14. Iman kepada Takdir

Kitab Lum'atul I'tiqad (Karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi)

Ustadz Muhammad Rezki Hr

حَفِظَهُ الله تعالى

1
Video

2
Ringkasan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

/

3
Isi Ceramah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Wasallallahu ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wasallam subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaikalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

nahmaduhuuhuagfiruh wa naubillahi minuri anfusina waiati aalinaahdihillahu Fala mudillalah Wam yudlil Fala hadiyaalah wa Ashadu Alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa Ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh Sallallahu Alaihi wa ala alihi wasahbihi Wasallam ikhwani fillah wa akhwati fiddin bapak-bapak ibu-ibu para hadirin dan hadirat para pemirsa rahimaniahimakumullahuan Alhamdulillah kita kembali diberikan kesempatan Oh Allah subhanahu wa taala untuk bisa melanjutkan majelis kita mempelajari kitabatul langsung saja di malam hari ini kita akan melanjutkan kembali pelajaran kita yang mana pada malam hari ini kita akan masuk ke bab yang baru yaitu masalah iman terhadap takdir setelah sebelumnya kita membahas tentang sifat kalam Allah lalu kita berpindah terakhir membahas tentang rukyatullah keimanan kita bahwasanya kita semua akan melihat Allah subhanahu wa taala nanti di negeri akhirat Sekarang kita akan membahas masalah takdir yang ini adalah pembahasan yang sangat penting di antara hal yang menunjukkan pentingnya pembahasan tentang takdir adalah kejadian nyata di zaman dulu Ketika ada seorang yang bernama mabad aljuhani seorang yang pertama kali di negeri Irak di kota Basrah dia menolak takdir mengaku sebagai seorang muslim namun dia menyuarakan yang namanya takdir itu tidak ada dan dia memiliki banyak pengikut dia hidup di zaman tabiin maka oleh sebagian tabiin dikadukan tentang perkara mabad aljuhani ini kepada Abdullah bin Umar mereka sengaja mencari sahabat bertemu dengan Abdullah bin Umar mengadukan tentang perkara mabad aljuhani pergi ke kota Madinah ketemu dengan Abdullah bin Umar di kota Madinah meminta fatwa tentang Bagaimana kita merespon orang yang menolak takdir ini maka kata Abdullah bin Umar di antaranya jawaban Abdullah bin Umar kata Abdullah bin Umar seandainya orang tersebut dia berinfak misla uhudin zahaban dia berinfak sebesar gunung uhud berupa emas maka kata Abdullah bin Umar Allah tidak akan mau menerima infaknya tersebut sampai dia mau beriman dengan takdir maka Barang siapa yang menolak konsep takdir tidak mau beriman dengan takdir Allah tidak akan menerima amalnya seluruhnya meskipun dia orang yang rajin beramal Memiliki amal yang sangat banyak Allah tidak akan menerima amalnya sampai dia mau beriman dengan takdir lalu kemudian Abdullah bin Umar membawakan hadis Jibril jadi konteksnya hadis Jibril yang terkenal itu itu adalah konteksnya ketika Abdullah bin Umar dimintai fatwa Bagaimana kita merespon orang-orang yang menolak takdir ini lalu dibawakan oleh Abdullah bin Umar hadis Jibril ini di antara poin ya poin yang pertama yang menunjukkan tentang pentingnya bagi kita untuk belajar tentang takdir lalu yang kedua yang menunjukkan tentang pentingnya belajar takdir tentang takdir adalah apa yang diucapkan oleh ulama kita yaitu Syekh Muhammad bin shh al-utimin rahimahullah taala ada sebuah perkataan yang sangat baik bagi beliau yang perkataan ini saya kira perlu untuk kita gaungkan di zaman ini kita baca terlebih dahulu kata Syekh ah k Muhammadin tidak ada orang yang lebih baik kehidupannya lebih Tam jiwanya dan lebih kuat ketenangannya