya, termasuk syirik. Namun syirik asghar. Syirik asghar karena meyakini sebab yang bukan sebab. Meyakini sebab yang bukan sebab.
Maka kalau oleh karena itu maka kita katakan saja bahwasanya hujan itu dari Allah ya. Enggak perlu dari ini dari itu. Mungkin akan muncul pertanyaan, "Ustaz, bagaimana dengan ramalan cuaca?" Bagaimana dengan ramalan cuaca? Bolehkah kita percaya ramalan cuaca ataukah ee bolehkah kita membaca ramalan cuaca yang ada di BMKG itu? Ya, maka pertama ramalan cuaca. Walaupun namanya ramalan ya, tapi ini bukan ramalan ya. Kalau ramalan maka enggak boleh jelas.
Nabi mengatakan man atofan kahinanqohu bima yaakul faqad kafar bima unzila Muhammadin shallallahu alaihi wasallam. Siapa yang datang kepada peramal atau kepada dukun kemudian mempercayai ramalan tersebut, maka dia telah kufur. Kata Nabi, telah kufur dengan ajarannya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Hadis sahih riwayat Imam Ahmad. Ya, kalau ramalan jelas enggak boleh, tapi ramalan cuaca itu bukan ramalan.
Ya. Jadi suatu kata itu kita pahami berdasarkan urf yang berlaku. Seperti kalau di Jogja ng kalau kita ke pasar, "Bu, nyuwun tempenipun." Nyuwun tempe ya. Nyuwun artinya apa? Minta ya. Tapi apakah di sini kita sedang minta? Bukan.
Sedang apa? Sedang beli, Bu. beli tempe ya, tapi bahasanya nyuwun. Nah, maka nyuwun di sini dipahami berdasarkan huruf maknanya adalah beli, bukan minta-minta, bukan ngemis, bukan. Ya, maka demikian juga ramalan. Ramalan cuaca di sini bukan benar-benar meramal seperti dukun, bukan.
Tapi maksudnya prediksi cuaca, ramalan cuaca. Ramalan cuaca maksudnya prediksi cuaca. Bahkan orang-orang BMKG pun enggak ada yang bisa, enggak ada yang berani memastikan, "Pak, ini ramalan BMKG hari ini hujan." Ini pasti enggak, Pak? Kalau kita tanya sama orang BMKG pasti jawabannya wah enggak pasti sih. Ini cuma prediksi. Oleh karena itu, Syekh Muhammad bin Shh Al-Utsaimin rahimahullah beliau menjelaskan menyampaikan informasi tentang turunnya hujan atau prediksi turunnya hujan pada beberapa waktu berikutnya berdasarkan hasil penelitian dengan alat yang canggih untuk memprediksi kondisi cuaca sehingga ahli meteorologi bisa menyimpulkan bahwasanya cuaca mengarah pada turunnya hujan.
Informasi semacam ini tidak termasuk me klaim tahu ilmu gaib. Enggak termasuk mengklaim tahu ilmu gaib. Namun ia mengacu pada indikator lahiriah. Dan semua kesimpulan yang mengacu pada indikator lahiriah tidak disebut dengan mengetahui ilmu gaib. Kemudian beliau juga menjelaskan informasi yang disampaikan di radio tentang perkiraan cuaca bukan termasuk mengetahui ilmu gaib.
Karena itulah mereka hanya bisa mendapatkan info tentang prediksi cuaca dengan alat yang canggih yang bisa mengukur kondisi cuaca. Mereka juga tidak mampu misalnya memberitahukan akan turunan hujah setelah sekian tahun dengan curah tertentu. Karena alat yang mereka gunakan tidak mampu menjangkau keadaan yang bisa mengetahui semua kondisi cuaca. Alat ini hanya terbatas untuk waktu tertentu. Itu pun kadang meleset meskipun kadang juga benar.
Adapun ilmu gaib adalah mengetahui sesuatu yang gaib yang bersandar pada pengetahuan yang dimiliki tanpa menggunakan indikator lahiriah. Dan semacam ini tidak ada yang tahu kecuali Allah subhanahu wa taala. Maka kata beliau, membaca ramalan cuaca itu tidak masalah. Boleh-boleh saja. Karena sifatnya hanya prediksi saja, bukan pasti.
Namun sekali lagi adab yang paling pertama dan utama adalah kita yakini hujan ini Allah yang turunkan. Andaikan tidak ada awan mendung bisa enggak hujan? Bisa saja. Andaikan enggak ada bintang ini, bintang itu, tidak hujan ee ee Allah turunkan hujan. Bisa enggak? Bisa saja di daerah yang super gersang, super kering, daerah yang jarang hujan, Allah turunkan hujan bisa gak? Bisa saja. Daerah yang curah hujannya tinggi, tiba-tiba Allah tahan hujannya, enggak pernah hujan sama sekali bisa saja.
Maka Allah Subhanahu wa taala maha mampu, maha kuasa atas segala sesuatu. Dan hujan ini kata Allah Subhanahu wa taala adalah rahmah, adalah karunia. Oleh karena itu kita syukuri, Bu. Hujan itu kita syukuri. Hujan Allah yang turunkan dan hujan itu rezeki karunia.
Maka kita syukuri. Saya pernah ee pergi ke Jordania ya. Jordania juga negeri Arab yang gersang ya. Saya ketika ke Jordania itu bulan Oktober ya, teman saya yang di Jordan itu mengatakan bahwasanya ustaz ini kita hujan terakhir kali hujan itu bulan Februari. Dia dari Februari sampai Oktober enggak pernah hujan sama sekali.
Blas. Airnya dari mana? Airnya harus ngambil dari laut. Laut disuling tahu ya. Disuling bukan main suling itu bukan. Jadi airnya diuapkan, dipanaskan, kemudian nanti uapnya diambil sehingga garamnya terpisah.
didapatkanlah air yang ee tawar, tidak asin. Harus seperti itu untuk dapatkan air karena hujan enggak pernah terjadi ya. Terakhir Februari sampai Oktober enggak hujan-hujan. Bayangkan ya. Bayangkan kalau jenengan ada di kondisi seperti itu tentu sangat-sangat sulit sekali.
Makanya ketika kita hidup di negeri yang hujan itu cukup, alhamdulillah kita banyak-banyak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan tidak boleh mencela hujan. Enggak boleh mencelah hujan. Hujan meneh, hujan meneh. Hujan lagi, hujan lagi.
Heh, baru aja jemuri. Hati-hati, Bu. Jangan, jangan ngomong. Heh. Baru aja jemuri ini.
Heh ini untuk siapa? Ini hahnya kepada siapa? Yang nonkan hujan siapa? Allah subhanahu wa taala. Jenengan hah. Baru jemuri hanya kepada Allah berarti Bu. Nggih. Hati-hati jangan mencela hujan.
Disyukuri hujan itu. Nggih. Baju baru jemuri basah lagi. Gampang Bu. Tinggal jemur di dalam rumah.
jemur nanti serahkan ke orang laundri. Banyak solusinya ya. Jangan mesah-marah ya. Nah, jadi jangan mencelah hujan. Pertama hujan itu Allah yang turunkan.
Yang kedua hujan itu bagian dari pergiliran waktu. Kadang hujan, kadang tidak. Dan itu Allah yang pergilirkan. Dan Allah subhanahu wa taala ya atau Rasulullah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "La tasubbud dahro." Jangan kalian mencela waktu. Fainnallaha huwaddahru.
Karena Allahlah yang membolak-balikkan waktu. Maka mencela hujan sama saja mencela Allah subhanahu wa taala. Kemudian dari hujan, dari turunnya hujan kita mendapatkan banyak pelajaran, banyak hikmah kalau kita mau merenungkan. Ya, maka ketika hujan turun daripada misuh-misuh, daripada marah-marah, daripada mencela hujan, lebih baik kita merenung hikmah dari turunnya hujan. Dijelaskan oleh Syekh Abdul Aziz Asadhan hafidahullahu taala.
Di antara hikmah turunnya hujan yang pertama adalah tauhidullah taala. Mentauhidkan Allah Taala. Kalau kita renungkan hujan harusnya kita tambah bertauhid. Kenapa? Karena yang bisa menurunkan hujan satu-satunya hanya Allah. Enggak ada yang selain Allah yang bisa.
Enggak ada. Enggak ada jin. Enggak ada manusia. Enggak ada malaikat yang bisa menurunkan hujan. Semuanya Allah yang turunkan.
Yang kedua, husnudan billah. Kita dengan hujan kita banyak-banyak berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa taala. Oh, mungkin memang Allah turunkan hujan karena di daerah ini banyak yang butuh air. Allah turunkan hujan karena Allah tahu banyak tumbuh-tumbuhan yang butuh air, banyak hewan-hewan yang butuh air dan seterusnya. Husnuzzan kepada Allah Subhanahu wa taala.
