1

Video Kajian

Jika video tidak dapat diputar, silakan Tonton di YouTube.

Tentang Kajian Ini

Kajian pertemuan ke-38 dalam seri Kitab Bulughul Maram 2 yang membahas tentang fiqih witir. Ammi Nur Baits, S.T., B.A. memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.

2

Ringkasan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Fiqih Witir

Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى

🗓️ Selasa, 28 November 2023

🏢 Masjid Ulil Albab UII Yogyakarta

Berikut hadits-hadits tentang shalat witir dalam Kitab Bulughul Maram, antara lain ;

نِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «اجْعَلُوا آخِرَصَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda, “Jadikanlah shalat witir sebagai penutup shalat malam.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1998 dan Muslim, no. 751, 151]

Kemudian sabda Nabi ﷺ,

اَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ

“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi no. 470, Abu Daud no. 1439, An Nasa-i no. 1679. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sebagaimana shalat sunnah yang lainnya maka shalat witir juga ada aturannya, sehingga tidak boleh menyelisihi apa yang telah ditetapkan dalil.

نْ أُبَيِّ بْنِ كَعبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بـِ{{سَبِّحِاسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى }}، وَ{{قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ }}، وَ{{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ }}. رَوَاهُأَحْمَدُ، وَأبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائيُّ. وَزَادَ وَلاَ يُسَلِّمُ إلاَّ في آخِرهِنَّ.

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah ﷺ biasanya shalat witir dengan membaca surah Al-A’laa, Al-Kaafiruun, dan Al-Ikhlas.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasa’i. An-Nasai’ menambahkan, “Beliau tidak salam kecuali pada rakaat terakhir.”) [HR. Ahmad, 3578; Abu Daud, no. 1423; An-Nasai, 3235. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3329 menyatakan bahwa sanad hadits ini sahih].

لأبِي دَاوُدَ، والتِّرْمِذِيِّ نَحْوُهُ عَنْ عَائِشَةَ وَفيهِ كُلُّ سُورَةٍ فِي ركْعَةٍ، وَفِي الأخيرَةِ {{قُلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ }}، وَالمُعَوِّذَتَيْنِ.

Hadits yang serupa dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan di dalamnya, “Masing-masing surah untuk satu rakaat dan dalam rakaat terakhir dibaca surah Al-Ikhlas dan mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas).” [HR. Abu Daud, no. 1424; Tirmidzi, no. 463; Al-Hakim, 2520-521; Ibnu Majah, 1357. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3330-331 menyatakan bahwa hadits ini memiliki syawahid atau penguat, tetapi tidak menyebutkan mu’awwidzatain yaitu surah Al-Falaq dan An-Naas bersama dengan surah Al-Ikhlas].

Wallahu 'alam

Mutiara Hari Ini

Abu Zubair Hawaary

"Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."

QS. Al-Jumu'ah (62:10)

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."