melebii orang-orang yang mereka beran terhadap takdir ulangi tidak ada orang yang lebih baik kehidupannya lebih tentram jiwanya dan lebih kuat ketenangannya melebihi orang-orang yang beriman terhadap takdir Allah subhanahu wa taala maka ini di antara faedah ya beliau menyampaikan poin ini kalimat ini beliau sampaikan ketika beliau membahas tentang apa faedahnya ketika kita beriman dengan takdir di anara faedah beriman terhadap takdir adalah akan mend datangkan ketenangan terhadap hidup kita saya katakan Konsep ini atau pemahaman seperti ini perlu kita resonansikan sekarang perlu kita gaungkan sekarang di zaman di mana masalah kesehatan mental ya penyakit-penyakit kejiwaan itu semakin merebak Pak saya tidak tahu apakah bapak-bapak di sini terkhusus yang tinggal di sekitar sini mendengar isu-isu masalah depresi masalah keinginan untuk bunuh diri kami pak di sekitar kampus Ini masalah yang sekarang secara rutin muncul kasus-kasus mengenai gangguan mental bahkan sekarang tingkat bunuh diri meningkat ya baru-baru Ini ada dua kasus Pak dalam hitungan bulan dalam satu bulan belakangan di sekitar UGM di sekitar Pogung tempat kami tinggal di sana ada dua kasus orang kemudian bunuh diri maka kita tidak pastikan seluruhnya bahwasanya orang-orang yang mereka memiliki gangguan mental depresi punya kecenderungan untuk bunuh diri kita tidak katakan mereka pasti mereka tidak beriman dengan takdir tidak namun ada peluang besar karena di sana ada kaitannya masalah keimanan terhadap takdir dengan bagaimana seseorang itu dia memandang berbagai problematika yang ada dalam kehidupannya karena sekali lagi kata berdasarkan kata perkataan Syekh Muhammad bin salin tadi yang kami kutipkan di awal orang-orang yang mereka beriman dengan takdir mereka memiliki ketenangan jiwa yang luar biasa itu jugalah yang dikatakan oleh syikhul Islam Ibnu Taimiyah kata syikhul Islam Ibnu Taimiyah orang-orang beriman mereka yakin bahwasanya apa yang dipilihkan oleh Allah subhanahu wa taala bagi diri mereka itulah yang paling baik ya orang-orang mereka yakin apa yang dipilihkan oleh Allah subhanahu wa taala bagi diri mereka itulah yang terbaik bagi mereka sehingga Apun yang terjadi dalam kehidupan mereka tentunya setelah mereka berupaya setelah mereka berusaha lalu Apun hasilnya yang mereka dapati mereka yakin itulah yang terbaik bagi mereka Maka inilah pentingnya bagi kita semua untuk beriman kepada takdir tentunya dengan keimanan yang benar an yang benar maka akan kita bahas di sini apa yang disampaikan oleh Ibnu quzamah almaqdisi tentang Bagaimana harusnya kita beriman terhadap takdir sebagaimana pembahasan-pembahasan sebelumnya kalimat perkimat yang disampaikan oleh Ibnu qudamah nanti yang akan kita baca itu semua ada maknanya Pak itu semua ada latar belakangnya Kenapa beliau menjelaskan seperti itu Apa latar belakangnya karena adanya kekeliruan-kekeliruan yang dimiliki oleh sekelompok orang ketika mereka berbicara tentang takdir maka di nanti apa yang akan kita bahas kita berfokus pada sebagaimana yang semestinya Bagaimana semestinya kita beriman terhadap takdir kita fokus untuk membahas hal tersebut kalau kita cari Kenapa Ibnu qudamah mengatakan seperti ini nanti ada latar belakangnya karena ada penyimpangan demikian dan demikian dan demikian kita tidak fokus membahas penyimpangannya itu seperti apa saja kita tidak fokus kita hanya berfokus Bagaimana keimanan yang benar saja ya kalau kita mau cari satu persatu ada latar belakangnya itu ada Namun kita tidak akan fokus membahas ke sana namun secara umum saya sampaikan terlebih dahulu ada dua penyimpangan utama dalam masalah takdir ada dua penyimpangan utama