9. Ketinggian Allah

Kitab Lum'atul I'tiqad (Karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi)

Ustadz Muhammad Rezki Hr

حَفِظَهُ الله تعالى

1
Video

2
Ringkasan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

/

3
Isi Ceramah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Wasallallahu ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wasallam subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaikalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh alhamdulillah alhamdulillahiabbil alamin wasatu wasalamu ala asrofiliya wal mursalin nabi muhamm allahummaimna ma w Bima alamtana waidna Ilma bapak-bapak ibu-ibu ikhwan dan akhwat para jemaah dan para pemirsa di mana pun anda berada rahimani waahimakumullahu Jamian kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala atas berbagai nikmat yang Allah berikan kepada kita yang salah satunya pada malam hari ini kita kembali diizinkan untuk bisa bertemu bersama-sama kita Insyaallah melanjutkan mempelajari kitab lumatul tiqad karya Ibnu qudamah al-maqdisi rahimahullahu taala kita masih di dalam pembahasan yang sama yaitu pembahasan mengenai di mana Allah subhanahu wa taala maka kita lanjutkan pada malam hari ini Bapak Ibu sekalian langsung saja kita akan membahas tentang Salah satu sifat Allah subhanahu wa taala yaitu Al sifat Allah subhanahu wa taala yaitu Allah zat yang Maha Tinggi di anara nama Allah subhanahu wa taala adalah Ala itulah yang kita baca dalam sujud kita subhanal maha suci Tuhanku Yang Maha tinggi ya maha suci Rabb yang Maha Tinggi maka di antara nama Allah subhanahu wa taala adalah ala'la dan di antara sifat Allah subhanahu wa taala yaitu al-ulu Apa itu al-ulu yaitu tinggi tinggi di sana terbagi menjadi dua yaitu tinggi sifatnya dalam artian sifat-sifat Allah subhanahu wa taala dan nama-nama Allah subhanahu wa taala adalah nama-nama dan sifat-sifat yang Maha Tinggi dalam artian sempurna Ya dia memiliki Allah subhanahu wa taala memiliki sifat-sifat yang tinggi uluus sifah secara sifat tinggi lalu yang kedua yaitu uluuz zat secara zat zat Allah subhanahu wa taala juga berada di ketinggian yaitu di atas langit yang Keu bersemayam atau beristiwa di atas Arsy maka ini ini dia Bapak Ibu sekalian keyakinan yang benar keyakinan ahlusunah Wal Jamaah Allah tinggi sifatnya dan juga Allah tinggi zatnya sudah kita singgung beberapa kali sebagian saudara-saudara kita menolak Allah subhanahu wa taala itu maha tinggi tinggi secara zat mereka menafsirkan ayat-ayat yang menyebutkan Allah Maha Tinggi kata mereka maksudnya tinggi di sana adalah tinggi sifat-sifat Allah subhanahu wa taala tinggi dalam artian sempurna terbebas dari cacat terlebebas dari berbagai kekurangan ini kita menerimanya benar namun secara zat Allah subhanahu wa taala juga tinggi tinggi zatnya dan juga tinggi sifatnya itulah yang akan kita lihat sebagian dalilnya pada pertemuan kali ini kita akan membaca di sana ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al Imam Abu Daud rahimahullahu taala dalam kitab sunannya bahwasanya Nabi Sallallahu was bersabda di halaman 32 silakan disimak nabi bersabda inahhahu baik kita baca terjemahnya di Sun bahwa nabiuaii wasnya antara langit hingga langit berikutnya adalah Sekian dan sekian hingga disebutkan di atasnya ada Arsy dan Allah subhanahu wa taala di atas itu hadis riwayat Abu Daud nomor 4723 maka ini dia hadis yang diriwayatkan oleh Al Imam Abu Daud Abu Imam Abu Daud rahimahullahu taala dalam kitab sunannya dalam Sunan Abu Daud di sana disebutkan sebuah hadis yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Mas'ud ya hadis ini bersumber dari Abdullah bin Mas'ud di sana disebutkan bahwasanya Jarak antara satu langit dengan langit yang lainnya itu sepanjang 500 tahun perjalanan sejauh 500 tahun perjalanan disebutkan demikian jarak antara langit lalu sampai pada bagian hadis bagian akhir Hadis disebutkan di atas langit yang