1

Video Kajian

Jika video tidak dapat diputar, silakan Tonton di YouTube.

Tentang Kajian Ini

Kajian pertemuan ke-27 dalam seri Buku Prinsip Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang membahas tentang sikap terhadap sengketa sahabat. Ammi Nur Baits, S.T., B.A. memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.

2

Ringkasan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sikap Terhadap Sengketa Sahabat

Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى

🗓️ Kamis, 10 Juli 2025

🏢 Masjid Al Hidayah, Purwosari, Yogyakarta

Melanjutkan pembahasan Buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, perihal sikap terhadap sengketa sahabat, ahlus sunnah bersikap menahan diri dari sengketa yang terjadi diantara para sahabat, berbeda dengan sikap Syiah Rafidhah yang mencaci maki para sahabat, serta berlepas diri dari Nawashib yang menyakiti Ahlul Bait baik dengan lisan & perbuatannya. Ahlus sunnah meyakini bahwa riwayat yang menunjukkan perselisihan & keburukan diantara para sahabat adalah ;

1. Dusta

2. Ada yang ditambah atau dikurangi

3. Ada yang diselewengkan dari yang sebenarnya

Sementara dalam riwayat yang shahih, para sahabat dimaafkan, karena mereka berijitihad, bisa benar bisa pula salah. Namun bukan berarti individu para sahabat itu ma'shum dari dosa-dosa besar maupun kecil. Bahkan ada yang melakukan dosa-dosa sebagaimana anak adam namun mereka memiliki keutamaan karena lebih dulu beriman dan mempunyai keutamaan yang dapat menghapuskan dosa-dosa sehingga mereka diberikan ampunan yang tidak dimiliki orang-orang sesudahnya.

Ada 3 sikap ahlus sunnah yakni ;

1. Terhadap para Sahabat

2. Terhadap para Ahlul Bait (muslim)

3. Terhadap perselisihan diantara para sahabat

Ada beberapa macam perselisihan di zaman sahabat;

1. Beda aqidah ; mukmin, kafir, munafik

2. Urusan muamalah ; utang piutang & urusan muamalah lainnya, ini tidak mempengaruhi aqidah maupun ibadah

3. Masalah politik ; sampai terjadi peperangan diantara mereka, pengalihan kekuasaan, namun tidak ada sikap saling mengkafirkan

Kisah Ali bin abi thalib dengan khawarij, beliau ditanya siapakah orang orang ini wahai amirul mukminin, apakah mereka adalah orang² yang Kafir?

ال؛ من الكفر فروا

Mereka ini adalah orang yang sedang lari dari kekafiran.

Artinya mereka bukan orang yang kafir tapi justru mereka adalah orang yang takut dengan kekafiran. Dalam sabda Nabi ﷺ dijelaskan tentang kaidah pengkafiran

نْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:«لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالفُسُوقِ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ».

[صحيح] - [متفق عليه] - [صحيح البخاري: 6045]

Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa dia telah mendengar Nabi ﷺ bersabda,

"Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekafiran, melainkan kalimat tersebut akan kembali kepadanya jika orang yang dituduh tidak seperti itu."[Sahih] - [Muttafaq 'alaihi] - [Sahih Bukhari - 6045]

Nabi ﷺ mengingatkan bahwa orang yang berkata pada yang lain: Engkau fasik atau engkau kafir; jika orang tersebut tidak seperti yang dia katakan, maka dialah orang yang pantas menyandang sifat tersebut dan ucapannya itu kembali kepada dirinya. Adapun jika dia benar seperti yang ia katakan, ucapannya itu tidak kembali kepadanya sedikit pun lantaran ia benar dalam ucapannya.

Wallahu 'alam

Mutiara Hari Ini

Abu Zubair Hawaary

"Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."

QS. Al-Jumu'ah (62:10)

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."