Al Qowaidul Mutsla 4
Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny, M.A.
حَفِظَهُ الله تعالى
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Hadirin dan hadirat Alhamdulillah segala puji kita terus panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas nikmat-nikmatnya yang tak terhingga yang terus Allah berikan kepada kita mudah-mudahan kita dijadikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagai hamba-hambanya yang semangat dalam mensyukuri nikmat-nikmatnya sehingga Allah subhanahu wa ta'ala jaga nikmat-nikmat ini dan memberikan kepada kita tambahan nikmat yang lainnya amin amin ya robbal alamin semoga selalu terlimpahkan kepada nabi yang sangat kita cintai nabi yang sangat kita junjung tinggi nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam keluarga beliau menurut sahabat beliau dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti beliau dan para sahabatnya dengan baik hingga akhir zaman sekalian kaum muslimin dan kaum muslimat hadirin dan hadirat rahimana rahimakumullah pada kesempatan kali ini kita akan membahas kaidah yang kelima dan kaidah yang keenam yang berkaitan dengan nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala yang kelima asma Allah hitam nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala itu maksudnya harus berdasarkan dalil yang disebutkan oleh dalil kita tetapkan yang tidak disebutkan oleh dalil maka kita upstain kita tidak menafikan kita juga tidak menetapkan kalau kita ingin menetapkan harus ada dalilnya yang jelas dalilnya yang shahih itu maksud dari asma Allah ta'ala semua nama Allah subhanahu wa ta'ala itu harus berdasarkan dalil lama tidak ada ruang untuk akal dalam menetapkan nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala tidak boleh hanya dengan akal kita kita menetapkan nama bagi Allah subhanahu wa ta'ala padahal tidak ada Naff yang menjelaskannya ini daerah yang sangat penting
Ini daerah yang sangat penting yang harus kita pahami harus kita pelajari dengan kaidah ini kita bisa terhindar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh banyak manusia yang mereka memberikan nama kepada Allah subhanahu wa ta'ala tanpa mendasarinya dengan dalil Muhammad
Wa sunnah oleh karena itu kita harus mendasari penetapan nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala dengan dalil Alkitab dan as-sunnah dalil-dalil yang datang dalam Alquran dan as-sunnah tentang nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala itu yang kita jadikan sebagai sandaran untuk menetapkan nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala tidak boleh ditambah tidak boleh juga untuk dikurangi karena harus berdasarkan dalil kalau kita tambah maka sangat mungkin kita terjatuh ke dalam salah disebutkan di dalam syarahnya kitab ini yaitu ketika mengatakan tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi dia mengatakan
Karena kalau kita menambahkan nama Allah subhanahu wa ta'ala padahal tidak ada dalilnya dari Alquran dan Sunnah maka itu berarti kita mengatakan tentang Allah tanpa dasar ilmu
Itu berarti kita mengatakan tentang Allah tanpa dasar ilmu berarti kita menyembunyikan sebagian dari nama Allah subhanahu wa ta'ala sebagian yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan rasulnya ini kenapa kita harus mendasari nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala dengan dalil dari AlQuran dan Sunnah karena kalau kita mengatakan tentang nama Allah subhanahu wa ta'ala tanpa dalil maka kita berarti mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa dasar apa Kita tidak boleh menambahkan sesuatu pada nama Allah subhanahu wa ta'ala kita tidak boleh mengurangi nama Allah yang sudah di sebutkan baik di dalam Alquran maupun di dalam sunnah Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian Muhammad menyebutkan alasan kenapa dalam menetapkan nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala kita harus mendasarinya dengan dalil beliau mengatakan manusia itu tidak mungkin mengetahui nama yang pantas bagi Allah subhanahu wa ta'ala akan manusia tidak mungkin mengetahui nama-nama yang benar-benar pantas bagi Allah subhanahu wa ta'ala makanya kita harus mendasari penetapan nama Allah subhanahu wa ta'ala dengan benar dari Alquran dan Sunnah kemudian beliau menyebutkan firman Allah subhanahu wa ta'ala hal ini karena firman Allah subhanahu wa ta'ala jangan sampai engkau mengikuti sesuatu yang belum engkau ketahui jangan mengikuti sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentangnya kalau tidak punya ilmu tentang salah satu dari nama Allah subhanahu wa ta'ala maka jangan katakan itu namanya Allah subhanahu wa ta'ala jangan sampai engkau mengikuti sesuatu yang kalian yang engkau tidak punya ilmu tentangnya ikan sesungguhnya pendengaran penglihatan dan hati semuanya nantinya akan dimintai pertanggungjawaban semuanya nanti akan ditanya oleh Allah subhanahu wa ta'ala
