بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Kultus Kuburan Orang Shalih
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Senin, 7 Juli 2025
🏢 Masjid Al Muhsinin, Wirokerten, Yogyakarta
Melanjutkan pembahasan kajian Al Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At Tauhid, pada bab Berlebih-lebihan Terhadap Kuburan Orang-orang Shalih Menjadi Penyebab Dijadikannya Sesembahan Selain Allah, makna Ghuluw adalah tindakan melampaui batas, lawannya adalah kurang dari batas disebut jafa' (meremehkan), setan menggoda dari 2 sisi ini yakni ghuluw (ifrath) dan jafa'(tafrith). Praktek terhadap kuburan ada yang ghuluw sekaligus jafa', seperti memasang kijing di satu kuburan namun disaat bersamaan menginjak-injak & menduduki kuburan sekitarnya.
Dan para sahabat pun belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) disekitar kuburan beliau, karena setiap tempat yang digunakan untuk shalat berarti telah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk shalat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ
Imam Malik meriwayatkan dalam kitabnya Al Muwattha’, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada orang-orang yang telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah”.
Seperti apa yang dilakukan kaum Syiah di kuburan Husein, & kaum Sufi yang merayakan Haul di kuburan orang yang dianggap wali. Mereka meyakini ada keberkahan sehingga ngalap berkah di kuburan orang shalih, padahal ada larang dari Nabi ﷺ.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dengan sanadnya dari Sufyan dari Mansur dari Mujahid, berkaitan dengan ayat
فَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ
“Jelaskan kepadaku (wahai kaum musyrikin) tentang (berhala yang kamu anggap sebagai anak perempuan Allah) Al lata dan Al Uzza.” (QS. An Najm 19).
Ia (Mujahid) berkata “Al latta adalah orang yang dahulunya tukang mengaduk tepung (dengan air atau minyak) untuk dihidangkan kepada jamaah haji. Setelah meninggal, merekapun senantiasa mendatangi kuburannya.”
Demikian pula penafsiran Ibnu Abbas sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnul Jauza’ “Dia itu pada mulanya adalah tukang mengaduk tepung untuk para jamaah haji.”
Ghuluw terhadap kuburan orang shalih merupakan sarana untuk melakukan perbuatan kesyirikan yang bertentangan dengan tauhid karena orang menyembah orang yang telah mati.
Wallahu 'alam