Demikian juga hujan merupakan perumpamaan tentang kebangkitan manusia dari kuburnya nanti di hari kiamat. Ya, jenengan pernah enggak main ke hutan atau main ke gunung gitu ya, main ke hutan, main ke gunung, jenengan akan dapati berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang aneh-aneh. Padahal enggak ada yang nanami di atas gunung, di hutan-hutan belantara. Enggak ada yang nanami. Tapi tahu-tahu muncul tumbuhan ini, muncul buah itu, ya, muncul pohon yang besar-besar.
Itu adalah tanda kebesaran Allah. Ketika Allah turunkan hujan, maka tanah yang tadinya kosong, enggak ada apa-apa, muncul tumbuh-tumbuhan. Mah. Maka seperti itulah kebangkitan manusia nanti di hari akhir. Sebagaimana Allah mampu menjadikan tanah yang kering, kerontang, kosong, enggak ada apa-apa, kemudian tiba-tiba jadi banyak tumbuh-tumbuhan di sana yang bermunculan yang bangkit.
Maka Allah maha mampu untuk membangkitkan manusia dari alam kuburnya. Demikian juga turunnya hujan merupakan bantahan kepada orang-orang ateis yang mereka meyakini tidak ada Tuhan. Bahwasanya kejadian di alam semesta ini enggak mungkin karena thabah, enggak mungkin karena kebetulan. Karena Allah Subhanahu wa taala sudah mengatur alam semesta ini dengan begitu teraturnya. Pergantian siang dan malam, peradaran matahari dan bulan.
Ya, demikian juga hujan. Allah sudah atur begitu teraturnya. Ya, ada negeri yang punya dua musim. Musim hujan, musim kemarau. Ada negeri yang punya empat musim.
Ada kota yang hujan terus. Bu, asli saya dari Bogor, Bu. Bogor itu kota hujan katanya. Karena memang demikian, ya. Kami di Bogor musim ap pun hujan, musim kemarau pun hujan.
Alhamdulillah. Ini enggak mungkin ada yang bisa bikin seperti itu kecuali Allah Subhanahu wa taala. Ya, kok ada kota yang hujah terus. Makanya ini pasti pasti alam semesta ini ada yang ngatur, ada yang memperjalankan, ada yang menguasai. Maka siapa lagi kalau bukan Rabb semesta alam? Allah Subhanahu wa taala.
Pelajaran yang kelima dari hujan adalah betapa besarnya kuasa Allah Subhanahu wa taala dan betapa lemahnya makhluk. Kita ini, Bu, kalau dikasih kemarau 1 bulan aja enggak hujan, sudah susah, Bu. Ya, dikasih kemarau 1 bulan aja nanti sumur sudah kering, ya. Pompa sudah macet, enggak keluar air lagi, ya. Nanti harus ee beli airnya sudah susah.
Begitu lemahnya kita. Begitu lemahnya kita. Sebaliknya jenengan yang merasa strong nggih, merasa kuat, merasa hebat, ya jenengan naik motor tiba-tiba brus hujan langsung masuk angin gregesi ya. Tadinya merasa hebat, oh tiap hari saya nge-jym, oh tiap hari saya makan sehat ya, makanya apa namanya eh intermittent fasting. Makanya pola makannya sehat gitu ya.
Kemudian minum suplemen tiap hari, olahraga tiap hari, dikasih hujan bres masuk angin gregesi. Begitu lemahnya kita ya. Maka dari hujan kita belajar betapa lemahnya kita dan betapa besarnya kuasa Allah Subhanahu wa taala. Pelajaran yang keenam kata beliau, ginal khaliqi wa faqrul makhluqi. Betapa Allah itu maha kaya, tidak butuh kepada suatu apapun dan betapa makhluk itu maha butuh kepada Allah subhanahu wa taala.
makhluk sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa taala dan banyak pelajaran-pelajaran yang lain. Nggih. Maka kalau hujan itu luangkan waktu untuk merenung ya. Luangkan waktu untuk merenung tentang tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa taala. Ya, kata orang-orang ya kalau hujan di Jogja itu 1% air, 99% kenangan.
Wis, masyaallah ya. Jadi hujan di Jogja itu syahdo sekali. Makanya kalau hujan itu banyak merenung. Jadi merenung bukan bengong ya. Bukan bengong.
Wah, dulu saya sama suami ini jenengan ya. Saya sama suami ketemunya pas hujan. Nah, jadi tambah romantis lagi. Woh, dulu saya sama suami pernah hujan-hujanan jualan gitu. Jadi kangen masa-masa itu.
Oh, dulu saya pas mau melahirkan, pas mau anak pertama brojol itu hujan-hujanan. Jadi ingat masa-masa itu. Nah, seperti itu ya. Jadi luangkan waktu ketika hujan untuk merenung. Ya.
Kemudian para jemaah rahimani warahimakumullah. Sebelum hujan turun biasanya atau kadang-kadang didahului dengan angin kencang. Ya, didahului dengan angin kencang. Apakah ada adab yang terkait dengan melihat angin kencang? Apakah ada tuntunan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang perlu kita contoh, yang perlu kita amalkan ketika melihat angin kencang? Jawabannya ada. Dalam hadis dari Aisyah radhiallahu taala anha, beliau mengatakan, "Kana Nabiu shallallahu alaihi wasallam idza usifatirh." Biasanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika ada angin kencang maka qala beliau berdoa.
Doanya sebagai berikut ya. Allahumma inni as'aluka kohairha whair ma fiha. ursilat bih waubika minarriha wasyarri ma fiha wasyarri ma ursilat bih. Gimana, Bu? Sudah hafal, Bu? Ya, sekali lagi ya. Allahumma inni as'aluka koiroha wahairo ma fiha wairo ma ursilat bih wazubika min syarriha wasyarri ma fiha wasyarri ma ursilat bih.
Ini hadis sahih riwayat Muslim. Atau ada doa yang lain disebutkan oleh al Imam Syafi'i dalam musnadnya. Musnad asyafi'i dengan sanad yang sahih yaitu Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam berdoa, "Allahumma ij'alha riyahan wala taj'alha rihan." Allahumma ij'alha riyahan wala taj'alha rihan. Ya Allah jadikanlah angin ini angin yang teratur, angin yang baik dan janganlah jadikan angin ini angin yang ribut, angin yang merusak. Ini hadis sahih riwayat al Imam Asyafi'i dalam musnadnya.
Allahumma ij'alha riyahan wala taj'alha rihan. Nah, ini adab ketika kita melihat atau merasakan angin yang kencang. Kemudian doa terkait hujan. Doa terkait hujan itu banyak ya. Ada doa minta hujan namun kita tidak bahas sekarang ya.
Ini terkait dengan masalah salat istisqa ya. Tapi ada doa minta hujan. Kemudian ada doa ketika hujan turun. Ada doa ketika hujan turun. Kemudian ada doa ketika hujan terlalu lebat dan ada doa ketika hujan sudah selesai.
Ya, lihat betapa sempurnanya Islam ya. Jadi setiap keadaan ada doanya. Nah, sekarang kita ingin bahas dulu doa ketika hujan turun. Doa ketika hujan turun. Bagaimana, Bu? Doanya, Bu.
Allahumma shiban nafi'an. Ya, Allahummayiban nafi'an. Insyaallah sudah hafal semua nggih. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat. Allahumma shiyiban nafi'an.
Namun ada lafaz yang lain yang bisa diamalkan yang lafaznya juga sahih yaitu Allahummayiban hanian hanian ya ha tadi kata ustazah dari kerongkongan yang digambar rokok yang bolong itu ya hanian bukan hanian hanian ya Allah turunkanlah hujan yang menyenangkan ya kalau Kalau punya anak namanya Hani bagus ya, anaknya senang terus nanti ya. Allahumma shiban hanian. Atau bisa juga ya atau dua dua lafaz ini saja ya. Ada lafaz yang lain tapi dua ini saja. Allahumma shihiban nafi'an atau Allahumma shohiban hanian.
Ini doa yang diucapkan ketika hujan turun. ketika hujan turun. Kemudian doa yang diucapkan ketika hujan terlalu besar. Ketika hujan terlalu besar, bagaimana doanya? Allahumma hawalaina la alaina. Allahumma hawalaina la alaina.
Ini sebagaimana dalam sahih Bukhari Muslim. Ya Allah turunkanlah hujan sekitar kami bukan di atas kami. Allahumma hawaina. Ya Allah turunkan hujan di atas kami eh di sekitar kami. La alaina bukan di atas kami.