dalam masalah takdir ada dua kelompok utama yang mereka keliru dalam pemahaman terkait takdir kelompok yang pertama atau pemahaman yang pertama italah pemahaman yang disebut dengan pemahaman Jabariah Apa itu pemahaman Jabariah yaitu orang-orang yang mereka berkeyakinan bahwasanya yang namanya makhluk kita semua itu dipaksa oleh takdir Allah subhanahu wa taala ya bergerak saya berbicaranya saya ini dipaksa oleh takdir Allah manusia tidak memiliki kehendak sama sekali tidak memiliki pilihan sama sekali semua segala sesuatu yang terjadi itu semua berdasarkan takdir Allah dan kita dalam kondisi terpaksa bergeraknya kita digerakkan oleh Allah memilihnya kita Dipilihkan oleh Allah subhanahu wa taala ini pemahaman keliru yang pertama Pak segala sesuatu itu dipaksa oleh Allah dipaksa oleh takdir Allah pemahaman jabari lalu pemahaman yang kedua yang juga pemahaman keliru kebalikannya kutub ekstrem yang berada pada sisi yang lainnya itulah yang disebut dengan pemahaman qadariah Apa itu pemahaman qadariah qadariah memiliki keyakinan bahwasanya tidak ada takdir kita semua bebas tanpa ada campur tangan takdir Allah semua manusia itu berdiri bebas tanpa ada keterikatan dengan takdir Allah ini pemahaman qadariyah di antara tokohnya tadi yang saya Sebutkan yang sudah muncul di zaman para tabiin yaitu mabad aljuhani gembongnya ada di negeri irakq di kota kufah Maaf di kota Basrah ketika itu Nah maka di antara konsekuensinya Pak nanti ya ini saya singgung sekarang nantib Ibnu qudamah akan menyebutkan bahwasanya yang namanya Amal yang yang namanya perbuatan itu adalah ciptaan Allah perbuatan hamba itu termasuk makhluk Allah termasuk ciptaan Allah para ulama mereka senantiasa membahas hal seperti ini bahkan Al Imam albukhari sampai punya kitab khusus berjudul khqu afalil Ibad beliau mengumpulkan berbagai hadis yang dalam rangka untuk menyimpulkan bahwasanya yang namanya perbuatan hamba amal seorang hamba itu adalah ciptaan Allah subhanahu wa taala kenapa sampai ada pembahasan seperti ini karena di antara pemahaman turunan dari pemahaman ee qadariyah kata qadariyah yang namanya perbuatan hamba itu adalah ciptaan hamba perbuatan hamba adalah ciptaan hamba itu sendiri demikian di antara pemahaman qadariyah makanya para ulama kemudian mereka sampai secara spesifik menyebutkan membuat kalimat di antaranya Ibnu qudamah nanti akan menyampaikan kalimat yang namanya perbuatan hamba itu adalah ciptaan Allah subhanahu wa taala akan kita bahas barangkali kita akan menyelesaikannya pembahasan yang disampaikan oleh Ibnu qudamah di sini kita akan membahasnya dalam dua pertemuan Insyaallah kita baca kata Ibnu qudamah di sana Wamin sifatillahi taala annahu fa'alu lima yurid di antara sifat Allah Taala adalah Bahwasanya Allah subhanahu wa taala Dia Maha berbuat sesuai dengan kehendaknya Ya Allah Maha berkehendak Ya Allah Maha melakukan apa yang dikehendaki hleh Allah subhanahu wa taala tidak ada terjadi Apun kecuali dengan kehendaknya sehinggaala sesuatu itu terjadi dengan kehendak Allah subhanahu wa taala Nah jadi Sebelum kita lanjutkan barangkali Sudah ada Bapak Ibu yang bertanya tadi Ketika saya Sebutkan Jabariyah mereka memiliki anggapan makhluk itu dipaksa oleh takdir Allah Adapun qadariyah mereka memiliki anggapan tidak ada takdir kita semua bebas dalam memilih lalu Bagaimana bentuk komprominya Bagaimana sesungguhnya ahlusunah Wal Jamaah berkeyakinan maka ahlusunah Wal Jamaah berkeyakinan takdir itu ada kita wajib untuk beriman dengan takdir ketetapan Allah subhanahu wa taala itu ada Ini satu kedua kita juga berkeyakinan bahwasanya kita semua memiliki pilihan Pak kita semua dibebaskan oleh Allah subhanahu