13.a Adab di Kota Madinah (Kitab Shahih Adab Islamiyyah)
Ustadz Muhammad Rezki Hr حَفِظَهُ الله تعالى
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
/
Bapak Ibu jamaah masjid kalimasada para peserta program pokok kepiting para hadirin hadirat para pemirsa di manapun Anda berada kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala di pagi hari ini kembali kita bisa berkumpul dalam rangka melanjutkan pelajaran kita membahas berbagai adab harian seorang muslim yang kita ambil dari kitab shahih terhadap Al islamiyah karya syekh Wahid bin Abdul salam Bali meskipun dalam kondisi tidak ada karpetnya pada hari ini gimana Pak ndak ada karpet gimana Pak dingin lagi dicuci tapi rasanya seperti apa tidak pakai karpet dingin gimana Bu kasihan yang tua coba dibayangkan Bu ya coba dibayangkan masjid masjid di zaman nabi itu tidak ada karpet tidak ada pengerasan yang tidak ada semen ya langsung ke tanah dan tidak ada atap ini zaman di zaman Nabi kalau temboknya ada tapi atapnya tidak ada atap hanya sebagian saja di belakang saya di depan sedikit makanya yang pertama ketika nabi menjelaskan di dalam hadis tentang salat Jumat karena tadi teman masa Al Hafsah faqollah barang siapa yang megang-megang batu kerikil ketika khutbah Jumat maka percuma sholat jumatnya tidak dapat pahala nah kenapa yang disebut oleh Nabi bentuk kerikil karena zaman dulu lantai Masjid Nabawi itu tanah banyak kerikilnya jadi orang kalau lagi dengerin khotbah dia bosan dia main nyari-nyari kerikil pakai tangannya nah dia susun-susun kerikil tersebut atau seperti apa tapi kenapa ada sabda Nabi seperti itu karena memang lantai Masjid Nabawi tanah pasir dan batu kerikil makanya juga dalam hadis tentang lailatul qadar salah satu tanda lailatul qadar disebutkan oleh Nabi di pagi harinya aku bersujud dalam kondisi di tas beliau itu becek disebutkan dalam hadis kabupaten unus karena pada suatu malam tak turun hujan dan ternyata malam itulah lailatul qadar paginya nabi sujud terlihat di jidat nabi tertempel becek tanah becek nah kenapa ada tanah becek seperti itu karena di zaman Nabi demikian dan nanti tetap sujud di atas kondisi tanah seperti itu mudah-mudahan tidak membuat bapak ibu mengeluh dengan kondisi seperti sekarang ya ini masih jauh dengan kondisi di zaman Nabi juga masih jauh sudah banyak sekali Allah berikan kemudahan kepada kita di zaman sekarang ini baik kita lanjutkan pembahasan kita pagi hari ini yang pertama adalah mengenai adab haji dan umroh karena sepertinya penulis membahasnya beberapa bab belakangan itu sesuai dengan urutan rukun Islam salat sudah puasa sudah zakat sudah sekarang kita bahas mengenai haji haji sama-sama hukumnya dengan umroh ya pada asalnya hukum aja hukum haji itu sama dengan hukum umroh fikih umroh pada dasarnya sama dengan fiqih haji kecuali kalau ada dalil yang menunjukkan ini berbeda maka sebagaimana juga hukum haji adalah wajib pendapat yang lebih kuat umroh hukumnya juga wajib wajib satu kali seumur hidup bagi yang mampu ini pendapat yang lebih kuat Allah yang mengatakan sempurnakanlah haji dan umroh untuk Allah maka ada perintah di situ dan ada penggandengan antara haji dan umroh
Dan saya kira ini pas momennya sebagian Bapak Ibu mungkin ada yang mau berangkat umroh ini akhir tahun puncak musim orang itu umroh itu biasanya akhir tahun akhir Desember awal Januari ini jamaah umroh luar biasa bahkan bisa mengalahkan haji ramai ya kita akan bahas mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua meskipun belum mau berangkat umroh belum ada rencana berangkat umroh Insya Allah suatu saat akan bermanfaat yang pertama Al istiadatul haji persiapan untuk haji dengan taubat yang tulus maka ini diantara fiqih haji dan umroh Bapak Ibu sekalian saya kalau membimbing umroh selalu ini yang kami tekankan pak sebelum berangkat itu taubat perbanyak istighfar di antara alasannya adalah tobat dan istighfar itulah yang akan menjadi sebab bagi kita mendapatkan kemudahan dari Allah subhanahu wa ta'ala kenapa karena Bapak Ibu perlu ketahui bisnis ya bukan hanya bisnisnya tapi ibadah haji dan umroh itu adalah ibadah haji adalah ibadah yang sangat banyak ketidakpastiannya begitu banyak begitu besar ketidakpastian makanya kalau dalam sudut pandang bisnis risiko bisnis umur itu sangat besar resikonya sangat besar memang demikian hukumnya dalam ilmu ekonomi semakin besar resiko maka semakin besar keuntungan makanya kalau orang