Seruan Tauhid: Misi Abadi Para Rasul
Alhamdulillah, kita melanjutkan kajian Surat Fussilat masuk pada ayat ke-14. Allah SWT menjelaskan bahwa dakwah para nabi dan rasul—seperti Nabi Hud kepada kaum Ad dan Nabi Saleh kepada kaum Tsamud—selalu berporos pada satu titik sentral:
Tauhid. Allah berfirman bahwa para rasul datang kepada mereka dari berbagai arah (
min baini aidihim wamin khalfihim) dengan seruan:
"Janganlah kalian menyembah kecuali hanya kepada Allah."Inilah pondasi dakwah yang benar. Apapun masalah yang dihadapi suatu kaum, para rasul tidak pernah bosan mendakwahkan tauhid. Mengapa? Karena baiknya tauhid akan memperbaiki segala hal; akhlak, muamalah, hingga ketaatan dalam beribadah. Sebaliknya, lemahnya tauhid menjadi akar dari berbagai kemaksiatan, kesombongan, dan kezaliman.
Ragam Metode Dakwah
Ayat ini juga mengisyaratkan fleksibilitas dalam berdakwah. Istilah "datang dari depan dan belakang" menunjukkan berbagai cara yang ditempuh para rasul. Ada yang secara terang-terangan (
jihara), ada yang secara rahasia (
israra), ada yang lembut, dan ada yang tegas.
Dakwah harus melihat siapa yang dihadapi. Ada orang yang hatinya lembut sehingga cukup diberi isyarat sedikit sudah paham. Ada pula yang harus ditunjukkan secara detail mana yang boleh dan mana yang dilarang. Seorang dai atau penuntut ilmu harus memiliki kapasitas untuk menyesuaikan cara penyampaian agar pesan kebenaran dapat diterima dengan baik oleh berbagai tipe manusia.
Tragedi Kesombongan Kaum Ad
Pada ayat ke-15, Allah menyoroti kesombongan kaum Ad yang merasa sangat kuat. Mereka berkata,
"Man asyaddu minna quwwah?" (Siapa yang lebih kuat daripada kami?). Mereka tertipu oleh karunia kekuatan fisik dan peradaban yang Allah berikan.
Kesombongan (Kibar) didefinisikan oleh Nabi ﷺ sebagai batarul haqq wa ghamthun-nas (menolak kebenaran dan meremehkan manusia). Kaum Ad menolak kebenaran risalah Nabi Hud hanya karena merasa diri mereka superior. Allah membantah mereka dengan satu fakta sederhana: Dialah yang menciptakan mereka, maka sudah pasti Dialah yang jauh lebih kuat dari mereka. Kesombongan terhadap Allah adalah puncak dari segala keburukan.
Adab Penuntut Ilmu
Sebagai penutup, kita diingatkan tentang perintah Allah kepada Nabi ﷺ untuk senantiasa meminta tambahan ilmu:
"Waqul Rabbi zidni 'ilma". Di dalam Al-Qur'an, tidak ada perintah bagi Nabi untuk meminta tambahan apapun kecuali ilmu. Hal ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan ilmu dalam Islam.
Namun, ilmu yang agung ini harus dibarengi dengan niat yang benar. Sebagaimana pesan Imam Ahmad, ilmu tidak ada tandingannya bagi orang yang niatnya benar. Niat yang benar adalah belajar untuk mengetahui kebenaran, untuk mengamalkannya, dan untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri, bukan untuk menjadi sombong atau merasa lebih hebat dari orang lain.