Artinya ya Allah ee turunkanlah hujan kepada kaum lain yang lebih membutuhkan. Ini doa ketika hujannya terlalu deras. kita khawatir nanti banjir atau nanti longsor ya atau ada bahaya-bahaya yang lain. Doanya Allahumma hawaina la alaina. Dan diulang-ulang Bu, diulang-ulang ya sampai akhirnya Allah pindahkan hujannya ke tempat yang lain.
Allahumma hawalaina la alaina. Allahumma hawalaina la alaina. Allahumma hawalaina la alaina. Kemudian ada doa yang diucapkan ketika hujan sudah selesai sebagaimana dalam hadis tadi yaitu mutirna bifadlillahi warahmatihi. Mutirna pakai tho ya.
Mutirna bifadlillahi warahmatihi. Kami diturunkan hujan oleh Allah dengan karunia-Nya dan rahmat-Nya. Ini hadis sahih riwayat Muslim. Itu doa yang dibaca kalau hujan sudah selesai. Mutirnya bifadlillahi warahmatihi.
Nah, ini doa ketika hujan turun, doa ketika hujan terlalu deras dan doa ketika hujan sudah selesai. Monggo dihafalkan nanti, Bu. Nggih. Dan ini ada di kitab-kitab atau di buku-buku zikir dan doa dihafalkan. supaya hujan itu jenengan dapat tambahan pahala.
Enggak cuma dapat basahnya, tapi juga dapat tambahan pahala. Berdoa ketika hujan dapat tambahan pahala. Hujan deras berdoa dapat tambahan pahala. Hujan selesai dapat tambahan pahala. Demikian juga ketika hujan turun maka dianjurkan untuk memperbanyak doa apapun.
memperbanyak doa apapun yang jenengan inginkan dari Allah Subhanahu wa taala. Karena ketika turun hujan itu waktu mustajab doa. Waktu mustajab doa. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Tintani ma turaddani." Ada dua waktu yang doa ketika itu tidak tertolak. Ketika itu doa tidak tertolak.
Yang pertama, aduau indan nida. Berdoa ketika azan sedang berkumandang, bukan setelah azan. Ya, setelah azan juga ya. Setelah azan dalam hadis lain ada bainal azani wal iqomah duaun la turad. Antara azan dan iqamah ada doa yang tidak tertolak.
Tapi ketika azan juga, ketika azan juga itu waktu mustajab doa ya. Kalau kata orang tua kita zaman dahulu, "Heh, lagi azan nih, hati-hati ngomong jangan sembarangan." Nah, jadi maksudnya lagi azan ini waktu mustajap doa. Nah, jangan sampai nanti mendoakan keburukan buat anaknya ya nanti mustajab. Jangan. Jadi ketika Adam berkumanda itu pun waktu mus doa.
Demikian juga yang kedua watahtal mator. Dan ketika hujan turun ada dua waktu yang mustajab doa kata Nabi. Yang pertama ketika azan berkumandang. Yang kedua ketika hujan turun. Hadis riwayat al-Hakim.
Ya, walaupun hadis ini diperselisihkan derajatnya, sebagian ulama mendhaifkan. Namun yang raji wallahuam hadis ini sahih disahihkan oleh Syekh Albani dalam Sahih Aljami. Hadisnya sahih tentang mustajabnya doa ketika turun hujan. Ya. Maka ketika turun hujan ya apakah di rumah, apakah di masjid atau di mana pun angkat tangan berdoa.
Ya Allah berikan saya rezeki yang berkah, berikan saya rezeki yang melimpah. Ya Allah sembuhkan penyakit saya. Ya Allah berikan saya anak yang saleh, berikan hidayah kepada suami saya misalnya ya. Ya Allah berikan anak-anak saya kesalehan ya mudahkan urusan mereka dan seterusnya ya. berdoa kepada Allah subhanahu wa taala di waktu hujan turun, waktu mustajab doa itu.
Kemudian di antara adab ketika hujan turun adalah membuka sebagian anggota badan sehingga terkena sedikit air hujan membuka sebagian anggota badan sehingga terkena sedikit air hujan. Sebagaimana ini dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan juga para sahabat. Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiallahu taala anhu, ia mengatakan, "Ashobna wahnu maa rasulillahi sallallahu alaihi wasallam matarun." Suatu hari kami sedang bersama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, tiba-tiba turun hujan. Qala fahasaro Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam alaihibahu. Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam itu menyingsingkan pakaiannya.
Hatta asobahu minal matori. Sehingga sebagian anggota badan beliau ada yang terkena air hujan. Faqulna ya rasulullah lima sh. Maka kami tanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu?" Ya, ketika hujan maka Nabi singsingkan dengan baju. Nabi buka peci sehingga lengan baju singsingkan sehingga ada lengan yang kena air hujan, ada kepala yang kena air hujan seperti itu.
Sebagaimana dicontohkan dipraktikkan ee oleh Syekh Muhammad bin Utsaimin ya. Beliau sampaikan caranya ya. Caranya peci dilepas ya, lengan disingsingkan sehingga ada bagian tubuh yang kena air hujan sedikit saja ya. Maka para sahabat heran dan bertanya Rasulullah, kenapa Anda lakukan seperti itu? Maka qala liannahu haditu ahdin birabbihi taala. Karena hujan ini baru saja diciptakan oleh Allah Taala.
Masih fresh gitu ya. Masih baru hujannya, berarti masih banyak keberkahannya. Hadis sahih riwayat Muslim ya. Ini sunah Nabi. Nabi ajarkan demikian ya.
Ketika hujan pertama kali turun, maka kita buka sebagian badan ya. Kemudian dikenakan air hujan sedikit saja. Dalam hadis yang lain dari Anas bin Malik juga tentang istisqanya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi salat istisqa ya. Kemudian ee Nabi sallallahu alaihi wasallam memimpin salat istisqa ya.
Dan kemudian Nabi khotbah di atas mimbar. Nabi berdoa di atas mimbar namanya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi minta hujan kepada Allah subhanahu wa taala hujannya langsung turun karena doa beliau mustajab. Maka kata Anas bin Malik, "TMA lam yanzil an minbarihi hatta roitul mathayatihi." Ketika Nabi berdoa di atas mimbar, hujan turun dengan deras dan Nabi buka kepalanya. Dan kata Anas, "Nabi tidak turun dari mimbar sampai aku melihat air hujan itu membasahi jenggotnya." Jadi, beliau sengaja diam sebentar, ya.
agar ee kepala beliau kena air hujan sampai air jenggotnya ee sampai air hujannya menetes dari jenggot beliau. Ini hadis sahih riwayat Albukhari. Nah, tapi ini bukan dalil tentang hujan-hujanan ya. Ini ada orang bikin kesimpulan. Oh, berarti di antara sunah Nabi adalah hujan-hujanan.
Bukan ya. tadi kata Nabi, liannahu haditu ahdin birabbihi. Hujat ini baru saja baru saja Allah ciptakan. Berarti ini dilakukan ketika baru awal turun hujan. Ketika hujannya baru start, baru mulai ya.
Maka kita buka sedikit anggota badan, kemudian kepala kemudian dikena air hujan karena itu berkah. Setelah itu langsung masuk. Langsung masuk bukan hujan-hujanan. Tidak disebutkan oleh Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah basah kuyub, Rasulullah hujan-hujanan. Ya gak.
Jadi hanya sebentar saja, hanya dikenakan sebentar saja ya. Karena ada ibu-ibu ya ee anaknya dibiarkan hujan-hujanan ya. Ketika hujan turun deras anaknya main di luar lari-larian, petak umpet kadang-kadang ya. Kemudian, oh ini kan sunah Nabi. Sunah Nabi dari mana? Nabi tidak ngajarkan hujan-hujanan, tapi hanya menyingkap sebagian anggota badan.
Ketika awal turun hujan, setelah itu langsung masuk lagi. Bahkan dilakukan oleh Abdullah bin Abbas ya, sebagaimana riwayat dari Ibnu Abi Mulaikah. Kata Ibnu Abi Mulaikah, kana ibnu Abbasin radhiallahu taala anhuma idrat asamau. Abdullah bin Abbas ketika turun hujan yaakulu dia mengatakan, "Ya jariah ukhruji sirji ukhruji thiabi. Wahai pembantu, tolong keluarkan tempat dudukku.
Tolong keluarkan pakaian-pakaianku. Ya, hujan malah pakaian dikeluarkan. Ya, kalau ibu-ibu kan hujan jemurannya diambil ya. Kalau Ibnu Abbas, keluarkan pakaianku, keluarkan kursiku. Waakulu.
Dan dia mengatakan wazzalna minasama maan mubaraka. Di surat Qaf ayat 9. Dan Allah turunkan hujan dari langit berupa air yang penuh dengan keberkahan. Ini disebutkan oleh Al Imam Albukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad. dan disahihkan oleh Syekh Albani sampai Abdullah bin Abbas ingin pakaiannya, ingin kursinya terkena air hujan ketika awal turun.
