بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
🗓️ Sabtu, 23 Agustus 2025
🏢 Masjid Baiturrahman, Kulonprogo, Yogyakarta
Hamba yang Allah kehendaki kebaikan akan dimudahkan untuk menuntut ilmu agama, sebagaimana hadits dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
ن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).
Cara mendapatkan ilmu agama adalah dengan belajar bukan diperoleh dari mimpi-mimpi, dalilnya hadits dari Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dengan lafadz:
ا أيها الناسُ! إنما العلم بالتعلّمِ، والفقهُ بالتفقه، ومن يُرِدِ الله به خيراً يفقهه في الدين، و {إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}
“Wahai manusia, sesungguhnya ilmu hanya bisa diraih dengan mempelajarinya, fikih hanya bisa diraih dengan cara bertafaqquh (berusaha untuk menjadi faqih), dan siapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, maka Allah akan faqihkan ia dalam agama. ‘Dan sesungguhnya yang paling berhak untuk takut kepada Allah dari hamba-hambaNya hanyalah para ulama.'” (HR. Thabrani)
Pembahasan kajian pagi ini kita akan dimotivasi untuk melakukan amal jariyah, berdasarkan sabda Nabi ﷺ dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Kita butuh pada amal jariyah karena usia kita pendek, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ berikut:
عْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah: 4236, Syaikh Al Albani mengatakan: hasan shahih).
Jadi dengan umur yang pendek, diharapkan memiliki amal yang akan terus mengalir pahalanya walaupun telah meninggal dunia, kita bisa melihat para ulama memiliki karya-karya ilmiah yang bisa diambil manfaatnya oleh generasi setelahnya walaupun para ulama tersebut telah wafat, seperti Imam Syafi'i dengan Kitab Al Umm, Imam Bukhari dengan Shahih Bukhari. Semua manusia berangkat dari kondisi yang sama, namun Allah memberikan karunia bagi siapa yang dikehendakiNya untuk menghasilkan amal jariyah, Allah berfirman dalam Surat An-Nahl Ayat 78;
ٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Amal jariyah dijelaskan dalam firman Allah Surat Yasin Ayat 12;
إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ
Artinya: Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Pendapat yang pertama, bahwa Kami mencatat amal perbuatan yang mereka kerjakan dengan diri mereka sendiri, dan jejak-jejak mereka yang dijadikan suri teladan setelah mereka tidak ada, maka Kami membalas hal itu juga, jika kebaikan, maka balasannya kebaikan, dan jika keburukan, maka balasannya keburukan.Pendapat kedua, mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah langkah-langkah mereka menuju kepada ketaatan atau kemaksiatan.[Tafsir Ibnu Katsir]
Wallahu 'alam