punya travel umroh itu memang besar untungnya tapi resikonya juga sangat-sangat besar makanya di sana banyak sekali kita di travel misalnya sudah berupaya sedemikian mungkin supaya lancar sudah disiapkan tiba-tiba Saya pernah satu keberangkatan tapi bukan grup saya ikuti pesawatnya diadakan bukan delay tapi tidak ada penerbangan ketika Islam karena pesawatnya rusak bayangkan bagaimana kemudiannya belum lagi ketika sudah sampai di sana tiba-tiba hotelnya pihak manajemen hotel mengatakan belum lagi ketika pelaksanaannya banyak sekali faktor-faktor yang di luar kendali kita makanya orang berangkat haji berangkat umroh dalam satu kloter 1 kelompok pengalaman yang didapatkan itu berbeda-beda kenapa bisa berbeda-beda seperti itu tadi diantaranya adalah orang-orang yang Allah mudahkan dalam perjalanan haji adalah orang-orang itu mudah lancar dari awal sampai akhirnya saya katakan kepada jamaah ini berkat istigfar Bapak Ibu sekalian tapi sebagian kita mendapatkan kendala-kendala yang dikeluarkan beberapa dalil tentang anjuran untuk bertobat kita baca hadisnya saja di situ di mana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda Ya ayyuhannas wahai sekalian manusia bertaubatlah kepada Allah Karena sesungguhnya aku baru taubat kepada Allah sebanyak 100 kali dalam satu hari dalam satu hari para ulama berbeda pendapat tentang bilangan 100 ini apakah memang ini yang diinginkan oleh Nabi ataukah hanya nabi ingin menunjukkan jumlahnya banyak jadi kalau kita melihat ayat atau hadis dalam Alquran kalau di situ disebutkan angka tertentu maka kita harus hati-hati memahami angka tersebut terkadang Allah dan rasulnya tidak menginginkan angkanya tapi ini untuk menunjukkan banyaknya saja bisa kata Allah
Meskipun engkau memintakan ampunan untuk mereka 70 kali pada Allah subhanahu wa ta'ala
Taubah ayat 80 astaghfirullah astaghfirullah engkau memohonkan ampunan untuk mereka itu atau engkau tidak memakan ampunan sama saja meskipun engkau memohonkan ampunan 70 kali kata Allah subhanahu wa ta'ala Allah tidak akan mengampuni mereka 70 kali waktu di situ apakah kemudian kita memahami ayat ini kalau Nabi kemudian memohon ampunan 71 kali Allah akan mengampuni mereka jawabannya tidak 70 di sini hanya untuk menunjukkan sebanyak apapun nabi memintakan ampunan untuk orang-orang munafik ini tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala sehingga prinsipnya bukan angkanya yang diinginkan nah maka kembali lagi ke pelajarannya tadi ketika Nabi mengatakan aku bertaubat kepada Allah 100 kali dalam sehari semalam para ulama berbeda pendapat apakah memang dibatasi 100 kali ataukah nabi ingin menunjukkan begitu banyaknya Ya allahualam kembali kepada hukum asalnya tidak ada dalil yang memalingkan ini dari anak-anak asal 100 sehingga sebagaimana fikih yang disampaikan oleh syekh saat ini 100 kali di situ adalah kita berdzikir dalam satu hari satu malam kita beristighfar itu batasnya 100 kali ya misalnya Bapak Ibu mau duduk di pagi hari misalnya beristighfar itu 100 kali Rasulullah seperti itu maka batasnya 100 kali demikian sehingga ini angkanya kita anggap angkanya kita hitung dalam artian istighfar dalam satu hari itu dianjurkan untuk sebanyak 100 kali mengucapkan dapat istighfar namun kembali lagi yang menjadi pelajaran kita adalah di antara adat haji dan umroh sebelum berangkat hendaknya bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala ada yang kedua di antara pelajaran atau adat terkait haji dan umrah adalah mengembalikan hak-hak yang di tahun ini masih berkaitan dengan poin yang pertama sebetulnya Bapak Ibu sekalian perlu diketahui kalau kita mau bertaubat dari dosa-dosa yang berkaitan sesama manusia maka diantara cara taubatnya yang harus ditempuh adalah mengembalikan hak yang dizalimi tersebut makanya ini yang disebutkan oleh para ulama urusan dosa dengan Allah subhanahu wa ta'ala itu lebih lapang dibandingkan urusan sesama hamba ini lebih ketat apa maksudnya yang saya kira sudah pernah kita bahas di sini maksudnya kita kalau tobat atas dosa-dosa yang ini merupakan hak Allah obat sudah selesai Allah ampuni sudah selesai tidak salat tidak puasa tidak bayar zakat ini hak Allah subhanahu wa ta'ala kalau kita bertobat sudah selesai adapun dosa sesama hamba kalau ini tidak diselesaikan sama hamba tersebut belum selesai urusan obatnya masih bisa tertahan nanti di hari kiamat ketika pengadilan hari kiamat makanya dosa yang