Nah, setelah itu sudah cukup ee terkena sedikit air hujan langsung dimasukkan lagi ya. Jadi bukan bukan hujan-hujanan ya, bukan dibasahi. Cuma sedikit saja kena sedikit langsung masuk lagi. Dan untuk ibu-ibu tentunya Bu yang seperti ini dilakukan kalau tidak ada laki-laki ya menyingsingkan lengan baju. Lengan itu aurat Bu ya.
Lengan ini aurat tidak ada khilafiah dari pondak sampai pergelangan tangan ini enggak ada khilafiah. Empat mazhab. Mazhab mana pun mengatakan itu aurat ya. Coba yang sekarang auratnya ee lengannya masih kelihatan langsung tutup Bu. Eh, langsung sibuk nutup.
Jadi lengannya jam kelihatan Bu ya. Ini kadang-kadang ibu-ibu ngapunten nggih. Lengan bajunya sudah panjang tapi ketika nerima telepon melorot lengannya. Melorot Bu kamu ini contohnya ini handphone ya. Lengannya sudah nutup.
ketika nelepon, "Halo, Bi. Di mana, Bi?" Melorot lengannya. Ini kelihatan ini. Ini aurat, Bu. Enggak boleh karena laki-laki.
Dijaga. Ya, solusinya gimana? Solusinya ya silakan apakah pakai lengan baju yang ada karetnya atau dilapisi de atau yang ada cantolannya. Intinya jangan sampai kelihatan lengan. Lengan itu aurat tidak ada khilafiah sama sekali. enggak ada khilafiah.
Nah, maka untuk menerapkan sunah tadi ya pas di rumah ya, pas di rumah atau pas ee di ee tempat yang isinya akhwat semua gitu ya. Ya. Kemudian di antara adab ketika hujan adalah dibolehkan bagi laki-laki untuk tidak pergi ke masjid ketika hujan. Dibolehkan bagi bapak-bapak ya, anak laki-laki kita. Laki-laki pokoknya laki-laki boleh untuk tidak salat di masjid ketika hujan.
Bahkan dibolehkan untuk tidak ke masjid ketika ada kekhawatiran hujan. Hujannya belum, tapi langitnya sudah gelap. Ini kalau saya ke masjid nanti pas tengah-tengah salat kok beres hujan pulangnya susah. Nah, maka boleh untuk salat di rumah walaupun belum hujan. Dalam hadis dari Abdullah bin Abbas radhiallahu taala anhuma, beliau mengatakan, "Jamaa Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam bainaduhri wal asri." Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah menjamak salat di masjid antara zuhur dan asar wal maghribi wal isyai dan antara magrib dan isya bil Madinah di Madinah bukan sedang safar ya.
Nabi menjamak salat di Madinah, di kampung sendiri, di rumah sendiri eh di masjid maksudnya antara zuhur dan asar atau antara magrib dan isya. min ghairi khaufin wala mathorin. Padahal ketika itu tidak ada khauf, tidak ada kekhawatiran, dan tidak ada hujan. Hadis sahih riwayat Muslim. Kata Abdullah ibn Abbas, "Enggak ada hujan, enggak ada kekhawatiran, tapi Nabi menjamak." Berarti Abdullah bin Abbas memahami kalau ada hujan Nabi menjamak itu sudah biasa.
Kalau ada kekhawatiran Nabi menjamak salat itu sudah biasa. Maka adanya hujan dan juga adanya kekhawatiran ini membolehkan juga untuk tidak salat ke masjid ya. Adanya hujan dan adanya kekhawatiran. Dalam hadis dari Abdullah bin Umar radhiallahu taala anhuma, ia mengatakan, "Kana yamuru muadzinan yuadinu yaqu alahi." Nabi pernah memerintahkan muadin untuk berazan. Kemudian Nabi perintahkan nanti di ujungnya ya, di ujungnya itu artinya setelah Allahu Akbar Allahu Akbar lailahaillallah.
Ah setelah itu tambahkan ala shu fi rihalikum. Ala shu fi rihalikum. Dua kali. Salatlah di rumah kalian. Salatlah di rumah kalian.
F lailatil baridati almutirati. di malam yang dingin atau di malam yang sedang hujan. Nabi perintahkan ketika sedang hujan agar lafaz lafaz azannya ditambahkan. Ala shu fi rihalikum. Ala shu fi rihalikum.
Hadis Bukhari Muslim. Dalam riwayat dari Abdullah bin Abbas, beliau mengatakan, "Qimuadinihium fiumin matirin." Nabi perintahkan kepada muadzinnya di hari ketika sedang hujan. Qulta ashadu alla ilahaillallah wa asadu anna ashadu anna muhammadan rasulullah. Kalau kamu sudah mengucapkan asyhadu alla ilahaillallah dua kali asyhadu anna muhammadar rasulullah maka fala taqul hayya alas shaya alas shah dul tapi katakan qul shu fi buyutikum shu fi buyutikum salatlah di rumah-rumah kalian hadis bukhari muslim ya maka menambahkan lafaz ini shu fi rihalikum atau shu Ini tempatnya ada dua ya. Boleh sebelum hayya alah, boleh di ujung di akhir setelah lailahaillallah.
Nah, tapi intinya adalah ini semua perintah untuk salat di rumah. Shallu fi buyutikum, salatlah di rumah kalian. Shallu fi rihalikum, salatlah di rumah kalian. Sama ketika hujan turun. Berarti boleh ya laki-laki boleh salat di rumah kalau hujan turun atau ada kekhawatiran mau hujan ya.
Namun kata Alhafid Ibnu Hajar al-Asqalani, ketika hujan turun maka para bapak-bapak, para laki-laki boleh untuk salat di rumah, tidak salat jemah di masjid. Tapi yang paling utama tetap ke masjid itu lebih utama ya. Bolehnya boleh enggak dosa, enggak tercela. Tapi kalau dia tetap ngoyo, tetap struggle untuk salat di masjid, maka itu lebih besar pahalanya. Kata alhafiz Ibnu Hajar rahimahullah, asalatu fir rihali ruksatun liman arada anataraks.
Salat di rumah ketika hujan itu keringanan bagi orang yang mau mengambilnya. Wna halumma ilah nudiba liman arada an yustaqmila al fadilata walau bihamlil masyaqqah. Dan dalam hadis Nabi mengatakan halumma ilasah. Ayo menuju salat. Dalam hadis ini ada faedah tentang dianjurkannya untuk tetap menyempurnakan keutamaan.
Maksudnya datang ke masjid walau harus menghadapi kesulitan yang ada. Walau bihamlil masyaqqah. Walaupun harus bersusah-susah. Jadi kalau dia tetap makso ee ke masjid itu lebih utama. Kata Syekh Abdul Karim Alkudhair yang ulama besar di Saudi Arabia.
Beliau mengatakan, "Allu wal azimatu hayya alah hayya alal falah. Lakin man yasuqu alaihi irtikabul azimah falahu ruksatun an yusolliya fi rahlihi." Asalnya berusaha untuk salat di masjid itu lebih utama berdasarkan lafaz hayya alas shah. Namun bagi yang mendapatkan kesulitan jika ia berusaha untuk menuju salat jemah maka ia mendapatkan keringanan untuk salat di rumah. al rihalil barati fal alqadidu alqin boleh dia salat di rumah berdasarkan lafaz alu firal salatlah di rumah di malam yang hujan atau malam yang dingin maksudnya di malam yang dingin yang ekstrem atau hujan yang deras yang membuat orang sulit untuk pergi untuk salat. Jadi kata beliau, orang yang ee ee tetap tetap datang ke masjid itu lebih utama ya.
Orang yang tetap datang ke masjid itu lebih utama. Apa patokan hujan yang membolehkan untuk salat di rumah? Maka patokannya adalah masyaqqah. Patokannya adalah masyaqah kesulitan. Kalau jenengan ini bapak-bapak nggih. Bapak-bapak dari rumah ini hujan.
Hujan. Hujan itu kan ada tingkatannya ya. Ada keremun. Nah, tahu keremun. Keremun tuh butirannya kecil-kecil.
Ada gerimis. Nah. Nah, pokoknya hujan itu bertingkat-tingkat ya. Kalau Bapak-bapak dari rumah ke masjid ketika hujan, kemudian kira-kira kalau dia ke masjid akan mendapatkan kesulitan. Baik kesulitan berupa perjalanannya ya kadang-kadang hujannya ee tajam-tajam airnya ya kena muka tus tus tes gitu ya.