tujuh tersebut ada Arsy di atas langit yang ketujuh ada Arsy dan Allah subhanahu wa taala berada di atas tersebut di berada di atasa berada di atas itu itu di situ kembali kepada ars Jadi maksudnya Allah berada di atas ars maka di sini ikhwan dan akhwat sekalian rahimani warahim jel dikatakan bahwanya secara zat berada di atas ketinggian Allah secara zat berada di atas ketinggian Arsy berada di atas langit ketujuh Lalu Allah subhanahu wa taala berada di atas arasy hadis ini sebenarnya kalau dikatakan sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ini bukan hadis yang sahih ya kalau dikatakan ini sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bukanlah hadis yang sahih yang sahih adalah hadis ini merupakan kan hadis maukuf Apa itu hadis maukuf maukuf adalah hadis yang sampai kepada para sahabat terhenti pada para sahabat jadi ini perkataan Abdullah bin Mas'ud Sebenarnya ya perkataan Abdullah bin Mas'ud kalau ini dikatakan sebagai perkataan Abdullah bin Mas'ud maka hadisnya sahih namun kalau dikatakan sebagai sabda Nabi hadisnya tidak sahih ya hadis ini adalah hadis maukuf perkataan Abdullah bin Mas'ud namun sedikit faedah tambahan ikhwan dan akhwat sekalian rahimani warahimakumullahu Jamian hadis maukuf itu kalau berbicara tentang akidah berbicara tentang perkara-perkara yang gaib maka istilahnya para ulama dia marfu hukmi Apa itu marfu hukmi teranggap hadis ini sebagai sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam secara hukum sama dengan sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam secara hukum ya memang yang mengatakan adalah sahabat namun hukumnya sama seperti sabda Nabi kenapa Karena di antara kaidah kita dan akidah kita ya kaidah dalam ilmu Hadis dan di antara akidah kita ahlusunah Wal Jamaah para sahabat mereka adalah orang-orang yang adil dan tidak mungkin mereka berdusta dalam hal periwayatan hadis sehingga ketika ada para sahabat yang mereka mengatakan jarak antara Langit Itu 500 tahun perjalanan ini perkara yang gaib Pak perkara yang gaib tidak mungkin para sahabat itu mereka mengada-ngada berpendapat dalam perkara-perkara gaib seperti ini tidak mungkin tidak mungkin mereka berani menyebutkan jarak antara langit yang satu dengan yangit yang lainnya sejarak 500 tahun perjalanan tidak mungkin mereka berani berpendapat dan mengada-ngada mereka mengatakan seperti itu pasti mereka pernah mendengar langsung dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sehingga meskipun hadis ini adalah perkataan Abdullah bin Mas'ud namun secara hukum hadis ini tetaplah hadis nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam kemudian kita baca keterangan yang lainnya dari Ibnu qudamah di sana saya bacakan Arabnya nanti kita baca terjemahnya kata ibnudamah [Tepuk tangan] baik ini sudah berulang-ulang kita bahas pada pertemuan-pertemuan sebelumnya prinsip kita dalam kita mengimani tentang sifat-sifat Allah subhanahu wa taala termasuk tentang sifat istiwa termasuk tentang sifat Allah Allah tinggi maka di sana diulangi lagi oleh Ibnu qudamah kita tidak mempertentangkannya kita tidak menolaknya lalu kita juga tidak mentakwilnya kita tidak menyerupakan Allah dan tidak memisalkan Allah dengan makhlukmakhluknya tidak ada yang serupa satuun dengan Allah subhanahu wa taala ya ini sudah jelas Sudah beberapa kali kita bahas pada pertemuan-pertemuan yang berikutnya lalu di sini kemudian Ibnu qudamah membawakan tentang asar atau riwayat yang sudah kita pernah sampaikan juga bagaimana Imam Malik ketika beliau ditanya oleh salah seorang yang hadir di elis beliau tentang istiwanya Allah subhanahu wa taala maka kita baca terlebih dahulu Bagaimana respon Imam Malik ketika ada orang yang bertanya tentang bagaimana bentuk istiwa Allah di atas ars nanti akan kita ambil banyak pelajaran dari riwayat Berikut kita baca terjemahnya imam Malik bin Anas rahimahah W AB sem di at Ar Bagaimana hikat bersemam jawabnya