Makanya kita harus berhati-hati dalam bertindak dalam berbuat dalam mengatakan sesuatu kita harus mendasari perbuatan-perbuatan kita ucapan-ucapan kita keyakinan-keyakinan kita dengan dalil yang kuat Allah subhanahu wa ta'ala
Menyebutkan dalil yang kedua yang mengatakan begitu pula karena firman Allah subhanahu wa ta'ala
La la ta'lamun sesungguhnya yang diharamkan oleh rabbku adalah perbuatan-perbuatan keji baik yang tampak maupun yang samar dan dosa yang dimaksud dengan dosa di sini adalah dosa yang berkaitan dengan dirinya sendiri dia dalam kesendiriannya melakukan dosa dia melakukan dosa yang tidak ada hubungannya dengan orang lain ini maksud dari maksiat yang berkaitan dengan dia saja tidak berkaitan dengan orang lain di sini adalah kezaliman seseorang kepada orang lain kezaliman seseorang kepada orang lain jadi di sini dosa kemaksiatan yang ada hubungannya dengan orang lain dia menzalimi orang lain itu yang dimaksud dengan tanpa alasan yang dibenarkan ini kata para ulama sifat ini itu sifat sebagai penjelasan saja bukan berarti ada Al dari yang bukan berarti ada kezaliman yang hak itu ndak dikatakan di sini kezaliman yang tidak penelitian yang tidak ada alasan yang membenarkannya bukan berarti ada kezaliman yang dibenarkan jadi di sini sifatnya tidak ada makmumnya tidak ada logika terbaliknya ini juga diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan ketika kalian melakukan kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta'ala malam dengan sesuatu yang tidak ada dalilnya ini bukan berarti di sana ada ke sini kan menyekutukan Allah subhanahu wa ta'ala dengan sesuatu yang ada dalilnya bukan berarti ada yang seperti itu ini juga sifatun kasyifa ini penjelasan saja ketika kalian melakukan kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan sesuatu yang tidak ada dalilnya dengan sesuatu yang tidak ada dalilnya ini anak sebagai penjelasannya tidak bisa diambil mufakat yaitu logika terbaliknya kalau dikatakan dan ketika kalian melakukan kesyidikan kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan sesuatu yang tidak ada dalilnya tidak bisa dipertanyakan apakah di sana ada keslikan yang ada dalilnya apakah di sana ada kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan sesuatu yang ada dalilnya jawabannya tidak ada karena kata-kata sebagai penjelasan saja semua kesyirikan semua tindakan menyekutukan Allah subhanahu wa ta'ala dengan sesuatu pasti tidak ada dalil makanya dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan ini surat al-mu'minun warna siapa yang berdoa kepada tuhan lain bersamaan dengan Allah subhanahu wa ta'ala jadi dia meminta kepada Allah juga meminta kepada yang lainnya tidak ada dalil dan bukti sama sekali begitu ya Dia tidak punya dalil apapun untuk melakukan perbuatannya itu semua mau dicari dalil-dalil yang banyak tetap temuan da
Dan ketika kalian mengatakan tentang Allah subhanahu wa ta'ala sesuatu yang kalian tidak bermacam-macam dosa ada beberapa dosa yang Allah sebutkan di dalam ayat yang pertama perbuatan-perbuatan dengan kemudian seseorang yang tidak berkaitan dengan orang lain kemudian dosa yang ketiga kezaliman dia melakukan kezaliman kepada orang lain ada hubungannya dengan melakukan syirikan tentang Allah tanpa dasar ilmu mengatakan tentang Allah dan pada dasar ilmu dalam konteks ini adalah dosa yang paling yaitu mengatakan tentang Allah tanpa dasar hanya kita tidak boleh mengatakan bahwa ini nama Allah kecuali berdasarkan apa dari Alquran ataupun istilah Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan beberapa dalil dan telah disebutkan ada tiga dalil yang pertama karena akal itu tidak mungkin mengetahui nama-nama yang benar-benar di fantasi oleh Allah subhanahu wa ta'ala tidak mungkin mengetahui nama-nama yang benar-benar pantas Allah subhanahu wa ta'ala soalnya jangan sampai engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentangnya kemudian ayat yang ketiga Muhammad sesungguhnya rabbku mengharamkan dan macam-macam yang paling akhir mengatakan sesuatu tentang Allah dan pada dasar-dasar kemudian syekh Muhammad rahimahullah menyebutkan dalil yang ke-4 kenapa nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala harus didasarkan kepada dalil tidak boleh hanya didasarkan kepada akal saja beliau mengatakan karena memberikan nama kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan nama yang tidak dia berikan untuk dirinya dari nama yang sudah ditetapkan untuk dirinya adalah ini adalah tindakan kejahatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala ini adalah tindakan kezaliman kepada Allah subhanahu wa ta'ala bahwa