Kayak di totok wajah gitu ya. Atau kesulitan dari sisi bajunya basah ya. Ketika sampai masjid bajunya basah dingin, itu kesulitan. Maka ee ketika itu yang terjadi boleh salat di rumah kalau ada kesulitan. Tapi kalau hujannya cuman kermun tadi sampai masjid enggak ada masalah, baju enggak basah, enggak ada kesulitan sama sekali ya, maka tetap wajib salat di masjid ya.
Tetap wajib salat di masjid kecuali kalau dia khawatir ya, walaupun keremun tapi langitnya gelap. kayaknya setelah keremun ini akan hujan deras, maka dia boleh salat di rumah karena kekhawatiran ya, bukan karena hujannya. Nah, kalau hujannya deras atau ada masyaqah ya boleh salat di rumah dan lebih utama salatnya berjamaah di rumah bersama istrinya. Ya. Jadi ketika salatnya di rumah ya jemahlah jangan sendiri-sendiri.
Sudah salat di rumah salatnya sendiri-sendiri. Ini ada masalah apa ini rumah tangganya gitu ya. Nah, jadi laki-laki ee suaminya jadi imam, istrinya jadi makmum ya. Ee posisinya lurus depan belakang. Suaminya depan, istrinya belakang.
Jadi bukan sampingan dan juga bukan apa namanya di samping kanan tapi depan belakang. Kemudian ketika hujan turun dibolehkan untuk menjamak salat di masjid bagi orang-orang yang ada di masjid. Ya, bagi orang yang ada di masjid. Adapun bagi orang yang ada di rumah enggak boleh. Bagi orang yang ada di masjid pas salat di masjid kok hujan beres.
Maka boleh menjamak antara zuhur dengan asar atau antara magrib dengan isya. Ya. Sebagaimana tadi hadisnya Abdullah bin Abbas. Nabi pernah menjamak salat di Madinah. Di Madinah enggak enggak safar, enggak ke mana-mana.
Ada di rumah sendiri tapi ee ada di masjid ya. Tapi Nabi menjamak salat karena adanya kesulitan. Al Imam Syafi'i rahimahullah mengatakan, "La yajmau illa man khora min baitihi ila masjidin yajmau fihi." Enggak boleh menjamak salat kecuali bagi orang yang keluar dari rumahnya untuk salat di masjid. Jadi kalau salatnya di rumah ya maka jangan menjamak. salat di waktu masing-masing.
Bagi orang yang di masjid ya, dia salat magrib kemudian hujan beres, maka boleh dia jamak dengan salat Isya ya. Magrib, habis selesai langsung isya. Dan menjamak salat itu enggak boleh ada jeda, ya. Jadi setelah salam, salat magrib kemudian langsung bangun, imam umumkan jemaah setelah ini kita akan jamak dengan isya. Dan yang memutuskan ini adalah imam.
Yang memutuskan jamak atau tidak imam. Imam langsung bangun para jemah. Kita informasikan bahwasanya ee kita akan menjamak sekalian dengan salat Isya karena ini hujan. Dan di antara sunah Nabi adalah Nabi menjamak salat ketika hujan di masjid. Maka setelah ini langsung kita ee salat Isya empat rakaat ya.
Tidak diqasar ya. 4 rakaat. Jadi tidak pakai zikir dulu setelah magrib selesai. Enggak pakai zikir setelah salat, langsung naik, langsung bangun, langsung salat Isya. Nanti ketika salat Isya datang, ketika waktu isya datang, enggak perlu salat lagi.
Enggak perlu salat lagi. Walaupun hujan sudah berhenti. Walaupun hujan sudah berhenti, enggak perlu salat lagi. Karena sudah salat dan sudah sah. Ya, bagaimana kalau setelah magrib di masjid ada pengajian, ada kajian.
Apakah boleh menjamak? Jawabannya enggak boleh menjamak. Karena inti dari menjamak adalah adanya masyaqqah. Ya, kalau memang setelah magrib ada pengajian, berarti kan setelah magrib enggak ke mana-mana, enggak pulang, enggak ke mana-mana di masjid sampai isya. Maka tidak ada kebutuhan untuk menjamak. Ya, kalau setelah magrib ada pengajian.
ya. Kemudian sedikit kita tambahkan ya tentang doa yang kita amalkan, yang kita baca ketika mendengar petir ya. Karena terkadang ketika hujan itu disertai dengan petir. Bagaimana Bu doanya Bu? Harusnya sudah hafal ya doanya. Subhanalladzi yusabbihur'du bihamdihi wal malaikatu min khifatih.
Ya subhanalladzi yusabbihur'du bihamdihi wal malaikatu min khifatih. ini ayat Qur'an dan juga disebutkan dalam hadis riwayat riwayat albukhari dalam al-Adabul mufrad ya tentang ini dibaca ketika ee id samiar'ada ketika Nabi mendengar petir. Sekali lagi subhanalladzi yusabbihur'du bihamdihi wal malaikatu minifatih. Ada doa yang lain. Ada doa yang lain dalam hadis dari Ibnu Umar radhiallahu taala anhuma kata beliau, "Ana Nabi sallallahu alaihi wasallam kana id samiada waswaqo." Nabi sallallahu alaihi wasallam kalau beliau mendengar petir atau halelintar qala beliau mengatakan Allahumma la taqtulna bighobika wala tuhlikna biadzabika waafina qobla dzalika.
Allahumma la taqtulna bighobika wala tuhlikna biadzabika waafina qobla dzalika. Ini doanya ada polanya kayak pantun ya. Ini juga disebutkan oleh Albukhari dalam kitab al-adabul Mufrad dengan sanad yang sahih. Disahihkan oleh Al Imam Azzahabi, Al-Albani dan yang lainnya. Nah, ini doa yang kita baca ketika ee petir ya.
Jadi biasakan ketika mendengar petir, Bu, berdoa ya. Jangan malah apa? Malah latah ya. Jir kemudian buj buset buj buset malah ngomong enggak jelas gitu ya. Jangan biasakan lisan itu berzikir ya minimal ya subhanallah ya karena ucapan doa tadi subhanalladzi yusabbihur'du bihamdihi wal malaikatu min khifati ini ucapan tasbih ya artinya ee maha suci Allah yang mana petir itu bertasbih untuk Allah. Petir bertasbih untuk Allah dengan memujinya.
Demikian juga para malaikat bertasbih untuk Allah karena takutnya mereka kepada Allah. Jadi petir itu adalah tasbih. Petir itu suara tasbih. Adapun doa yang kedua tadi, Allahumma la tak taqtulna bighobika. Ya Allah, jangan Engkau matikan kami dengan murkamu.
W tuhlikna biadabika. Jangan engkau matikan kami dengan azabmu. Waafina qoblaalika. dan selamatkanlah kami sebelum itu, selamatkanlah kami sebelum mati. Kemudian hakikat dari petir disebutkan dalam beberapa hadis tentang hakikat petir.
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu taala anhuma. Kana sami Abdullah bin Abbas ketika mendengar suara petir q beliau mengatakan subhanalladzi sabah lahu. Maha suci Allah yang mana petir bertasbih untuknya. Innar malakun yan bil ghaibi bil ghaiti kama yanqu arraiya kama yanqu arrihanamihi. Kata Abdullah bin Abbas, "Sesungguhnya petir itu adalah malaikat yang sedang berteriak untuk menghalau untuk apa? Mengarahkan hujan sebagaimana seorang penggembala yang sedang mengarahkan kambingnya.
Hadis riwayat Albukhari dalam Al-Adabul Mufrad disahihkan oleh Syekh Albani. Hadisnya sahih ya. Namun ini perkataan Abdullah bin Abbas bukan perkataan Nabi. Tapi perkataan Abdullah bin Abbas, perkataan sahabat. Kalau bicara tentang perkara gaib maka ini fi hukmil marfu.
Hukumnya marfu. Artinya ini berasal dari Nabi. Enggak mungkin Abdullah bin Abbas itu rekor-rek sendiri, mengarang sendiri dalam masalah gaib. Enggak mungkin. Pasti ini Nabi yang ngasih tahu ya.
K. Jadi kata Abdullah bin Abbas, petir itu malaikat sebetulnya yang dia sedang mengarahkan, sedang menggembala hujan-hujan ke arah yang lain, ke satu arah, ke arah yang lain. Sebagaimana seorang penggembala sedang menggembalakan kambingnya. Itu gimana maksudnya, Ustaz? Ya, itu memangnya hujan itu seperti kambing? Ini kita enggak perlu bayangkan, ya. kita wajib imani saja dan kita enggak perlu membayangkan, enggak perlu mendeskripsikan, enggak perlu kita imani bahwasanya ee petir itu adalah malaikat yang sedang menggembala hujan, yang sedang mengarahkan hujan.