wa taala untuk memilih bebas mau beriman mau kafir kita memiliki kehendak untuk memilih mau bermaksiat mau taat Itu semua adalah pilihan kita namun segala yang kita pilih itu tidak mungkin akan terwujud kecuali kalau berkecocokan dengan kehendak Allah subhanahu wa taala berkecocokan dengan apa yang telah Allah tetapkan tidak mungkin bisa terwujud kalau tidak berkecocokan yaall mereka itu tidaklah berkehendak kecuali kalau Allah juga berkehendak sehingga Kalau bertemu kehendak kita dengan kehendak Allah baru akan terwujud ya Sehingga itulah dia jalan tengahnya kehendak Allah itu ada takdir Allah itu ada dan kita juga semua memiliki pilihan bukanlah kita ini sesuatu yang dipaksa oleh Allah subhanahu wa taala dalam kita bertindak tanduk dalam kita berperilaku dalam kita berbuat itu semua bukanlah atas paksaan Allah subhanahu wa taala Allah memberikan kita kemampuan Allah memberikan kita kebebasan kemampuan untuk berpikir kemampuan untuk menentukan maka terkait perkataan Ibnu qudamah almaqdisi di sana La yakunu saaiun illa biirodtihi tidak ada segala sesuatu apapun yang terjadi kecuali dengan kehendaknya maka di sini kita akan sampaikan pembahasan terlebih dahulu tentang iradatullah Bapak Ibu sekalian ya ini di antara titik tengahnya ya yang menunjukkan tentang bagaimana akidah ahlusunah Wal Jamaah itu adalah akidah pertengahan di antara akidah Jabariyah dan akidah ee qadariyah tadi adalah dalam permasalahan iradatullah masalah kehendak Allah baik perlu kita ketahui bahwasanya kehendak Allah itu ada dua jenis Pak kehendak Allah itu ada dua jenis kehendak Allah yang pertama itulah yang disebut dengan iradah kauniah kehendak Allah yang bersifat kauniah Apa itu kehendak Allah yang bersifat kauniah itulah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini segala sesuatu yang ter jadi di dunia ini Itu semua terjadi hanya atas kehendak Allah dan itu tidak menunjukkan Bahwasanya Allah Rida terhadap hal tersebut ya Saya ulangi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini itu semua atas kehendak kauniah atas kehendak kauniah Allah inilah yang Allah firmankan dalam Alquran misalnya Allah sebutkan dalam surah Yasin innama amruhu aranquahu Kun Fayakun kata Allah subhanahu wa taala sesungguhnya perintah Allah itu apabila Allah menghendakinya apabila Allah menghendaki sesuatu maka Allah akan berkata jadilah maka akan jadi Jadi maksudnya kalau Allah berkehendak dengan kehendak kauniah ini maka pasti akan terjadi tidak mungkin akan terjadi sesuatu tanpa kehendak kauniah Allah ini kehendak Yang pertama iradah kauniah namanya ada iradah yang kedua yang disebut dengan iradah syariah kehendak Syari sesuatu yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa taala secara syari kehendak ini adalah sesuatu yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala ya kehendak ini adalah sesuatu yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala saya sebutkan contohnya misalnya kata Allah subhanahu wa taala wallahu yuriduatuba alaikum Allah itu menghendaki untuk menerima Taubat kalian Allah menghendaki untuk menerima kehendak kalian ini contoh iradah ka iradah Syariah jadi iradah Syariah itu adalah sesuatu yang dicintai ole oleh Allah subhanahu wa taala ya Jadi langsung saja Pak kita sebutkan contohnya misal benar atau tidak kalau kalau kita katakan ada orang mencuri maka orang mencuri tersebut atas kehendak Allah subhanahu wa taala benar atau tidak kalimat tersebut orang tersebut dia mencuri atas kehendak Allah benar atau tidak kalimat tersebut benar kalau yang kita maksudkan adalah kehendak kauniah karena tidak mungkin ada terjadi sesuatu di dunia ini kecuali atas