Terhadap Allah subhanahu wa ta'ala kalau Allah subhanahu wa ta'ala tidak menyebutkan itu sebagai namanya maka harusnya dia tidak sempurna dengan mengatakan bahwa ini namanya Allah subhanahu wa ta'ala kepada Allah subhanahu wa ta'ala mencukupkan diri dengan nama-nama yang disebutkan di dalam ini diterapkan pada manusia saja itu tindakan yang salah apalagi kalau diterapkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala kemudian ada orang lain dia tahu kalau namanya Joko tapi dia manggilnya Paijo ya Paijo dipanggil terus siapa ijo yang baik itu senang tidak dia bisa marah saya itu kasih nama saya Joko dipanggil Paijo ini manusia saja tindakan yang tidak beradab tindakan yang tidak sopan ini kesalahan bagaimana kalau dengan Allah subhanahu wa ta'ala untuk menjaga adab kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala sehingga jangan sampai kita memberikan nama kepada Allah subhanahu wa taala dengan nama-nama yang tidak disebutkan di dalam Alquran dan sunnah Nabi sallallahu alaihi wasallam bagaimana kaidah yang kelima jelas ya jadi kita tidak boleh menyebut atau memberikan nama untuk Allah subhanahu wa taala kecuali nama-nama yang disebutkan di dalam Alquran dan hadis yang masih kalau tidak demikian berarti kita melakukan tindakan yang sangat tidak beradab kepada Allah subhanahu wa ta'ala berarti kita mengatakan tentang Allah subhanahu wa ta'ala tanpa dasar ilmu berarti kita mengikuti sesuatu yang kita tidak punya ilmu tentangnya karena ada sesuatu yang mirip dengan nama jangan ada sesuatu yang mirip dengan nama yaitu penyebutan sifat penyebutan sifat Allah subhanahu wa ta'ala misalnya dikatakan mengajak bicara kepada Nabi Musa berarti Allah subhanahu wa ta'ala adalah yang berbicara butakan lebih ini tidak boleh kita jadikan nama bagi Allah subhanahu wa ta'ala sedang itu bahasa arabnya artinya apa orang yang berbicara atau zat yang berbicara tidak boleh kita jadikan mutakallim ini sebagai nama bagi Allah subhanahu wa ta'ala tapi kalau kita hanya menjadikannya sebagai penyebutan sifat mengabarkan tentang sifat Allah subhanahu wa ta'ala maka tidak Allah itu mudah sekali Allah itu berbicara tidak ada masalah penyebab sifat kita mengabarkan tentang sifat Allah subhanahu wa ta'ala
Allah subhanahu wa ta'ala disebutkan di dalam hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam turun ke langit dunia sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala kita itu turun langit dunia di sepertiga malam terakhir
Langit dunia di sepertiga malam terakhir
Apa yang menunjukkan makna pelaku nazil
Tapi kita tidak boleh menjadikan nazil ini sebagai nama bagi ini orangnya sedang mengabarkan tentang sifat Allah subhanahu wa ta'ala mengabarkan tentang perbuatan Allah subhanahu wa ta'ala sehingga dia kalau babnya itu tetap mengabarkan tentang sifat mengabarkan tentang perbuatan maka tidak masalah tapi kalau dijadikan nama bagi Allah subhanahu wa ta'ala maka ini bisa diketahui nama-nama Allah
Yang penting karena banyak orang yang salah paham tentang kaidah ini tentang masalah yang dijelaskan dalam kaidah orang banyak yang salah paham tentang masalah yang dijelaskan kaidahnya berbunyi dibatasi dengan bilangan-bilangan tertentu ketika dikatakan nama Allah itu 99 bahkan kalau kita kumpulkan nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala yang disebutkan di dalam Alquran dan Sunnah kita akan mendapatkan lebih dari 99 nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala tidak hanya yang disebutkan di dalam Alquran dan di sana ada nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala yang tidak diketahui kecuali oleh dirinya saya yang mengetahuinya kecuali Allah subhanahu kaidahnya berbunyi nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala itu tidak terbatas tidak dibatasi oleh bilangan tertentu dalil dari kaidah ini adalah sabda nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis yang doanya beliau Muhammad shallallahu alaihi wasallam aku memohon kepadaMu ya Allah dengan peran semua nama yang engkau miliki Ya Allah dengan perantara semua nama yang engkau memiliki menyebut dirimu dengan nama itu kita umumkan nama itu dalam kitabnya tahu ajarkan nama tersebut kepada salah seorang dari makhlukmu dan kepada semuanya ketika ada salah seorang dari makhlukmu saja di sini tidak ada yang mengetahui kecuali dirimu di sana dan nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala disebutkan di dalam Alquran dan Sunnah sehingga kita tidak bisa mengatakan bahwa nama Allah itu misalnya 99 nama Allah itu misalnya 100 200 300 karena ini perkataan Allah tanpa dasar ya Allah dengan para penguasa itu keturunan di dalam kitab ajarkan kepada salah seorang dari makhlukNya kecil dari antara rasul nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala wa ta'ala seperti ini merupakan tawakal sangat mudah kita bisa menggantinya tapi waktunya masih asisten waktunya masih sama kalau ditanya yang ada dalam
Allah subhanahu wa ta'ala itu punya nama-nama yang paling baik dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah
Dan semua sifat-sifat yang paling mulia ini dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah secara global dengan nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala