بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
🗓️ Rabu, 12 Februari 2025
🏢 Masjid Al Hidayah, Purwosari, Sleman
Melanjutkan pembahasan Buku Pengantar Aqidah, catatan ke-18, fitrah manusia akan keberadaan pencipta, meyakini sangat pencipta itu ada, Allah سبحانه و تعالى berfirman;
Hقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,[Ar-Rum Ayat 30]
Sejalan dengan fitrah adalah sejalan dengan nurani (pemahaman mendasar yang dimiliki hamba tanpa melalui proses mencari), sehingga fitrah itu lurus, sementara penyimpangan itu dari luar, kebenaran mengakui tauhid dan mengakui adanya pencipta adalah bawaan sejak lahir. Penyimpangan dalam masalah aqidah adalah penyusup, sehingga mengajarkan manusia kepada tauhid itu sesuai dengan fitrahnya, sedangkan syirik berlawanan dengan fitrah.
Dari 'Iyāḍ bin Ḥimār Al-Mujāsyi’ī -raḍiyallāhu ‘anhu-, bahwasanya Rasulullah ﷺ pada suatu hari dalam khutbahnya bersabda, Ketahuilah, sesungguhnya Rabb-ku telah memerintahkan kepadaku untuk mengajarkan apa saja yang kalian tidak tahu dari apa-apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hari ini; 'Setiap harta yang Aku berikan kepada hamba-Ku adalah halal. Dan sesungguhnya Aku telah ciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (beragama tauhid), kemudian setan datang kepada mereka lalu mengeluarkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa saja yang Aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka untuk melakukan menyekutukan-Ku padahal Aku tidak pernah menurunkan keterangan tentangnya.' Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi, maka Dia pun murka kepada mereka, kepada bangsa arab maupun bangsa ajamnya (selain arab), kecuali sebagian dari Ahli Kitab. Dia berfirman, Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji orang lain denganmu, dan Aku menurunkan kepadamu sebuah kitab yang tidak bisa dihapus dengan air, kamu bisa membacanya tatkala tidur dan terjaga.' Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar kaum Quraisy, lalu aku berkata, “Wahai Rabb-ku, jika demikian mereka akan memecahkan kepalaku hingga seperti sepotong roti.” Allah menjawab, “Keluarkan mereka sebagaimana mereka mengeluarkan (mengusir)mu, perangilah mereka, (karena) Kami menjadikanmu untuk berperang, berinfaklah maka Kami akan berinfak untukmu, utuslah pasukan perang, akan Kami utus lima kali pasukan yang engkau utus, dan berperanglah bersama-sama dengan orang yang mentaatimu terhadap orang yang membangkang padamu (bermaksiat kepadamu). Dia berkata, Penduduk surga ada tiga golongan, yaitu penguasa yang adil, dermawan dan mendapatkan petunjuk dari Allah; seorang yang penyayang dan lembut hatinya kepada setiap kerabatnya dan setiap Muslim; dan seseorang yang menjaga diri dari kemaksiatan, tidak mengemis meskipun memiliki banyak tanggungan. Dia berkata, Sedangkan penghuni neraka ada lima golongan orang lemah yang tiada menggunakan akalnya, mereka hanya menjadi pengikut dan tiada berusaha mencari harta dan mengurus keluarga; pengkhianat yang tamak, biarpun perkara kecil dikhianatinya juga; orang yang di waktu pagi dan petang senantiasa menipumu keluarga dan hartamu; (dan dia menyebutkan) Orang bakhil (pelit) atau pembohong; dan orang yang suka berkata kotor.[Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Muslim]
catatan ke-19, penjelasan aqidah itu sudah lengkap, Allah Azza wa Jalla berfirman;
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah5 3]
Imam Malik berkata,
“Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru (bid’ah) di dalam agama ini sedangkan ia menganggap baik perbuatan tersebut maka sungguh ia telah menuduh Nabi Muhammad telah berbuat khianat, karena Allah ta’ala telah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah 3). Maka perkara yang pada hari ayat ini diturunkan bukan agama maka sekarang juga bukan merupakan agama.” (Al-I’tishom, 149, dinukil dari ‘Ilmu Usul Bida’, 20)
Wallahu 'alam