1

Video Kajian

Jika video tidak dapat diputar, silakan Tonton di YouTube.

Tentang Kajian Ini

Kajian pertemuan ke-1 dalam seri Rahasia Takdir yang membahas tentang rahasia takdir. Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Alumni Universitas Islam Madinah memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.

2

Ringkasan Kajian

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

---

Ringkasan Kajian: Rahasia Takdir

Kajian ini mengupas tuntas perkara takdir yang seringkali menjadi "rahasia" atau sesuatu yang rumit dipahami oleh akal manusia, mulai dari proses penulisan skenarionya di Lauhul Mahfudz (50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi) hingga tahap eksekusi kenyataannya (Qadha').

Ustadz menjabarkan 5 Pilar Keyakinan Ahlussunnah Wal Jamaah tentang Takdir:
1. Memahami takdir berpijak murni pada teks Al-Qur'an dan Sunnah.
2. Meyakini Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu secara mutlak.
3. Meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah semata. Meskipun manusia memiliki kehendak, kehendak manusia itu selalu berada di bawah kehendak Allah.
4. Meyakini cakupan Ilmu Allah yang Maha Meliputisegala ruang dan waktu (sebelum, sedang, setelah, bahkan yang tidak akan terjadi).
5. Meyakini bahwa seluruh rincian insiden telah tertulis secara rinci di Lauhul Mahfudz.

Kajian ini juga meluruskan 3 pemahaman menyimpang/sesat terkait takdir:

  • Qadariyah (Majusinya Umat Ini): Menolak takdir dan campur tangan kuasa Allah; meyakini manusia menciptakan tindakannya sendiri secara mutlak.
  • Jabariyah (Gaya Musyrikin): Meyakini manusia bernasib seperti robot/bulu yang ditiup angin, yang dipaksa penuh tanpa diberi hak bebas memilih, sehingga mereka melegalkan maksiat dengan menyalahkan takdir Allah.
  • Pemikiran Iblis: Menggugat dan merasa Allah tidak memiliki hikmah/esensi keadilan di balik penciptaan semesta (misal: menggugat kenapa orang kafir atau babi mesti diciptakan).
Konklusi Ahlussunnah: Manusia tidak mutlak dipaksa, karena manusia diberi akal dan hak menentukan pilihan yang dihisab. Namun, pilihan manusia tetap berada di dalam koridor kuasa Allah. Dengan demikian, buah ranum beriman kepada takdir adalah dapat mencetak pribadi muslim unggul yang senantiasa tawakkal, tidak angkuh, dan tidak pernah putus asa dalam meminta hidayah kepada-Nya.

Mutiara Hari Ini

Abu Zubair Hawaary

"Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."

QS. Al-Jumu'ah (62:10)

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."