iswa telah dimakli hikatnya diketu mengya W danynyaidud Dikan agar lelaki itu diusir baik Bapak Ibu sekanah riwayat yang terakhir yang di iahwa Allah dan taala adalah riwayat dari Imam Malik riwayat yang sangat terkenal yang statusnya adalah riwayat yang sahih hadis ini berasal dari atau riwayat ini berasal dari Imam Malik salah satu Imam empat mazhab yaitu imam yang bernama lengkap Malik bin Anas jangan salah ya Pak ya Ada seorang Ustaz terkenal di Indonesia yang menyatakan Malik Imam Malik itu anaknya Anas bin Malik bukan ini berbeda Ya Malik bin Anas Anas Nama bapaknya itu bukan Anas bin Malik sahabat nabi pembantu nabi bukan ya Anas imam Malik bin Anas ini generasi tabi tabiin kalau Malik bin Anas ini anaknya Anas bin Malik otomatis statusnya kalau tidak sahabat ya tabiin tapi imam Malik bin Anas Imam Malik statusnya adalah tabi tabiin generasi ketig dan memang paham kenapa Ustaz tersebut menganggap Imam Malik Adalah anaknya Anas bin Malik karena memang Bapak Ibu sekalian Perlu diketahui orang Arab itu punya kebiasaan memberi nama anak mereka dengan nama bapak mereka ya ini kebudayaan orang Arab di antara bentuk penghormatan mereka terhadap orang tua di anara bentuk hormat terhadap orang tua mereka beri nama anak minimalnya satu nama yang sama dengan nama bapaknya sehingga nama itu berputar-putar pak ya jadi nama kakeknya Malik nama anaknya Anas nanti nama cucunya balik lagi Malik lagi nah cucunya Malik ini dalam rangka dia menghormati Bapaknya yang bernama Anas dia beri lagi namanya anaknya Anas sehingga Malik Anas Malik Anas Malik Anas seperti itu ya kita dapati dalam seb sebagian riwayat ada yang demikian karena memang kebudayaan orang Arab mereka menghormati orang tua mereka dengan cara memberi nama anaknya dengan nama bapaknya nah oleh karena itulah makanya sebagian orang kemudian mereka punya anggapan Malik bin Anas bin Malik diduga anak Imam Malik ini anaknya dari Anas bin Malik bukan ya Imam Malik itu bukan anaknya sahabat Anas bin Malik ini yang pertama tentang Imam Malik rahimahullahu taala lalu yang kedua sebelum kita bahas riwayat tadi perlu diketahui Imam Malik ini adalah Imam yang spesial di antara Spesialnya Imam Malik di antara keutamaan Imam Malik adalah banyak perkataan Imam Malik yang perkataannya tersebut menjadi prinsip dalam kita beragama menjadi prinsip dalam kita beranggama salah satunya adalah riwayat ini nanti kita baca perkataan Imam Malik ini senantiasa menjadi prinsip dalam Bab asma was sifat dalam pembahasan nama-nama dan sifat-sifat Allah menjadi prinsip selalu dibawakan Yang kedua juga di anaranya contohnya perkataan Imam Malik yang menjadi prinsip kita dalam beragama perkataan beliau yang terkenal ma apa yang dikerjakan ikhlas karena Allah maka dia akan kekal ini perkataan Imam Malik maana lillahi abqo Jadi ceritanya Imam Malik di zaman itu menyusun Kitab muwata Kitab Hadis lalu banyak orang yang kemudian protes atau menyampaikan masukan kepada Imam Malik wahai Imam kenapa engkau masih menyusun kitab muat padahal sudah banyak muatmuat yang lainnya sudah banyak buku-buku hadis yang semisal yang lainnya maka ketika imam Malik ditanya seperti itu barulah Imam Malik menjawab dengan perkataan yang tadi saya kutipkan kata Imam Malik maana lillahi abqo sesuatu yang dilakukan ikhlas karena Allah dia akan kekal dan ternyata benar Pak dari berbagai kitab mu dari banyak kitab muat yang disusun di zaman Imam Malik yang sampai ke ke zaman kita yang senantiasa memberikan kebermanfaatan yang luas adalah kitab muatnya Imam Malik padahal bukan Imam Malik yang duluan dalam hal ini namun Kenapa kitab muata Imam Malik yang sampai kepada kita Kenapa kitab muata Imam Malik yang paling banyak dipelajari dan paling banyak memberikan kebermanfaatan Alasannya karena tadi maana lillahi abqo sesuatu yang dilakukan ikhlas karena Allah dia akan langgeng dia akan kekal makanya kitab mu Imam Malik yang langgang keikhlasan