izin Allah dia terjadi seperti itu artinya Allah menghendakinya untuk terjadi namun hal tersebut tidak menunjukkan Bahwasanya Allah meridai dan mencintai orang mencuri tersebut itu yang disebut sebagai iradah kauniah ini kehendak Allah subhanahu wa taala namun tidak tidak bermakna Allah mencintai dan meridai hal tersebut ya Adapun misalnya Adapun terkait iradah Syariah itu belum tentu terjadi Allah menghendaki demikian namun belum tentu terjadi Allah menghendaki hamba-hambanya itu beriman Allah menghendaki hamba-hambanya itu mendapatkan petunjuk allah menghendaki hamba-hambanya itu bertaubat ya lihat Pak Allah apa yang Allah firmankan dalam surat alfajr ininaamubum jahanam walumab tentang Ashabul ukdud Pak perbuatan Ashabul ukhdud itu mereka membakar orang-orang yang beriman hanya karena iman mereka mereka tahu manusia manusia ini beriman kepada Allah mereka azab mereka siksa dan mereka buat Parit lalu mereka masukkan ke dalam pari itu mereka bakar hidup-hidup ini perbuatan Ashabul ukhdud lalu kata Allah subhanah ininaminat orang-orang yang seperti itu yang berbuat seperti itu terhadap orang-orang yang beriman dari kalangan laki-laki dan perempuanamatubu lalu mereka tidak bertobat kata Allah Subhanahu Wa taalaahumabu jahanam wumabul Har bagi mereka azab jahanam dan bagi mereka azab yang pedih lihat kata Hasan albasri perhatikan ketika alhan albasri menafsirkan ayat tadi kata al-han albasri perhatikanlah oleh kalian betapa besarnya kasih sayang Allah subhanahu wa taala Allah masih menunggu tbat dari mereka ketika Allah subhanahu wa taala mengatakanamatubu ya orang-orang Ashabul ukhdud ini ketika mereka mengazab orang-orang beriman kalau kata Allah subhanahu wa taala kalau mereka itu tidak bertaubat maka baru Allah akan mengazab mere mereka artinya Allah masih menunggu tobat mereka Allah masih menunggu tobat mereka tapi mereka tidak bertobat barulah mereka berhak untuk mendapatkan azab jahanam kata al-han albasri perhatikanlah betapa pemurahnya Allah subhanahu wa taala betapa penyayangnya Allah subhanahu wa taala terhadap hamba-hamb-anya demikian lancangnya mereka mengazab orang-orang beriman membakar orang-orang beriman tapi Allah masih menunggu tbat mereka Nah Lihat dalam kasus ini Allah berkehendak Allah menghendaki para pelaku maksiat ini orang-orang yang membakar orang-orang beriman ini Allah menghendaki mereka agar bertaubat tapi tidak terwujud mereka sendiri yang memilih untuk tidak bertobat makanya kemudian mereka berhak untuk mendapatkan azab Allah subhanahu wa taala maka ini yang yang disebut dengan iradah syariah sesuatu yang diinginkan oleh Allah subhanahu wa taala sesuatu yang dicintai dan diridai oleh Allah subhanahu wa taala namun dia belum tentu terwujud Allah menghendakinya namun dia belum tentu terwujud ini disebut sebagai iradah Syariah nah sehingga kita kembali lagi kata Ibnu qudamah almaqdisi di sana La yakunu saaiun illa biirtihi tidak ada segala sesuatu yang terjadi kecuali dengan kehendaknya maka Kehendak di sana yang dimaksudkan oleh penulis yaitu kehendak kauniah iradah kauniah wuntihi tidak ada sesuatuun yang keluar dari keinginan Allah Subhanahu Wa taalaamunak tidak ada Apun di alam semesta ini yang bisa keluar dari takdirnya Tidak ada mungkin tidak tidak mungkin yang ada tidak mungkin ada yang mampu keluar dari takdir Allah subhanahu wa taala tidak ada yang bersandar kecuali dari pengaturannya W mahqar alduri tidak ada yang meliputi takdir yang ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa taala W dan tidak ada yang bisa melampaui apa-apa yang telah tertulis di dalam Lauhul mahfuz aramu failu dia menghendaki ya Saya kira terjemahnya