Adapun bagaimana kaifiahnya, bagaimana gambarannya, bagaimana hakikatnya? Wallahuam. Dalam hadis yang lain dari Nabi sallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, "Arra'du malakun minal malaikati muwakalun bishabi." Petir itu adalah salah satu malaikat Allah yang diperintahkan untuk mengatur awan, untuk menghalau, untuk menggembala awan. biyadihi fiyadihi mikroquun minarin yuzajjiru bihi asahaba wasuta alladzi yusma minhu zajruhu dan di tangannya ada cambuk kata nabi di tangan si malaikat ini ada cambuk dari api yang digunakan untuk menghalau untuk mengarahkan awan-awan dan suara petir yang terdengar itu adalah suara cambukan Bukan awan tadi cambukan yang dicambuk kepada awan tadi. Zajarahu hatta yantahiya ila haitu amarahu. Ketika si malaikat ini sedang menghalau, sedang mengatur awan sampai akhirnya awan tersebut sampai pada tempat yang Allah perintahkan.
Hadis riwayat Imam Ahmad ya, disahihkan oleh Syekh Ahmad Syakir. Hadisnya sahih. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Petir itu adalah salah satu malaikat Allah yang diberikan tugas untuk mengatur awan-awan, mengatur hujan dan di tangannya ada cambuk dari api." Ya, jangan bertanya, "Ustaz, saya pernah naik pesawat. Saya lihat petir enggak ada tuh malaikatnya. Ya, ini perkara gaib, Bu, ya.
Perkara baik. Perkara gaib. Ee kita jangan berusaha untuk mendeskripsikannya ya. Jangan juga membayangkannya ya. Dan juga jangan meragukannya tentunya ya.
Seperti orang-orang Muktazilah, orang-orang aqlaniun. Kita mengimani adanya alam kubur. Adanya alam setelah kita mati, alam kubur. Tapi orang-orang aqlaniun, orang-orang muktazilah mengatakan, "Mana mana alam kuburnya?" Ini kita gali kuburan cuman 1* 2 m. Enggak ada itu sejauh mata memandang.
Enggak ada itu malaikat munkar nakir. Ini kata orang aqlaniyun ya. Maka jangan sampai seperti mereka ya. Ada hadis sahih bicara tentang perkara gaib kita imani. Kalau itu datang dari Nabi sallallahu alaihi wasallam dan sahih, maka ya alal alri wal ain kita percaya 100% samna ya.
Kita tunduk kepada beliau ya. Ini mungkin beberapa adab yang bisa kita sampaikan ya tentang ee apa saja yang bisa kita yakini dan juga kita amalkan. ketika musim hujan. Sebelum kita akhiri dipersilakan jika ada pertanyaan. Baik, Jaka Leher, terima kasih banyak Ustaz atas nasihat-nasihat yang telah disampaikan.
Sungguh ilmu yang sangat bermanfaat bagi kita semua. Dan sebelum kita bacakan beberapa pertanyaan, ada titipan pertanyaan dari saya pribadi. Ee menyangkut masalah hujan itu tadi, Ustaz. Ada saya pernah ditanya orang. Iya.
Ee benar benarkah seperti tadi yang disampaikan Ustaz kalau hujan mandi-mandi hujan itu tadi ya. Ee tapi pertanyaannya itu benarkah ee mandi-mandi hujan bersama pasangan itu mengakibatkan atau menyebabkan bisa hamil? Nah, ini gak ini pertanyaan serius. sini [tertawa] karena ini sudah lebih dari dua ya, ada yang bertanya seperti itu. Waduh, saya tunggu dulu saya tanyakan sama Ustaz Yulian Purnama aja dulu. Jadi ee mungkin suami istri bukan di tempat yang terbuka tentunya, artinya di rumah sendiri, di halaman belakang rumah mungkin hujan-hujanan bareng gitu.
itu bisa mengakibatkan yang belum punya anak bisa segera mendapatkan keturunan atau anak. Mohon penjelasan dari Ustaz. Iya, bisa ya hujan-hujanan sama pasangan bisa hamil kalau setelah itu masuk rumah, masuk kamar ya dan terjadilah apa yang terjadi gitu kan. Tapi wallahuam kalau maksudnya adalah ee orang yang sudah lama, pasangan yang sudah lama tidak dikaruni anak gitu ya. Kemudian apakah di antara cara supaya dapat anak adalah dengan cara hujan-hujanan? Ya, maka wallahuam ini tidak ada dalilnya.
Tidak ada dalilnya keyakinan seperti ini. Yang ada adalah istigfar. Mungkin dia salah paham terhadap ayat istigfar itu. Iya. Ya.
Di kisah Nabi Nuh ya, Nabi Nuh mengatakan, "Wluagfiru rbakum innahuana garo." Wahai kaumku adanya kalian banyak istigfar karena Allah itu maha pengampun. Banyak minta ampun kepada Allah karena Allah itu maha pengampun. Yurilama alikum. Allah akan turunkan kepada kalian hujan yang terus-menerus. Wumdidum biamwalin wain.
Dan Allah akan kasih kalian apa namanya? Ee amwal, harta dan anak. Iya. Sebab datangnya anak ini bukan hujannya tapi apa? Istigfarnya. H. Jadi Nabi Nuh sedang menyebutkan akibat dari istigfar.
Buah dari istigfar. Pertama dapat hujan, yang kedua dapat harta, yang ketiga dapat anak. Bukan sedang menyebutkan buah dari hujan. Karena memang disebutkan pertama kali hujan ya. Yursilama alikum.
Allah akan turunkan hujan terus-menerus. Kemudian biamwalin win. Dan Allah akan turunkan harta dan anak. Mungkin dia salah paham. Kan yang pertama disebut hujan.
Berarti oh hujan ini bisa bikin harta dan bikin anak. Salah. Harta dan anak ini datangnya karena sebab istigfar. Nah, jadi bagi yang lama tidak dikaruniai anak, banyak-banyak istigfar. Istigfar itu harus menjadi zikir yang membasahi lisannya gitu ya.
Dan istigfarnya istigfar yang datang dari hati. Kata Syekh ee Khalid almuslih ya, guru kami hafidahullahu taala. Beliau katakan orang yang lisannya istigfar tapi hatinya lalai maka ini orang yang ghafil. Bukan orang yang mustagfir, bukan orang yang minta ampun. Ya.
Ya. Astagfirullah, astagfirullah. Tapi yang dipikirkan itu masalah dagangan gitu ya. Astagfirullah, astagfirullah. Yang dipikirkan suaminya gitu ya.
Iya, iya, iya. Jadi istigfar benar-benar datang dari hati menyadari diri banyak dosa dan benar-benar berharap ampunan Allah subhanahu wa taala. Itulah istigfar yang nanti akan mendatangkan keturunan dan harus sering ya iya istigfar mengingat suami agar suami tidak nikah lagi mungkin gitu ya. [tertawa] Kurang diperjelas. Baik terima kasih Ustaz atas jawaban yang diberikan.
Memang ada beberapa saya mengalami sendiri mengantarkan Syekh ya, karena banyak mengantarkan syekh-syekh yang datang di Jogja. Alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah diberikan kesempatan di perjalanan itu turun hujan. Ah, syikhnya duduk di tengah itu dibuka anunya apa namanya kacanya. dia dia mengeluarkan tangannya, beliau mengeluarkan tangannya para syekh tersebut kemudian diusapkan ke kepalanya setelah itu. Cuman memang ya cukup basah sih ini tangan basah gak mungkin ngeluarin kepala ya cukup begini terus mengusapkan kepalanya.
Cuman ini mobil pinjaman masalahnya. [tertawa] Tapi enggak hujan-hujanan ya Syekh? Tidak tidak hujan-hujanan. Iya. Masyaallah. Karena hujan itu berkah.
Terima kasih, Ustaz atas jawaban. Kita lanjutkan. Sebenarnya banyak banget ini saya bacakan yang dari ee jemaah masjid terlebih dahulu. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga ustaz dan keluarga senantiasa dalam lindungan Allah subhanahu wa taala. Amin. Amin. Saya lanjutkan ini titik di situ. Beserta keluarga ustaz, orang tua ustaz, guru-guru ustaz, para ulama, dan semua yang hadir di Masjid Pogung Dalangan ini dan juga kaum seluruh kaum muslimin.
Barakallah fikum. Ustaz, izin bertanya. Bagaimana jika ada yang mengatakan semoga hari ini tidak hujan? hukumnya bagaimana, Ustaz? Padahal kita tahu bahwa hujan itu adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa taala. Mohon penjelasan dari Ustaz I mengatakan semoga hari ini enggak hujan atau pas ketika hujan semoga hujan berhenti. Iya.
Mengatakan seperti ini hukumnya makruh. Hm. Jangan dikatakan ini kurang baik, ini tercela. Iya. Nabi saja ketika hujan deras, Nabi tidak ucapkan seperti itu.