Imam Malik yang lebih unggul daripada penyusun kitab muata kitab muata yang lainnya dan beberapa perkataan Imam Malik lainnya yang sangat penting yang ini menjadi kaidah dalam kita beragama termasuk sebagiannya dalam Bab fikih dalam Bab Ushul fikih dikutipkan perkataan-perkataan Imam Malik di sana Ini yang kedua sebelum kita bahas riwayat tadi lalu yang ketiga sebelum kita membaca riwayatnya perlu kita ketahui Imam Malik adalah Imam yang sangat menjaga kehormatan majelis ilmu Imam Malik adalah Imam yang sangat menjaga kehormatan majelis ilmunya majelis yang beliau Ampu sendiri di antara bentuk penghormatan Imam Malik terhadap majelis ilmu menjaga kehormatan ilmu adalah Imam Malik diriwayatkan kalau beliau ingin membuka majelis beliau mandi terlebih dahulu selalu mandi mandi menggunakan pakaian terbaik menggunakan parfum terbaik duduk di tempat khusus dan di majelisnya Imam Malik dibakar kayu gaharu sepanjang majelis berlangsung diedarkan wewangian ya dibakar UD ya bukhur dibakar kayu garu asapnya diedarkan supaya majelis tersebut wangi maka ini di antara bentuk penghormatan Imam Malik terhadap ilmu sangat menjaga kehormatan majelis ilmu makanya Bapak Ibu sekalian kaitannya dengan hadis ini dengan riwayat ini kenapa Imam Malik mengusir orang yang lancang bertanya tentang bagaimana cara Allah beristiwa di atas arasy itu bagaimana caranya Imam Malik menjaga kehormatan majelis ilmu Imam Malik menjaga majelis yang beliau Ampu tidak mau ada orang seperti ini di majelisnya makanya kemudian Imam Malik memerintahkan orang ini diusir dari majelis tersebut ini adalah orang yang berbuat kemungkaran berbuat sesuatu yang hina mempertanyakan tentang bagaimana kaifiat istiwa Allah subhanahu wa taala Imam Malik melakukan hal tersebut di antaranya dalam rangka menjaga kehormatan majelis ini karena ini adalah permuatan perbuatan yang mungkar bertanya tentang kaifiat istiwa Allah subhanahu wa taala maka kita baca lagi ada seorang yang hadir di majelisnya Imam Malik Dia mengatakan wahai Imam Arrahman Alal arsawa dia mengutipkan firman Allah subhanahu wa taala Allah beristiwa di atas Arsy dia bertanya k istiwa Bagaimana istiwanya Allah di atas Arsy itu seperti apa kaifiatnya seperti apa maka kemudian dalam sebagian riwayat Imam Malik sempat tertunduk beberapa waktu muka beliau memerah dan beliau pun bercucuran keringat Pak mendapatkan pertanyaan yang demikian dalam riwayat lain disebutkan Demikian Ya karena ada beberapa riwayat yang semisal terkait hal ini maka kemudian setelah Imam Malik tertunduk agak lama mukanya memerah sampai bercucuran keringat barulah Imam Malik mengangkat kepalanya menjawab pertanyaan orang tersebut kata Imam Malik alistiwa ghairu majhul dalam riwayat lainnya disebutkan istiwa maklum yang namanya istiwa itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita pahami istiwa itu adalah sesuatu yang bisa kita pahami kita pahami maksudnya secara makna makna istiwa secara bahasa kita paham ya secara bahasa kita paham makna istiwa itu apa sudah kita bahas yang namanya istiwa yaitu Ala wartafa wastaq ya istiwa itu adalah meninggi di atas sesuatu menetap meninggi di atas sesuatu ini makna istiwa secara bahasa sehingga secara bahasa kita paham makna istiwa itu apa ya bukanlah ini kata-kata asing ya Ibarat misalnya ada seorang dia pakar di bidang tertentu ada profesor yang datang ke sini dia menyebutkan istilah-istilah tertentu di bidang dia yang orang awam belum tentu paham tentang istilah tersebut bukan seperti ini istilah istiwa bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh orang Arab secara bahasa tidak bisa dipahami Bukan tapi istiwa secara bahasa adalah sesuatu yang bisa dipahami walfu giriru maquul lalu kata Imam Malik akan tetapi kaifiatnya Bagaimana bentuk istiwa Allah itu tidak bisa kita pikirkan dengan akal kita tidak bisa masuk di dalam logika kita sehingga Bapak Ibu sekalian ini di antara prinsip kita