keliru Di sana saya cek terlebih dahulu terkait makna arod Mal alamu fa'iluhu ya jadi dia menghendaki Apa yang dilakukan oleh alam semesta ya jadi maknanya adalah dia menghendaki apa yang diinginkan oleh alam semesta Jadi apapun yang terjadi apapun yang dilakukan di alam semesta ini itu semua atas kehendak Allah subhanahu wa taala w asahum l khfahu seandainya Allah ingin menjaga mereka Maka mereka tidak akan bisa menyelisihinya ya kalau Allah ingin mewujudkan sesuatu maka tidak akan ada yang bisa menyelisihinyauanu seandainya Allah subhanahu wa taala berkehendak seluruh makhluk itu taat kepada Allah subhanahu wa taala maka pasti mereka semua akan mentaati Allah Subhanahu Wa taalaqq waum nah ini yang menjadi e pelajaran penting juga kata Ibnu quudamah Allah menciptakan makhluk Dan juga perbuatan mereka seluruhnya jadi ini di antara akidah kita pak Kita semua adalah ciptaan Allah perbuatan kita juga adalah ciptaan Allah subhanahu wa taala Allah subhanahu wa taala firmankan terkait hal tersebut sangat jelas sekali Allah firmankan wallahu khalaqokum walun dalam surah assfat ayat 96 kata Allah subhanahu wa taala Allahlah yang menciptakan kalian dan juga yang menciptakan apa yang kalian perbuat Allahlah yang menciptakan kalian dan juga menciptakan apa yang kalian perbuat sehingga ini akidah kita ahlusunah Wal Jamaah tidak seperti akidahnya qadariyah ya di anara akidah qadariyah karena mereka tidak beriman dengan adanya takdir mereka mengatakan bahwasanya kita semua adalah ciptaan Allah manusia adalah ciptaan Allah namun perbuatan hamba perbuatan manusia itu Bukan ciptaan Allah ini di antara akidah qadariah waqadar arzaqahum waahum Allahlah yang telah mentakdirkan tentang rezeki para hamba dan Allahlah pulalah yang telah mentakdirkan ajal mereka yahdiasya birahmatihi Allah memberikan petunjuk bagi siapa-siapa saja yang dia kehendaki dengan kasih sayangnya dan Allahhu ta menyes siap yang diendinya unuk Ses himnya Allah subhahu wa taal berfirman ta ditanya tentang ketetapan-ketetapannya akan tetapi merekalah yang akan ditanya yaitu kita semua para hambalah yang akan ditanya oleh Allah subhanahu wa taala Allah subhanahu wa taala juga berfirman Inna kulla saiin khalaqnahu biqadar segala sesuatu kami ciptakan sesuai dengan takdir-takdirnya ya maka ayat ini sangat jelas sekali menunjukkan bahwasanya takdir itu ada qadariyah ketika mereka menolak takdir Artinya mereka mengingkari alqamar ayat 49 ini ya di antara yang diingkari oleh qadariyah ketika mereka Menolak adanya takdir mereka ingkar dengan firman Allah subhanahu wa taala alqamar 49 innainqnahu biqar Sesungguhnya kami ciptakan segala sesuatu dengan takdirnya Allah subhanahu wa taala juga berfirman wqqdarudir dan kami dan dialah yang menciptakan segala sesuatu dan yang menentukan takdir-takdirnya ya secara jelas Allah katakan Allahlah yang menciptakan segala sesuatu sekaligus dengan takdir-takdirnya Jadi segala sesuatu itu sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa taala takdirnya Allah subhanahu wa taala juga berfirman Ma Asa musibatin F Ardi W Fi anfusikum Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya tidak ada musibah Apun di muka bumi dan tidak pula pada diri kalian melainkan hal tersebut telah tercatat Di dalam kitab Lauhul Mahfud sebelum kami menciptakannya sehingga di sini juga jelas sekali Allah menjelaskan tentang adanya ketetapan segala sesuatu itu telah Allah takdirkan di dalam Lauhul mahfuz ya Sehingga di sini kalau kita kompromikan ayatnya di sini Allah sebutkan Ma asoba musibatin fil Ardi W Fi anfusikum illa Fi kitab segala musibah yang terjadi itu kata Allah subhanahu wa taala entah itu terjadi