Nabi ucapkan, "Allahumma hawalaina." Ya Allah turunkan hujan tapi di sekitar kami. Iya. Yang jauh-jauh sana. Nabi tidak katakan, "Ya Allah, hentikan hujan." Tidak. Ini adab yang kurang baik.
Ya, tadi saya cerita ada orang ada ee saudara kita di luar sana yang dari Februari sampai Oktober enggak hujan-hujan ya. Enggak hujan-hujan. Mereka ngarep hujan lah. Jenengan kok sudah dikasih malah minta berhenti. Ah inilah manusia lah ya.
Enggak ada puasnya gitu ya. Jadi jangan jangan menjadi orang yang kufur nikmat ya. Orang yang sudah dikasih hujan kok malah minta berhenti ini kufur nikmat ya. Maka ini perkataan yang kurang tepat. Adakya dihindari jangan diucapkan ya.
Wallahuam. Baik terima kasih Ustaz atas ee jawaban yang diberikan. Kita lanjutkan. Bismillahirrahmanirrahim. Izin bertanya, Ustaz.
Bolehkah berdoa, "Ya Allah, turunkan hujan di wilayah sana aja dulu." Misalkan seperti itu. Jangan di sini karena ada kepentingan kami. Bisakah kita berdoa seperti itu? Ya, ini enggak masalah. Ini sebagaimana makna hadis yang tadi kita bacakan ya. Doa ketika hujan deras.
Allahumma hawalaina. Ya Allah turunkan hujan sekitar kami. Bahkan di lanjutan doanya ada yang versi panjangnya. Iya. Ya Allah turunkan hujan di gurun-gurun, turunkan hujan di hutan-hutan, turunkan hujan di lembah-lembah.
Malah disebutkan oleh Nabi tempatnya secara secara spesifik gitu ya. Iya. Maka enggak masalah ya. Ya Allah turunkan hujan di Bantul karena mereka lebih butuh. Ya Allah turunkan hujan di Kulomprogo ya.
Ee jangan di Sleman gitu ya. Iya. Iya. Enggak masalah ya. Yang penting jangan minta hujan berhenti.
Allahuam. Baik, terima kasih Ustaz. Termasuk hajat mungkin ya mau mengadakan hajat. Iya. Ee hari Jumat bulan Desember.
Waduh ini Desember kan gede-gedenya sumber. Tadi Januari hujan sehari-hari ini bisa-bisanya kita aja ini disingkat-singkat. Iya. Apakah diperbolehkan kita bilang mudah-mudahan nanti jangan dulu deh kita mau walimatul urs ee jumatan. Iya.
Lafaznya ya Allah ee andaikan hujan turun maka turunkan hujan di Kulomprogo gitu. Iya. Eh jangan menolak hujan. Jangan mudah-mudahan enggak hujan. Oke.
Jangan hujan di sini jangan. Tapi ya Allah andaikan hujan turun turunkanlah di sana ya. Turunkanlah di sini seperti itu. Baik. Baik.
Terima kasih Ustaz atas jawabannya. Kita lanjutkan ini. Wah, ini bertubi-tubi nih. Masyaallah. Mungkin kurang jelas tadi ini.
Engak apa-apa saya bacakan. Bismillahirrahmanirrahim. Ustaz, dari penjelasan yang tadi ya, Ustaz. Apakah termasuk sunah mengeluarkan jemuran ketika hujan? Kemudian apa hikmahnya jemuran dikeluarkan ketika hujan itu? Tadi sahabat apa? Siapa tadi? Ust. Kemudian ee caranya bagaimana praktiknya, teknisnya mungkin ya, Ustaz? Apakah dikeluarkan sebentar kemudian diangkat dimasukkan lagi cuman terpercik sedikit terus dimasukkan lagi ataukah jemuran itu dikeluarkan sampai hujan selesai? Mohon nasihat dari Ustaz.
Iya, tadi dari Abdullah bin Abbas ya dan ini ee riwayatnya sahih disebutkan oleh Albukhari dalam Al-Adabul Mufrad. ee tentunya ini sunah sahabat namanya. Sunah sahabat Nabi. Dan sunah sahabat Nabi kita dianjurkan untuk mengikuti ya kan Nabi mengatakan ee e khairul qurun qarni. Sebaik-baik generasi adalah generasiku, generasi para sahabatku.
Ya, maka ee dianjurkan untuk kita ikuti juga ya. Ah, namun ini hendaknya tidak menjadi kesibukan. Ini dilakukan kalau pas gampang saja gitu ya. Di sini Abdullah bin Abbas punya pembantu. Makanya beliau mengatakan, "Ya jariah, ukhruji syirji, ukhruji tsubi.
Wahai pembantu, keluarkan kursiku, keluarkan ee bajuku." Ya, maka dikeluarkan oleh pembantunya. Tapi sebentar saja. Dikeluarkan sebentar saja kena air hujan sedikit kemudian dimasukkan kembali. Seperti itu teknisnya ya. Jadi bukan dikeluarkan sampai basah kuyuk.
Nanti kasihan suaminya mau kerja enggak punya baju ya. Mana baju Abi? Mau kerja nih. Wah basah semua Bi. Kata Abdullah bin Abbas. Kata Ustaz Yulian.
Nah Ustaz Yulian bawa-bawa nih. [tertawa] Ini konflik somai istri nyalahkan Ustaz Yulian lagi. Allah mustaan. Ya. Jadi dikeluarkan sedikit saja bukan sampai bahasa Quyub.
Kemudian masukkan lagi. Ini pun kalau mudah. Kalau misalnya jemurannya banyak, pakaiannya banyak, ya bawanya susah ya sudah enggak usah gitu ya. Jadi jangan terlalu merasa ee berat ya ketika menjalankan sebuah sunah ya. Kalau ee mudah lakukan.
Kalau susah maka tidak dilakukan tidak apa-apa. Baik, terima kasih Ustaz ya atas jawaban yang diberikan. Semoga yang bertanya cukup puas dari jawaban Ustaz. Kita lanjutkan. ini ada pertanyaan tetap masih menyangkut masalah tema kita pada kesempatan kali ini tentang masalah hujan dan tadi sudah disinggung kami bacakan ya, Ustaz.
Bagus ini pertanyaannya. Bismillahirrahmanirrahim. Ee izin bertanya Ustaz jika imam tidak berkenan untuk menjamak, apakah boleh salat jamak madar sendiri? Ambil sendiri. Udah ee imamnya tidak mau ee jamak antara zuhur dan asar. Katakanlah seperti itu, ngambil asar.
Kemudian sudah kita sendiri aja deh, panggil cari jemah sendiri atau salat sendirian untuk menjamak ee tadi karena turunnya hujan. Karena ini disebabkan kadang takmir khawatir masjid sepi, salat berikutnya, salat asarnya atau salat isyanya ee masjid jadi sepi. Mohon nasihat dari ustaz. Nam imam dia adalah pemimpin di masjid. Oke.
Nabi mengatakan inju imam bihi. Imam dijadikan imam untuk diikuti, untuk ditaati. Maka dialah yang punya eh decision maker. Dialah decision maker di masjid. Yang punya keputusan, yang punya ketok palu dia.
Ya, makanya zaman dahulu imam itu bukan siapa yang mau maju. Bukan. Imam itu. Kalau di zaman Nabi, Nabi jadi imam. Di zaman setelah itu para khulafa rasyidin jadi imam.
Iya. Di zaman para salaf imam itu ditunjuk oleh negara, diseleksi, ditunjuk dan gajinya tinggi. Iya. Bahkan ngalah-ngalahi gaji Pertamina ya. Iya.
Imam di zaman dulu imam masjid, ngimami masjid gajinya dari negara ngalah-ngalahi gaji pertamina zaman sekarang. Ya. Subhanallah. Ini saking pentingnya posisi imam. Jadi demikian juga muadzin ya.
Muadzin juga diseleksi bukan orang yang sembarangan. Ah, maka imam itu pemimpin di masjid ya. Maka kalau dia pemimpin harusnya ditaati. Iya. Selama bukan maksiat.
Ya. Maka ketika imam memutuskan untuk tidak jamak, ya kita taati. Kalau ada jemah yang malah dia bikin jemah sendiri untuk menjamak, ini namanya bikin perpecahan. Enggak boleh. Iya.
Enggak boleh, Ustaz. Bikin perpecahan ya. Bikin ada orang yang ee apa namanya? Nanti benci sama imamnya. Iya. ya bikin kelompok baru.
Iya. Nanti nanti setelah itu ngajak-ngajak ngajak-ngajak untuk jangan lagi bermamu sama imam ini. Wah enggak cocok kita. Ini bahaya sekali ya. Ini bahaya sekali.
