1

Video Kajian

Jika video tidak dapat diputar, silakan Tonton di YouTube.

Tentang Kajian Ini

Kajian pertemuan ke-1 dalam seri Kajian Tematik yang membahas tentang hubungan takdir dan kehati. Ustadz Shahih Fiqih, Platform Kajian Fiqih memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.

2

Ringkasan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Hubungan Takdir dan Kehati-hatian

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin حَفِظَهُ الله تعالى

🗓️ 31 Desember 2019

Seorang hamba disyariatkan untuk tetap berhati-hati, Memang benar segala halsudah Allah takdirkan. Akan tetatpi seseorang tetap harus berusaha dan berhati-hati, dari segalahal yang bisa memberikan dampak negatif, begitujuga dari hal-hal yang dikhawatirkan ada keburukan di dalamnya, maka hendaknya tetap berusaha menghindar. Dan berusaha menutup segala celah yang bisa mengantarkan kepada bahaya tersebut.

Contohnya, seperti kejadian Yusuf alaihissalam,ketika menceritakan mimpinya. Yang (takwil) mimpi tersebut berupa derajat tinggi yang akan didapatkan Yusuf alaihissalam kelak. MakaA yahnya pun berkata: "Wahai anakku! Janganpah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu" (QS. Yusuf: 5).

Kenapa? Karena ia khawatir apabila Yusuf alaihissalam bercerita kepada saudara-saudaranya, akan ada iri, dengki, hasad dan berbagai makar. Inimerupakan bentuk kehati2-an. Oleh karenanya berhati-hati itu sangat diperlukan.

Contoh lain dari kehati-hatian, yang Syaikh As-Sa'di isyaratkan, adalah ketika Nabi Ya'qub alaihissalam berkata kepada anak-anaknya, "Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda". (QS. Yusuf: 67).

Memang segala sesuatu sudah ditakdirkan, Ya'qub alaihissalam juga telah menolong sedikitpun dari kehendak Allah [Lihat QS. Yusuf: 67]. Tapi begitulah usaha dan bentuk kehati-hatian. Sehingga manusia itu tetapharus bertawakkal kepada Allah. Kemudianmeyakini bahwa segala sesuayu itu di bawah kehendak Allah, Akan tetapi apa? Tapi tetapharus hati-hati dan berjaga-jaga dari sesuatu yang dikhawatirkan terjadi. Ini sama sekali tidak bertentangan dengan iman dan taqdir.

Bahkan ini merupakan hal yang sangat dituntut. Syaikh As-Sa'di tadi berkata,dari kisah ini ada motivasi untuk berhati-hati dari hal yang mengkhawatirkan. Ini catatan pentingnya; [dari sesuatu yang mengkhawatirkan]. Adapun prsangka yang tidak-tidak, takhayul yang ada pada sebagian manusia. Begitu juga perasaan-perasaan yang bukan pada tempatnya sehingga masuk ke dalambernaknya banyakprasangka dan kebingungan, begitu juga bisikan-bisikan setan, yang dapat melehmahkan iman dan agamanya, menjadikanketakutan yang berlebihan, dan selalu merasa lemah. Maka ini sama sekali bukan berhati-hati yang kita bicarakan tadi, inilebih cocok masuk kedalam bab was-was.

Intinya penulis berkata: seorang diperintahkan untuk tetapberhati-hati, jika sikap kehati-hatiannya itu memberikan manfaat kepadanya [maka bagus], jika tisak ia tidakakan dicela, tidak pula menyalahkan diri sendiri. Karena ia tahu, bahwa ia sudah mengambil langkah pencegahan langkah pencegahan, dan tatkala seorang sudah mengambil langkah pencegahan, kemudian iatetap bernasib buruk, ada halyang menyakiti dan menyedihkan maka jangan katakan, "Sendainya tadi aku melakukan ini dan ini".

Tapi katakanlah: "Sudah merupakan takdir Allah dan yang ia kehendaki akan dilakukannya".

wallahu a'lam

Mutiara Hari Ini

Abu Zubair Hawaary

"Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."

QS. Al-Jumu'ah (62:10)

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."