di bumi atau pada diri kalian itu semua sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa taala di dalam Lauhul mahfuz sudah dituliskan satu ayat menyatakan Kakan demikian ayat lain Allah sebutkan ma ma asobakum Min musibatin fabima kasabat aidikum ya segala sesuatu musibah yang menimpa kalian kata Allah subhanahu wa taala itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri kalian yang melakukannya kalian yang memilihnya maka kalian Kemudian ditimpakan oleh musibah maka perhatikan musibah di satu sisi Allah katakan itu semua sudah takdir namun di tempat lainnya Allah subhanahu wa taala mengatakan musibah itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri sehingga itulah dia akidah kita semua takdir Allah itu ada dan kita semua diberikan pilihan oleh Allah subhanahu wa taala kita semua diberikan kebebasan oleh Allah subhanahu wa taala untuk memilih untuk berbuat dengan keinginan kita namun itu semua tidak akan terwujud kecuali kalau berkecocokan dengan takdir Allah subhanahu wa taala Allah subhanahu wa taala juga berfirmanuridillahu ayahdiahu yasrahodrahu Lil Islam wamurid ayudillahu yajaladrahuqan Hara Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk maka Allah akan melapangkan dadanya untuk menerima agama Islam dan barang siapa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa taala kesesatan atasnya niscaya Allah akan menjadikan dadanya sesak lagi sempit seolah-olah Dia sedang mendaki ke langit kemudian Ibnu Jibril alaihambiallahu Alaihi Wasallam diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwasanya Jibril pernah bertanya kepada nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam tentang Apa itu iman ya Jibril pernah bertanya kepada nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam tentang Apa itu iman ya pada hadis Jibril hadis Jibril hadis yang terkenal Namun kita baca lagi ketika nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam ditanya oleh Jibril Apa itu iman nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam menjawab antuminaa Billahi wa malaikatihi wa kutubihi wa rasulihi Wal Yaumil akhiri waabilqadari khairihi wa syarriihi nabi ketika ditanya tentang iman beliau menjawab yang namanya Iman engkau beriman kepada Allah kepada para malaikatnya kepada kitab-kitabnya kepada para rasulnya kepada hari akhir dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk kemudian Jibril menjawab kamu telah menjawab dengan benar maka di sana nabi menjelaskan tentang rukun iman di anara rukun iman adalah engkau beriman kepada takdir baik itu takdirnya buruk takdirnya baik atau takdirnya buruk kedua-duanya kita harus mengimaninya waqal nabi shallallallahu Alaihi Wasallam Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda amantu bilqadari khairihi waarrihi wa hulwihi waurrihi aku beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk yang manis maupun yang pahit jadi terkait hal ini perlu kita pahami ada istilah takdir yang baik dan takdir yang buruk Pak namun ada juga istilah semua takdir Allah itu baik ya sebagaimana tadi saya Sebutkan di anaranya sikhul Islam yang mengatakan takdir Allah subhanahu wa taala itu bagi orang-orang beriman itulah yang terbaik bagi mereka takdir Allah subhanahu wa taala bagi orang-or orang beriman itulah yang terbaik bagi mereka sehingga ada ungkapan takdir Allah itu semuanya baik namun dalam hadis kita mendapatkan takdir itu ada yang baik ada yang buruk Bagaimana bentuk komprominya maka bentuk komprominya adalah takdir itu baik dan buruk kalau kita melihat dari sisi hamba kalau kita melihat dari sisi hamba maka takdir itu ada yang baik ada yang buruk Ketika seseorang itu dia diberikan