dalam Bab akidah dalam Bab sifat-sifat Allah subhanahu wa taala prinsip ini bersumber dari perkataan Imam Malik ini kfiat sifat-sifat Allah subhanahu wa taala itu bisa kita andalkan akal kita untuk memikirkannya Pak di sana sikap kita hanyalah Taslim pasrah wajib bagi kita untuk berpasrah diri menerima secara Zahir Allah Katakan istiwa Ya sudah kita terima istiwa kaifiatnya tidak bisa kita pikirkan dengan akal kita oleh karena itulah di antara pertanyaan yang tidak boleh adalah bertanya tentang bagaimana kaifiat allah termasuk juga pertanyaan bagaimana ketika Allah turun ke langit dunia di sepertiga Malam Terakhir Apakah kemudian arasy Allah kosong ataukah tidak Lalu bagaimana caranya Allah turun ke langit dunia Apakah Allah itu turun ke langit dunia dengan bergerak ataukah Seperti apa maka pembahasan-pembahasan kaifiat seperti itu tidak boleh kita pertanyakan karena ini adalah sesuatu yang tidak dijelaskan oleh Allah dan juga tidak dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan akal kita tidak mampu untuk memahaminya oleh karena itulah Bapak Ibu sekalian saya sampaikan ini prinsip kita Wal kaifu giriru maquul kaifiat itu tidak bisa kita gunakan akal kita untuk menjelaskannya ini banyak hal-hal seperti ini yang berlaku di dalam agama kita contohnya misalnya tentang hadis sahih di mana dijelaskan oleh nabi kita Muhammad sallallahu Ali wasallam Bahwasanya Allah subhanahu wa taala menjawab setiap bacaan al-fatihah kita setiap ayat dari surah al-fatihah yang kita baca Allah subhanahu wa taala menjawab ketika seorang hamba dia mengucapkan alhamdulillahiabbil alamin Allah menjawab hamadani Abdi ketika seorang hamba dia mengucapkan Maliki yaumiddin ya arrahmanirrahim Maliki yaumiddin iyaka na'budu wa iyaka nastain dan seterusnya dijelaskan dalam Hadis Qudsi masing-masing Ayat tersebut dijawab oleh Allah subhanahu wa taala dalam salat kita sehingga kalau kita pakai akal kita Pak bagaimana caranya Allah menjawab setiap ayat dari setiap hamba yang salat ya sangat mungkin di dalam waktu satu waktu yang sama beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta hamba Allah yang sedang salat sangat memungkinkan Bagaimana kaifiatnya Allah menjawab satu persatu orang-orang tersebut ketika mereka membaca al-fatihah di dalam salat mereka Maka ini sesuatu yang alkaifu giriru maquul kaifiatnya tidak bisa kita pikirkan dengan akal kita tidak bisa kita pikirkan dengan logika kita sehingga tugas kita adalah menerimanya dengan pasrah tanpa kita mentakwilnya tanpa kita menyerupakan Allah dengan makhlukNya contoh lainnya tentang malaikat maut ya akidah yang benar Bapak Ibu sekalian perlu kita ketahui bahwasanya malaikat maut itu hanya satu pak malaikat maut itu bukan banyak tapi satu ya Bukankah sangat memungkinkan dalam satu detik ada ribuan orang bahkan mungkin puluhan ribuan orang yang meninggal dalam waktu yang bersamaan Lalu bagaimana caranya malaikat maut yang hanya satu makhluk ini mencabut Sekian banyak nyawa dalam waktu yang bersamaan maka ini contohnya ghairu maquul ya dalam banyak bab dalam Bab Akidah itu sesuatu yang tidak bisa kita pikirkan dengan logika kita di luar logika kita di luar Nalar kita sehingga memang yang namanya Akidah itu adalah cobaan bagi kita semua Bapak Ibu sekalian Allah ingin menguji kita dengan keterbatasan akal kita tersebut Apakah kita mau menerimanya dengan Taslim dengan pasrah ataukah tidak maka kita kembali lagi ketika imam Malik ditanya Bagaimana bentuk istiwanya Allah Imam Malik mengatakan kaifiatnya tidak bisa kita pikirkan beriman dengannya hukumnya adalah wajib beriman dengannya hukumnya adalah wajib was bertanya tentang hal tersebut hukumnya adalah bidah tidak boleh seseorang mempertanyakan tentang kaifiat sifat Allah subhanahu wa taala Kenapa Imam Malik menyebutkan ini sebagai bidah karena dulu para sahabat ketika mereka mendengarkan sabda-sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ketika