Jadi ketika imam memang berijtihad memutuskan seperti itu, wajib ditaati. Ya toh menjamak itu bukan harus ya. Hanya boleh saja. Ketika hujan boleh menjamak. Kalau enggak dijamak pun boleh-boleh juga gitu ya.
Bukan harus bukan. Ya. Maka ketika imam memutuskan tidak menjamak, ya enggak masalah. Mungkin dia punya pertimbangan yang lain. Wallahuam.
Ustaz, terkadang malah justru ee imamnya sudah oke. Ayo kita ini karena hujan sudah sudah selesai salat zuhur atau selesai salat magrib, ya kita jamak salat berikutnya salat asar atau salat Isya gitu. Tetapi ee ada beberapa jemaah yang tidak mau ikut. Ee ee bagaimana sikap kita? Ya, pertama ee memang perkara seperti ini belum familiar di masyarakat kita ya. Menjamak salat ketika hujan.
Iya. Belum familiar. Maka perlu ada edukasi dulu sebelum-sebelumnya ya. Perlu di sosialisasikan. Betul.
Ee jemaah masjid ini atau jemaah kampung Iya. ini ee ada sunah, ada ee keringan dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ini hadisnya ya. Sampaikan ya. Iya.
Ee kalau perlu disampaikan ditampilkan hadisnya gitu ya pakai projektor supaya orang paham semua. Betul. Dan ini sahih, ini bukan aneh dan ini pendapat para ulama mazhab. Iya. Sehingga orang-orang paham.
Kalau kita ee yang tinggal di pondok, saya pernah tinggal di pondok di Jamurrahman ya. Iya. Kita terbiasa seperti itu. Enggak ada yang aneh. Jadi hujan jamak gitu ya, semua orang sudah paham semua.
I tapi kalau di lingkungan masyarakat awam mungkin memang banyak yang belum paham. Maka perlu ada edukasi dulu ya, sosialisasi. Iya. Kalau di MPD juga sudah biasa. Alhamdulillah ya.
MD sudah biasa. Iya. Iya. Nah, tapi kalau di masjid lain perlu sosialisasi. Nah, ee imam yang bijak dia tidak melakukan itu sebelum sosialisasi.
Oke ya. Kalau dia main ujuk-ujuk jamak aja tanpa ngasih tahu kurang bijak gitu ya. Nanti jemaah ngiranya dia alian sesat. Apa ini [tertawa] salat isya kok di waktu magrib padahal tidak sedang safarnya alan sesat padahal karena e makmumnya belum dikasih tahu belum diedukasi ya. Jadi sebaiknya imam atau pengurus masjidlah mengedukasi dulu.
Iya. Kalau sekiranya jemaah itu sudah paham atau mayoritas sudah paham mayoritas maka baru dijalankan seperti itu. Oke. Dan harusnya jemaah atau makmum manut sama imam karena imam tadi adalah pemimpin di masjid. Iya.
Ya. Bahkan bukan ketua takmir ya. Iya. Jadi yang pemimpin itu bukan ketua takmir tapi imam ya. Imam pemegang keputusan dalam masalah salat ya.
J mau jamak atau tidak keputusannya di tangan imam dan harusnya makmum ikut. Kemudian nanti ketika datang waktu salat yang kedua misalnya di waktu magrib jamak dengan isya ya setelah itu kan pulang sudah pulang ke rumah. Ketika datang waktu isya masjid tetap azan dan tetap mengadakan salat jemah dengan orang yang berbeda. Yang imami beda. Jadi kan kalau di masjid biasanya ada imam cadangan gitu ya.
Iya. Atau boleh orang yang sama dengan niat salat sunah. Kalau memang kebetulan imamnya cuman satu ya, maka boleh dia salat lagi salat Isya dengan niat salat sunah. Hm. Seperti jadi tetap salat isyanya ada bukan berarti nanti enggak ada salat Isya ya.
Untuk memfasilitasi mungkin ada orang yang baru datang iya baru pulang kerja tadi tidak ikut jamak gitu ya. Iya. Jadi tetap bisa salat di masjid berjamaah. Saya kuatkan lagi Ustaz ya biar biar ini bagus banget. Jadi setelah seandainya kita jamak salat Isya ya dari magrib ke isya ya diumumkan oleh imam ee pertanyaan untuk menguatkan ini tadi sudah dijawab sama ustaz berarti tetap asan isya isya ternyata hujan berhenti ya ah apakah di dilaksanakan ee azan isya dan tetap dijalankan juga salat isya secara berjamaah ini menjadi polemik.
Kamu enggak usah ikut, muazin gak usah ikut. Nanti kan kita yang mau salat lagi siapa nanti jemahnya kalau seperti itu? Mohon nasihat dari ustaz. Kalau azan baik hujan masih lanjut atau sudah berhenti, tetap azan. Oke. Karena azan itu ikhbar biwaktus shah mengabarkan waktu salat.
Iya. Enggak semua orang punya gadget ya, punya aplikasi jadwal salat. Iya. Kalau enggak ada azan gimana? Dia enggak tahu waktu salat ya. Maka azan itu tetap azan.
Baik hujan masih lanjut atau sudah berhenti. E adapun salat kalau yang sudah salat dijamak tadi dengan magrib boleh dia enggak enggak ikut salat lagi. Kan dia sudah pulang ke rumah. Iya. Ketika waktu isya enggak perlu ke masjid lagi.
Sudah. Iya. Bisa dia e tadi hujah-hujah sama istrinya boleh gitu kan. [tertawa] Nah, yang belum salat tu ke masjid salat isyanya. Iya.
Yang belum salat tu ke masjid. Iya. Dan catatan ya, bagi orang yang sudah salat dan dia ada di masjid. Iya, sudah salat nih. Tapi dilalah dia pas isya ada di masjid maka dia harus salat lagi.
Iya, harus salat lagi. Dan dia salatnya salat sunah. Apakah tadi si imam ya atau si muadin iya atau si takmir yang lain ketika pas isya dilalah dia pas di masjid. Iya. Maka dia harus ikut salat lagi dengannya salat sunah.
Oke. Karena adalah ada larangan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam ya bagi orang yang sudah salat dan dia di masjid kok tidak ikut salat. Iya. Ya. Nabi melarang itu.
Iya. Ada dua sahabat yang dahulu ada di masjid kemudian orang-orang salat yang enggak ikut. Dilaporkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya Rasulullah, ada dua orang t enggak ikut jamaah sama kita. Iya.
Ditanya sama Nabi, "Ya Fulan, kenapa kalian berdua enggak ikut salat?" Iya. Mereka mengatakan, "Kami sudah salat, Rasulullah. Kalau kalian sudah salat lain kali dan orang-orang ada di ee dan kamu ada di masjid dan orang-orang salat, maka kamu harus ikut salat. Iya. Dengan bagi mereka salat wajib, bagi kamu salat sunah.
Jelas ya? Insyaallah ya. Iya, jelas banget. Iya, terima kasih banyak. ee satu terakhir [tertawa] ya. Seandainya kita gak bisa berangkat nih, gak bisa berangkat, tadi sudah disinggung sama ustaz, gak bisa berangkat, kita salat jemaah di rumah beserta istri dan anak-anak magrib.
Nah, anak-anak bilang, "Ee, Bi, ini kita jamak aja sekalian Isya. Apakah kita bisa menjamak ee salat isya di rumah?" Ya, tadi sudah kita nukilkan penjelasan dari Imam Syafi'i rahimahullah bahwasanya enggak boleh menjamak salat kecuali bagi orang yang keluar menuju ke masjid. Oke. Maka bagi orang yang salatnya di rumah ya, maka dia harus salat pada waktunya masing-masing. Enggak boleh dijamak dengan isya ya.
Nanti nunggu waktu isya baru salat seperti itu. Wallahu taala alam. Ini yang bisa kami sampaikan. Mudah-mudahan apa yang kita pelajari bermanfaat dan bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari ya. Apalagi ini musim hujan.
Mudah-mudahan kita bisa mengamalkannya. Amin. Demikian. Wasallallahu ala nabina Muhammadin waa alihi wasahbihi wasallam. Wa akhir dakwanahamdulillahi rabbil alamin.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jazakahir kita ucapkan kepada Ustaz Yulian Purnama yang telah memberikan nasihat-nasihat kepada kita semua. Semoga Allah Subhanahu wa taala selalu melindungi beliau beserta keluarga dan semua yang hadir di Masjid Pogung Dalangan ini. Barakallah fikum.
Dan tidak lupa kita berdoa kepada Allah subhanahu wa taala semoga Allah memudahkan kita dalam memahami apa yang ilmu yang telah disampaikan dan mudah untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Saya Jenderal pamit undur diri. Kita akhiri dengan doa kepada majelis. Subhanakall bihamdik syadua la ilahailla anta astagfiruka wau ilaik.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Yeah..