kesehatan maka ini bagi dia takdir yang baik ketika dia diberikan penyakit diberikan musibah diberikan kemiskinan ini takdir yang tidak baik bagi dirinya dari sudut pandang hamba ini takdir baik ini takdir buruk Adapun dari sisi allah subhanahu wa taala seluruh takdir itu semuanya baik seluruh takdir itu semuanya baik tidak ada yang buruk atas perbuatan Allah subhanahu wa taala jadi misalnya tadi dalam hal yang buruk bagi bagi seorang hamba itu juga baik dalam sudut pandang ini perbuatan Allah subhanahu wa taala misalnya ketika seorang hamba itu dia diberikan penyakit oleh Allah subhanahu wa taala itu sesuatu yang baik bagi dia karena Allah ingin menggugurkan dosa-dosanya ketika seorang itu dia diberikan musibah maka ini juga adalah perbuatan yang baik dari Allah subhanahu wa taala karena Allah ingin mengampunkan dosa dosanya Ketika seseorang itu diberikan kemiskinan oleh Allah subhanahu wa taala maka ini juga adalah sesuatu yang baik dari Allah subhanahu wa taala karena Allah tahu Seandainya dia diberikan kekayaan misalnya maka dia akan menyimpang maka dia akan berbuat maksiat dengan kekayaannya tersebut maka seluruhnya dari sisi allah subhanahu wa taala adalah sesuatu yang baik buruk atau baik itu hanya dalam sudut pandang seorang hamba dan di antara doa Nabi S wasam Nabi wasam Al Hasan ibnu Ali di anara doa yang diajarkan oleh Nabi S wasam kepada cucu beliau alhan bin Ali yang doa ini dibaca dalam Qunut Witir adalah doain jagalah aku dari keburukan apa yang telah engkau takdirkan sehingga segala sesuatu itu sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa taala entah itu baik ataupun buruk segala sesuatu itu merupakan bagian dari takdir Allah subhanahu wa taala baik kita cukupkan demikian pembahasan tentang takdir kita membaca apa yang disampaikan oleh Ibnu qudamah terlebih dahulu ya Ee pekan depan Insyaallah akan saya coba jelaskan secara lebih sederhana ya kalau kita mengikuti polanya Ibnu qudamah memang tidak terlalu berurutan sehingga saya tahu sebagian Bapak Ibu mungkin ada yang kebingungan dari ee urutan yang disampaikan oleh Beliau ya Insyaallah akan saya coba susun lagi pada pertemuan berikutnya dari apa yang beliau sampaikan ee di sana saya akan susun ulang dan saya sampaikan kepada Bapak Ibu sekalian pada pertemuan yang berikutnya termasuk yang ini sering menjadi pertanyaan banyak orang bolehkah seseorang itu dia berhujah dengan takdir Allah subhanahu wa taala untuk berbuat kejelekan untuk berbuat maksiat dia tidak salat lalu dia mengatakan saya kan tidak salat atas takdir Allah dia tidak berpuasa dia bermaksiat lalu dia kemudian ketika dia ditegur Dia kemudian berhujah atas perbuatannya tersebut dengan takdir Allah subhanahu wa taala maka akan kita coba Jelaskan hal tersebut pada pertemuan yang berikutnya Insyaallah kita cukupkan demikian mudah-mudahan Allah Berikan pemahaman wasallallahu ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wasallam subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik talamualaikum warahmatullahi wabarakatuh alhamdulillahm

wasallallahu ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wasallam subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik su asalamualaikum warahmatullahi mwabarakatuh

Daftar Isi | Kajian | Muhammad Rezki Hr | Kitab Lum'atul I'tiqad | Iman kepada Takdir

Mutiara Hari Ini

Abu Zubair Hawaary
Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo’a untukku, agar Allah Ta’ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku.
[al Jumu’ah/62 : 10]
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung“.

Kontak

Ukhuwah, kritik, saran, masukan silakan hubungi:

Klik Di Sini