mereka menerima dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah subhanahu wa taala mereka tidak pernah bertanya Kaifa Kaifa Kaifa wahai Rasulullah bagaimana turunnya Allah ke langit dunia wahai Rasulullah Bagaimana tertawanya Allah wahai Bagaimana istiwanya Allah tidak ada satupun riwayat yang mengisahkan bagaimana para sahabat bertanya tentang kaifiat sifat Allah subhanahu wa taala sehingga tidak boleh hukumnya di dalam agama kita bertanya tentang kaifiat sifat-sifat Allah subhanahu wa taala namun kembali lagi alimanu bihi wajibun beriman dengannya hukumnya adalah wajib maka Bapak Ibu sekalian silakan jadikan perkataan Imam Ahmad Imam Malik tadi rahimahullah taala sebagai prinsip kita dalam mengimani sifat-sifat Allah yang lainnya tentang sifat nuzul misalnya sudah kita baca hadisnya Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir kita pakai perkataan Imam Malik tadi kata Imam Malik kalau kita pakai kaidah itu annuzul giriru majhul atau annuzul malum yang namanya turun itu kita paham secara bahasa yang namanya turun itu bukan sesuatu yang ini bukan istilah yang baru tapi secara bahasa kita paham turun ya turun dari atas ke bawah ini definisi turun namun Al Bagaimana kaifiat Allah turun itu ini yang kita tidak tahu tidak bisa kita memikirkannya dengan akal kita Wun beriman Bahwasanya Allah turun ke langit dunia pada sepertiga Malam Terakhir hukumnya wajib namun bertanya tentang kaifiat turunnya Allah ke langit dunia adalah perkara bidah tidak diperkenankan oleh karena itulah kemudian Imam Malik memerintahkan orang ini untuk diusir dari majelisnya maka demikian di antara pembahasan yang disampaikan oleh Ibnu qudamah al-maqdisi rahimahullah taala tentang ketinggian zat Allah subhanahu wa taala kita beriman Bahwasanya Allah subhanahu wa taala berada di atas Arsy berada di atas langit ketujuh dan saya ulangi lagi Bapak Ibu sekalian alhamdulillahilladzi hadana lihza waht la ananallah segala puji bagi Allah subhanahu wa taala yang telah memberikan kita petunjuk ini Allah yang telah memberikan kita hidayah Pak untuk bisa mendengarkan penjelasan yang demikian tidak semua orang Allah beri Hidayah berkeyakinan Bahwasanya Allah beristiwa di atas Arsy Allah berada di atas langit ketujuh Tidak semua orang Allah berikan Hidayah yang demikian tidaklah kita mendapatkan hidayah tersebut seandainya kalau AllAh tidak memberikan kita hidayah tersebut Berbahagialah Bapak Ibu sekalian karena Yakinlah kalau bapak ibu sudah berakidah dengan Akidah yang demikian kalau bapak ibu sudah berkeyakinan Bahwasanya Allah berada di arah atas Allah berada di atas langit ketujuh akidah Bapak Ibu adalah akidah yang bersambung tidak terputus sampai kepada nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam Saya jamin Pak Saya jamin bersambung sampai kepada nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam beberapa waktu yang lalu Pak beberapa tahun yang lalu saya diminta oleh Ustaz abdulasikal untuk menjadi editor buku beliau buku ini judulnya jawaban cerdas Di manakah Allah subhanahu wa taala sebuah buku yang berjudul jawaban cerdas tentang Di manakah Allah subhanahu wa taala saya saya diminta untuk menjadi editor sehingga saya harus membacanya secara detail pak saya ceritakan dalam banyak kesempatan bapak ibu u sekalian saya harus berhenti Ketika saya membaca buku ini saya harus berhenti karena saya merasa wajib untuk Bersyukur kepada allah subhanahu wa taala betapa saya Bersyukur kepada allah subhanahu wa taala Ketika saya mengetahui akidah yang saya miliki adalah akidah yang bersambung kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam kenapa Karena di dalam buku ini Ustaz Abdul tuasikal semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan yang banyak beliau mengutipkan berbagai riwayat dari berbagai generasi Pak secara bersambung dari zaman Rasulullah sampai ulama-ulama belakangan tentang akidah yang benar ini Bahwasanya Allah subhanahu wa taala berada di atas langit ketujuh silakan Bapak Ibu sekalian kalau ingin membacanya dari generasi Bapak Ibu ingin mencari abad manaun ulama yang berasal dari generasi manaun selalu ada ulama yang menjelaskan yang berkeyakinan bahwasanya Allah subhanahu wa taala bersemayam di atas arasy di antaranya juga itulah yang dilakukan oleh Ibnu qudamah tadi Ibnu qudamah membawakan sebuah hadis yang ini adalah perkataan Abdullah bin Mas'ud artinya di antara yang mengatakan Allah subhanahu wa taala berada di atas arasy adalah Abdullah bin Mas'ud banyak sekali P Bapak Ibu sekalian ikhwan dan akhwat banyak sekali para sahabat yang mereka mengatakan Allah berada di atas langit ketujuh Allah berada di di atas Arsy banyak sekali riwayatnya tidak bisa kita menolaknya di antaranya adalah yang sangat jelas perkataan Zainab binti jahsy radhiallahu anha perkataan yang sering diulang-ulang oleh Zainab yang menjadi perkataan Zainab binti jahis radhiallahu anha kata Zainab Allah Zainab berbangga-bangga di hadapan istri-istri nabi yang lainnya kata Zainab kalian semua dinikahkan oleh wali-wali kalian dengan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Adapun aku dinikahkan oleh Allah subhanahu wa taala dari atas langit yang ketujuh lihat Pak ini akidahnya Zainab binti jahsy istri Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam Ibunda orang-orang yang beriman dia mengatakan aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang ketujuh sangat jelas sekali pak ya karena Zainab dinikahkan langsung oleh Allah tidak ada Wali untuk Zainab dari kalangan manusia namun Allah yang menikahkan Zainab dengan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam secara langsung sehingga di sana sangat jelas sekali banyak riwayat-riwayat yang semisal yang menjelaskan akidahnya para sahabat keyakinannya para sahabat bahwa anya Allah berada di atas langit ketujuh berada di atas Arsy demikian juga di sini dikutipkan banyak sekali riwayat dari kalangan para tabiin kaab alahbar masruq ubaid bin Umar qatadah Malik bin Dinar dan ulama-ulama besar lainnya dari kalangan tabiin mereka semua bersepakat Bahwasanya Allah subhanahu wa taala berada di atas ars datang lagi tabi tabiin termasuk tadi generasi tabiut tabiin adalah Imam Malik yang sudah kita baca pendapat Imam Malik Bahwasanya Allah subhanahu wa taala berada di atas arasy dan bahkan empat imam mazhab pun mereka semua bersepakat Bahwasanya Allah subhanahu wa taala bersemayam di atas arasy Allah subhanahu wa taala beristiwa di atas Arsy orang-orang yang kemudian menolak Allah subhanahu wa taala berada di atas Arsy ini orang-orang yang datangnya belakangan Pak tidak ada pendapat ini di zaman para sahabat tidak ada pendapat ini di zaman para tabiin datangnya adalah belakangan sehingga sekali lagi hujan muhammadiban Nafi sehingga sekali lagi Bapak Ibu sekalian bersyukurlah kalau Bapak Ibu sekalian sudah dibukakan hatinya dilapangkan dadanya Untuk menerima untuk berkeyakinan Bahwasanya Allah subhanahu wa taala bersemayam beristiwa di atas Arsy demikian yang kita bahas Pada kesempatan kali ini kita cukupkan pembahasan kita tentang sifat Allah subhanahu wa taala beristiwa di atas arasy pada pertemuan berikutnya Insyaallah kita akan berpindah mengenai keyakinan kita tentang sifat kalam

wasallallahu ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wasallam subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik su asalamualaikum warahmatullahi mwabarakatuh

Daftar Isi | Kajian | Muhammad Rezki Hr | Kitab Lum'atul I'tiqad | Ketinggian Allah

Mutiara Hari Ini

Abu Zubair Hawaary
Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo’a untukku, agar Allah Ta’ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku.
[al Jumu’ah/62 : 10]
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung“.

Kontak

Ukhuwah, kritik, saran, masukan silakan hubungi:

Klik Di Sini